Benarkah Proyek Apartemen Pollux Habibie Miring? Ini Penjelasan Pihak Meirsterstadt Pollux Habibie

Benarkah Proyek Apartemen Pollux Habibie Miring? Ini Penjelasan Pihak Meirsterstadt Pollux Habibie

Meirsterstadt Pollux Habibie Batam (Foto: Batamnews)

Batam - Anggota Komisi III DPRD Kota Batam mempertanyakan mengenai dugaan bangunan Apartemen Pollux Habibie yang miring. Hal itu menyusul jebolnya tembok pembatas antara proyek Pollux Habibie itu dengan rumah warga Citra Batam.

Namun General Affair PT Pembangunan Perumahan Turut membantah bangunan Meirstertadt tersebut miring.

Menurutnya, untuk mengetahui gedung tersebut miring atau tidak, harus berdasarkan serangkaian pengujian. 

"Tapi kita sudah uji, tidak miring," ujar Turut. Turut membenarkan, untuk lebih detail, memang harus ada lembaga khusus atau independen yang menguji mengenai tudingan tersebut.

Termasuk soal pagar pembatas dari Pollux yang ambruk bukan dikerjakan kontraktor PP, namun kontraktor Matsumoto.

"Jadi PP membangun apartemen, sedangkan Matsumoto membangun unit ruko, dan kontraktor lain membangun proyek lain, jadi kita beda," ujar Turut.

Jadi, mengenai runtuhnya tembok pembatas apartemen dengan perumahan warga, Turut mengaku, bukan bagian dari tanggungjawab PT PP.

General Manager Sales dan Marketing PT Pollux International Habibie, Richie Laseduw juga mengatakan, siap bertanggungjawab terhadap kejadian ambrul dan jebolnya pagar pembatas akibat hujan deras.

Ia pun mengaku pembangunan tersebut sudah memiliki analisis dampak mengenai likungan (Amdal) dan perencanaan yang matang. 

"Kalau belum ada tak mungkin kami berani membangun apartemen sebesar ini," ujar Richie.

Namun demikian, hingga saat ini Pollux memang tak memiliki konsep yang matang mengenai pembuatan jalur air atau saluran air agar tidak terjadi banjir tersebut. 

"Karena bakal ada pelebaran jalan di depan, jadi kita belum bisa buat yang terintegrasi," ujar Richie.

Jerat pidana

Bambang Yulianto SH

Pengamat hukum di Batam, Bambang Yulianto menilai aparat penegak hukum bisa memproses kasus ambruknya bangunan proyek Pollux Habibie di Batam, Kepri. Pasalnya, kejadian itu menimbulkan korban harta benda warga Citra Batam.

Artinya, sudah ada pihak yang dirugikan. Beberapa yuriprudensi juga terjadi di beberapa tempat.

Bambang mengatakan, bisa saja kejadian itu akibat kelalaian dan tidak adanya perencanaan yang matang dari pihak pengembang, termasuk mengenai Amdal dari pembangunan proyek tersebut.

Kejadian ambruknya bangunan pembatas antara proyek Pollux Habibie dengan perumahan Citra Batam itu terjadi pada Rabu sore. Material serta air bah menghantam belasan rumah warga. 

Air beserta lumpur masuk ke rumah warga. Beberapa kendaraan bermotor rusak akibat kejadian itu.

"Silahkan diperiksa untuk audit management kontruksi agar nantinya bisa ditemukan pelanggaran," ujar Bambang kepada Batamnews, Kamis sore.

Bambang menambahkan, jika ditemukan penyimpangan, yang bisa membuat pihak lain celaka dan merugi, maka bisa dijerat tindak pidana.

"Kalau diketemukan pelanggaran setelah dilakukan pemeriksaan audit manajemen bisa dijerat pasal 359 KHUP," ujar Bambang.

Dampak buruk bagi warga

Rumah warga yang dihantam material bangunan proyek Pollux Habibie

Komplain terhadap pembangunan proyek mega proyek Pollux Habibie sebenarnya sudah lama terjadi. Sejak 5 tahun lalu. Warga menduga pembangunan tersebut tidak berdasarkan perencanaan yang matang.

Ketua RT 02 RW 01, Yogi Subroto Hadi Hartono, membenarkan hal tersebut. Pasalnya berjalannya proyek ini memberikan dampak buruk bagi pemukiman sekitar. 

Bahkan keluhan tersebut sempat disampaikan ke Polsek Batam Kota hingga hearing ke DPRD Kota Batam. 

"Pelaporan dari warga ke aparat juga sempat ada baik dari warga kami maupun perumahan Livia. Harusnya dari situ jadi perhatian mereka," katanya saat ditemui, Rabu (29/1/2020).

Untuk komunikasi dengan pihak Pollux, juga diakui Yogi terus berlangsung, melalui konsultan Pollux, namun tidak ada titik temu.

"Komunikasi masih ada antara mereka, ada tiga bulan lalu kami terakhir komunikasi sekitar November. Sepertinya sama kita diakui kurang nyambung karena apa yang kita sampaikan responsif nya kurang," ungkapnya. 

Hingga musibah robohnya dinding pembatas terjadi, harusnya hal tersebut bisa dicegah dengan perhitungan yang tepat dari kontraktor Pollux. 

"Harapan kita dari pollux sesegera mungkin untuk memperhatikan dan malam ini segera mungkin untuk mengangkat puing-puing yang ada agar warga bisa segera masuk ke rumah kalau hanya kami saja ga bisa," pintanya. 

Saat Yogi belum bisa menyebutkan total keseluruhan rumah terdampak, sedangkan warga yang berada di rt 02 saja disebutnya ada sekitar 30 KK. 

(jim)