Cuaca Buruk, Nelayan Bintan Beralih Tangkap Ketam
Nelayan Desa Malang Rapat saat melepas ketam yang tersangkut di dalam jaring. (Foto: Ary/Batamnews)
Bintan - Akhir-akhir ini perairan Kabupaten Bintan sedang dilanda cuaca buruk. Bahkan BMKG Tanjungpinang memberikan peringatan waspada bagi seluruh pihak yang beraktivitas di perairan Bintan khususnya wilayah Timur Bintan.
Bedasarkan prakiraan cuaca, Bintan mengalami musim angin tenggara-selatan dengan kecepatan angin mencapai 19 Km/jam atau 1-10 Knot. Kemudian tinggi gelombang lautnya berkisaran 1-2,5 meter. Hal ini sangat membahayakan keselamatan jiwa nelayan maupun masyarakat yang berdomisili di pesisir.
Cuaca yang kurang bersahabat itu membuat nelayan-nelayan di Bintan berlaih aktivitas dari mencari ikan ke laut lepas (Laut China Selatan) menjadi menangkap ketam atau kepiting. Seperti yang dilakukan Jon, nelayan asal Desa Malang Rapat ini.
“Kalau angin dan gelombang masih tenang kami cari ikan ke laut lepas. Jadi bisa sebulan sekali pulang ke rumah namun sekarang kami tak berani karena cuaca sangat buruk. Makanya kami beralih tangkap ketam saja,” ujar bapak empat anak ini, Kamis (29/8/2019).
Apabila aktivitas mencari ikan tetap dilakukan, kata Jon, hasilnya tidak seperti saat kondisi cuaca tenang melainkan menurun drastis. Seperti Ikan Merah atau Tenggiri masih bisa didapat namun tidak banyak sedangkan ikan yang lain sangat sulit.
Untuk menangkap ketam dia harus mengemudikan pompong sejauh 9 mill dari Desa Malang Rapat. Sebab area yang banyak ketam berada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.
“Nangkap ketam pakai jaring aja. Tapi lokasi pemasangan jaring ketam itu 9 mill dari pantai atau menelan waktu 2 jam ke sana,” jelasnya.
Jaring ketam yang telah dipasang tidak bisa diangkat pada hari itu juga. Tetapi harus dilakukan pada esok harinya. Sehingga jumlah ketam yang terperangkap ke dalam jaring banyak.
Rutinitas ini sangat membantu memenuhi kebutuhan hidup nelayan ketika cuaca buruk. Namun adakalanya mereka mengalami nasib apes yaitu saat nelayan pukat besar melintas seluruh jaring yang dipasang akan rusak.
”Jaring ketam di laut perbatasan memang cukup banyak dibandingkan pasang bubu dekat pantai. Hasilnya sangat lumayan dan harga jualnya pun bagus. Makanya nelayan yang lakukan rutinitas ini turun secara berkelompok,” ucapnya.
(ary)
Komentar Via Facebook :