Rumah Warga Suku Laut Lingga di Pulau Kuang Menunggu Ambruk

Anggota Komisi III DPRD Lingga, Sui Hiok berada di salah satu rumah warga Pulau Kuang yang kondisinya memprihatinkan (Foto:istimewa)

Lingga - Warga Suku Laut asli Lingga, yang bermukim di Pulau Kuang, Desa Tanjung Kelit, Kecamatan Bakung Serumpun, perlahan mulai terabaikan. Pulau dihuni sekitar 31 kepala keluarga (KK) ini jauh dari perhatian pemerintah daerah.

Anggota Komisi III DPRD Lingga, Sui Hiok pun mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Ia mengungkapkan, kondisi rumah warga di Pulau Kuang ini sudah sangat parah. Bahkan, jika tak mendapat perhatian, akan roboh dengan sendirinya.

"Pulau Kuang ini diperuntukkan untuk orang suku laut yang tinggal di sampan. Kemudian mereka dibangun rumah oleh Dinas Sosial, itu ketika Lingga masih dalam Kabupaten Kepulauan Riau. Belum pemekaran lagi. Tapi sekarang kondisi rumah mereka sudah sangat parah dan belum ada perhatian dari Pemda melalui instansi terkait," ujar Sui Hiok kepada Batamnews, Kamis (19/12/2019).

Ia menjelaskan, warga suku laut di Pulau Kuang sudah bisa beradaptasi tinggal di darat. Anak-anak mereka sudah ada yang menempuh pendidikan formal. Tapi sayangnya, kondisi ini tak didukung dengan kondisi tempat mereka bermukim.

Sui Hiok saat memantau salah satu rumah warga di Pulau Kuang (Foto:istimewa)

"Dari sekitar 22 rumah yang ada, sudah ada beberapa rumah yang tumbang alias roboh. Saat itu kalau tidak salah sudah ditinjau dari pemerintahan desa, BPBD dan Dinas Sosial, tapi tidak ada tindak lanjut sampai sekarang," sebutnya.

Dengan kondisi demikian, ada diantara mereka yang terpaksa menumpang tinggal di rumah kerabatnya, seperti di Desa Pasir Panjang dan sekitarnya. Bahkan yang lebih miris, kondisi demikian bisa membuat anak-anak mereka putus sekolah.

"Saya rasa, tahun depan semua rumah yang ada di Pulau Kuang akan roboh semuanya. Pada saat saya reses disana, Pak RT nya, Bujang sambil menangis bercerita ke saya. Beliau tidak mampu lagi membantu warganya karena kondisi kerusakan rumah mereka sudah sangat parah. Sementara mereka kerjanya hanya nombak ikan dan potong kayu saja," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa masyarakat setempat mengharapkan adanya bantuan alat tangkap seperti sampan dan lampu setrongkeng. "Maka itu saya sangat harap Dinas Sosial agar meninjau kesana. Pulau ini sangat menyedihkan," pungkas Sui Hiok.

(ruz)