Mengenal Sosok Haji Iqbal dari Dekat: Aktivis Masjid hingga Aktivis Pasar

Haji Iqbal (kiri) bersama Ustad Abdul Somad dalam sebuah kesempatan (Foto: Ist)

Rasulullah shallallahu alaihi wa shallam menyadari membangun masyarakat Madinah tidak cukup hanya dengan semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Anshor. 

Ini hanya tahapan awal. Proses ini masih berkelanjutan. Maka, ketika urusan Muhajirin dan Anshor sudah selesai barulah Rasulullah mulai bicara 'pasar'. Da'wah itu butuh logistik. 

Dakwah itu butuh biaya besar. Dan aspek ini hanya bisa terpenuhi dengan membangun pasar. Ekonomi harus kuat.

Di sinilah Pak Haji Iqbal bermain. Beliau menjembatani antara Masjid dan Pasar. Saya berulang kali membaca guratan fikirannya. Bahwa umat ini butuh kompor. 

Yang bisa menyalakan api dakwah. Da'wah ini harus mandiri dan punya wibawa. Umat ini hanya akan terhormat bila bisa berdiri di atas kaki sendiri. Maka kita harus punya pasar. 

Saya lihat tokoh masyarakat Batam yang bicara seperti ini beliau yang paling gesit. Jadi beliau ini bukan hanya aktivis Masjid tapi juga aktivis Pasar.

Kita butuh sosok yang bisa menkoneksikan antara Masjid dan Pasar. Antara ritual dan ekonomi. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan. 

Dan sosok itu ada dalam diri Pak Haji Iqbal. Setelah  lama merintis jejak peradaban di dalam Masjid. Dan kini, dengan beberapa kawan pengusaha beliau yang punya ide yang sama telah berhasil merintis Mini Market 212 di Batam. Bisa kita jumpai di beberapa tempat di Batam. 

Benar kata almarhum Muhammad Natsir, harus ada yang bisa menkoneksikan antara Masjid (Ibadah), Pasar (Ekonomi) dan Negara (Politik). Pak Haji Iqbal sedang menuju ke etape ke tiga ini. Seperti apa strategi dan langkah beliau di politik, simak kisah selanjutnya.

Abu Riyadh Mallaniung

 

SHARE US :

Berita Terkait