Imigran Asing di Tanjungpinang Rela Makan Sekali Sehari Demi Sampaikan Aspirasi

Imigran Asing di Tanjungpinang Rela Makan Sekali Sehari Demi Sampaikan Aspirasi

Para imigran asing unjuk rasa meminta keadilan di depan Kantor perwakilan IOM Tanjungpinang (Foto: Adi/Batamnews)

Dodo

Tanjungpinang - Unjuk rasa imigran asing yang ditempatkan sementara di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau berlanjut. Aksi itu dimaksudkan agar tujuan para imigran ini diperhatikan oleh pihak terkait.

Kali ini, mereka kembali menggelar demonstrasi di depan kantor perwakilan International Organization for Migration (IOM) Jalan Peralatan, Kilometer 7, Tanjungpinang, Senin (19/8/2019) pagi.

Dalam aksi tersebut, mereka meminta penjelasan United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR) mengenai proses pemindahan mereka ke negara ketiga. Bahkan, mereka juga rela makan sekali sehari demi aspirasi bisa didengar dan ditindaklanjuti oleh pemangku kebijakan.

David Alzahara salah satu imigran asal Afganistan mengatakan, unjuk rasa itu mendesak UNHCR agar memindahkan mereka ke negara ketiga, sebab mereka telah lama di Indonesia.

"Saya sendiri sudah tujuh tahun di sini, hanya tidur dan makan saja," kata David Alzahara, Senin (19/8/2019).

Ia menyebutkan, hingga unjuk rasa keenam ini, UNHCR juga belum memberikan penjelasan mengenai kendala pemidahan ratusan imigran itu ke negara ketiga.

"Sudah ada pertemuan dengan UNHCR kemarin, mereka tidak ada jelas apa-apa, mereka minta kami jangan unjuk rasa lagi," ujarnya.

David menuturkan, mendengar kabar kembali terjadi pengeboman di Afganistan membuat hatinya resah dan sedih, sebab sekitar ratusan orang tewas atas kejadian itu.

"Sedih dan tidak bisa ngapain-ngapain, makanya kami semangat melakukan unjuk rasa," sebutnya.

Baca: Ratusan Imigran Asing Kembali Unjuk Rasa di Kantor IOM Tanjungpinang

Ia menceritakan, akibat perperangan itu dirinya terpaksa berpisah dengan pihak keluarga dan kini ia pun tidak mengetahui bagaimana keadaan orang tua dan adiknya itu.

"Dulu ketika berusia 18 tahun, pertama kami lari ke Iran, setelah itu kami berpisah, saaya memiliki dua saudara dan saya anak pertama," jelasnya dengan  bahasa Indonesia yang pasif.

Ia menyebutkan, dirinya hingga tiba ke Indonesia menghabiskan uang senilai $20 ribu US pada tahun 2012. "Mereka bertahan mungkin karena gak ada uang, hari-hari ada kerusuhan dan peperangan," ujarnya.

(adi)
 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :