Film Hotel Mumbai: Bangkitnya Teror 2008 di India

Hotel Mumbai/Foto: Icon Film Distribution

Aksi terorisme di Film Mumbai 2019 memang mengerikan, brutal, dan keji. Film teror yang mengatasnamakan Islam itu diambil dari kisah nyata kejadian 2008 silam.

Sayangnya, penanyangan film ini tidak lama setelah teror penembakan di Selandia Baru beberapa waktu lalu. Isu konflik agama, ras maupun suku belum seutuhnya reda.

Belum lagi, permasalahan video penembakan Selandia Baru di media sosial dibuat dan dibagikan pelaku secara live. Bahkan disebutkan video itu sengaja dibuat untuk menyampaikan teror yang sebenarnya.

Sehingga pemerintah dan platform media sosialpun kewalahan menghapus jutaan video yang sudah tersebar, lalu bagaimana dengan film ini. Belum lagi tentu tidak secara keseluruhan sutradara film ini menyadur kisah nyata itu sesempurna mungkin.

Seperti dikatakan hasil review Tempo.co, bahwa mungkin bisa jadi ada sebagian yang berpikir di saat kita harus menahan diri membagikan video aksi terorisme di media sosial, apakah sebetulnya layak peristiwa serupa diangkat dalam sebuah film, meski tak semua tokoh dan peristiwa nyata adanya. Tapi melihat teroris bersenang-senang atas kematian, tetap saja membuat dada bergemuruh serta menimbulkan perasaan tak nyaman.

Di tanah air film ini sudah tayang 6 April 2019 lalu. Tidak terlihat pelarangan penanyangan film ini di pemberitaan media, hanya saja beredar informasi Film Hotel Mumbai tidak tayang di negara Selandia Baru.

Adegan teror yang disampaikan dalam Film Mumbai begitu kental tentang simbol-simbol agama. Secara nyata film ini menyajikan propaganda agama mulai dari penyebutan kafir, Islam, dan lainnya.

Disarankan penonton lebih dahulu memahami sejarah teror Hotel Mumbai sebelum duduk di bangku bioskop. Karena film ini, seolah olah luka yang sudah mulai sembuh beberapa dekade lalu kembali disiram air asam untuk kembali menganga dan menyakitkan.

Naskah Film Mumbai dikarang oleh John Collee dan Anthony Maras. Menceritakan kisah nyata kejadian teror yang dilakukan sekitar 10 pemuda di India yang ingin membunuh warga berpasport Amerika dan Inggris, namun ratusan warga India juga ikut tewas ditembaki dan di bom.

Pemuda itu bekerja berdasarkan intruksi sosok misterius dari telpon earphon mereka. Datang ke India mengunakan sampan kecil para pelaku langsung berpencar, satu persatu tempat mulai diteror mereka, terminal, pasar, dan terakhir di Hotel Mumbai.

Dihotel mumbai itu pergulatan emosi terjadi, terutama konflik agama, ras dan suku disajikan. Adegan-adegan yang dibentuk sang sutradara Anthony Maras menguras penonton. Apalagi ketika kinerja kepolisian India disampaikan dalam film, kemarahan akan terjadi di kursi bioskop. Polisi ketika itu bukan menyelamatkan tetapi membuat para sandra tewas.

Ditengah konflik agama itu, Maras mencoba menyajikan pesan-pesan moral. Seperti ketika pelayan hotel Arjun (Dev Patel), chef Hermant Oberoi (Anupan Kher) dan staf hotel rela bertaruh nyawa menjaga ratusan tamu yang ketakutan.

Proses penyelamatan tamu tersebut sangat menarik. Maras tidak memberi jeda penonton untuk hilang dari ketegangan. Tentu penyelamatan ratusan tamu tidak mudah bagi Raju dan pelayan lainnya dengan durasi kedatangan tim khusus penyelamat 12 jam setelah penyerangan pertama, selama itu meraka harus bertahan dari tembakan pemuda yang dijanjikan uang.

Dipesan terakhir film disampaikan pesan bahwa dari 10 pelaku sembilan tewas dan satu ditangkap. Namun sampai sekarang sosok misterius atau dalang teror tersebut masih berkeliaran sampai sekarang.

Film Hotel Mumbai

Sutradara: Anthony Maras

Naskah: John Collee, Anthony Maras

Aktor: Dev Patel, Armie Hammer, Nazanin Boniadi, Anupam Kher, Amandeep Singh

Durasi: 123 menit

 

(Yogi Eka Sahputra)