https://www.batamnews.co.id

Inflasi Intai Kepulauan Riau Pada September 2019

Ilustrasi.

Batam - Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) pada Agustus 2019 tercatat mengalami deflasi. Setelah 4 bulan terus mengalami inflasi akibat harga cabai dan tinggi biaya penerbangan transportadi udara. 

Deflasi Kepri pada Agustus 2019 tercatat sebesar 0,80% (mtm). IHK Kepri juga lebih rendah dibandingkan IHK Nasional pada Agustus 2019 yang mengalami inflasi sebesar 0,12% (mtm). 

Namun mencermati perkembangan inflasi terkini, Tim Pengendali Inflasi Kepri (TPID) IHK Kepri, memperkirakan pada September 2019 Kepri kembali mengalami inflasi. 

"Perlu diwaspadai beberapa risiko inflasi ke depan, namun diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional pada 2019 yaitu sebesar 3,5 ± 1% (yoy)," kata Wakil Ketua TPID Kepri, Fadjar Majardi, Kamis (5/9/2019). 

Beberapa potensi risiko pendorong inflasi di Kepri pada September 2019 antara lain. Potensi peningkatan harga komoditas ikan laut menjelang musim angin utara dan kenaikan harga sayuran setelah mengalami deflasi yang cukup dalam dua bulan berturut-turut. 

Gelombang laut yang tinggi menjelang akhir tahun dapat mengganggu proses distribusi logistik dan mengurangi ketersediaan pasokan bahan makanan. Gangguan produksi di sentra penghasil disebabkan oleh kemarau berkepanjangan berpotensi mengurangi pasokan bahan makanan ke Kepri. 

"Tren peningkatan harga emas dunia hingga saat ini, juga diperkirakan dapat kembali memicu kenaikan inflasi kelompok inti (emas perhiasan)," ungkapnya. 

Sejalan dengan langkah pengendalian inflasi yang dilakukan pada tahun 2018, pengendalian inflasi tahun 2019 tetap difokuskan untuk meneruskan kebijakan 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif). 

Secara tahunan, inflasi Kepri pada Agustus 2019 tercatat sebesar 3,23% (yoy) memang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,50% (yoy) maupun IHK Nasional pada Agustus 2019 sebesar 3,49% (yoy). 

"Dengan perkembangan tersebut, inflasi Kepri hingga Agustus 2019 tercatat sebesar 1,56% (ytd) dan masih dalam kisaran sasaran inflasi 3,5 ± 1% (yoy) pada akhir tahun 2019," kata Fadjar.

Deflasi Kepri pada Agustus 2019 bersumber dari penurunan harga kelompok bahan makanan dan transpor, telekomunikasi dan jasa keuangan. Kelompok transpor, telekomunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 2,63% (mtm) dengan andil -0,54% (mtm). 

Komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok ini karena penurunan tarif angkutan udara yang mengalami deflasi sebesar 12,07% (mtm) dengan andil -0,54% (mtm) diperkirakan karena normalisasi setelah usainya masa Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta pengaruh kondisi low season. 

Sementara, kelompok bahan makanan juga mengalami deflasi sebesar 2,77% (mtm) dengan andil -0.65% (mtm). Komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok ini adalah bayam yang mengalami deflasi sebesar 48,06% (mtm) dengan andil -0,43% (mtm) diperkirakan karena telah terpenuhinya pasokan. 

Secara spasial, Batam dan Tanjungpinang mengalami deflasi. Batam tercatat mengalami deflasi sebesar 0,86% (mtm) atau 3,32% (yoy), dibandingkan bulan lalu yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm) atau 3,53% (yoy). 

Adapun Tanjungpinang mengalami deflasi sebesar 0,38% (mtm) atau 2,69% (yoy), dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,57% (mtm) atau 3,32% (yoy). Komoditas utama penyumbang deflasi di Batam dan Tanjungpinang adalah tarif angkutan udara dan bayam.

(das)