Sulitnya Lapangan Kerja, Sejumlah Warga Lingga Gantungkan Hidup di Dapur Arang

Pekerja Dapur Arang Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur (Foto:Ruzi/Batamnews)

Lingga - Kehadiran Dapur Arang (Panglong) disejumlah desa yang ada di Kabupaten Lingga  Kepulauan Riau, mampu membantu perekonomian warga setempat. Meski tak semua warga bekerja di Dapur Arang ini, tapi setidaknya keberadaannya mampu mempekerjakan puluhan orang.

Koordinator atau penanggung jawab Dapur Arang Desa Kudung, Sogini mengatakan, ditempatnya ada lebih dari 40 orang pekerja, 13 diantaranya merupakan ibu-ibu. Mereka bekerja untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga ditengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan.

"Kalau ibu-ibu itu upahnya per hari kami bayar Rp60.000. Mereka kerja dari pukul 07.00 WIB-09.00 WIB. Istirahat setengah jam, kemudian masuk Pukul 09.30 WIB-11.00 WIB. Setelah itu, pukul 12.00 WIB mereka masuk sampai pukul 14.00 WIB, istirahat lagi setengah jam, setelah itu masuk sampai pukul 16.00 WIB," kata dia kepada Batamnews.co.id, Kamis (21/2/2019).

Dapur Arang yang merupakan tempat pembakaran kayu bakau hingga menjadi arang (Foto:Ruzi/Batamnews)

Sementara itu, untuk upah penebang menggunakan sistem per kilogram (kg). Biasanya, penebang selalu berhitung untuk mendapatkan upah setelah mengumpulkan 1 ton kayu bakau (Mangrove). "Di Dapur Arang ini ada 9 dapur. Ini juga dapur yang sudah lama berdiri, mulai beroperasinya tanggal 7 Januari 1988," ujarnya.

Ia menjelaskan, dapur dengan diameter besar mampu menampung 20 ton arang. Namun, untuk mendapatkan arang yang memiliki nilai jual itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Satu dapur saja butuh proses selama 3 bulan lebih sejak mulai pemotongan, penyusunan, pembakaran serta pemaketan.

"Dalam setahun, satu dapur itu 4 kali buka. Tapi bisa saja kurang, karena kami tergantung ketersedian kayu yang berhasil ditebang. Kami kan tebang pilih, tidak asal tebang," ucap mantan Kepala Desa Kudung ini.

Tidak hanya menikmati manfaat dari pohon bakau saja, tapi mereka juga menanam kembali pohon sebagai penahan gelombang serta tempat perkembangbiakan kepiting itu sebanyak dua kali dalam setahun. Tahun 2018 lalu, ada 28.000 bibit bakau yang mereka tanam.

"Penanaman kembali sudah menjadi hal wajib. Jika kami telat saja, pihak koperasi akan menegur. Jadi tidak hanya sekedar menebang, tapi kami juga menanam. Sebagai warga sini (Kudung) saya juga tidak ingin hutan bakau disini rusak," katanya.

Salah seorang pekerja Dapur Arang di Sungai Pinang (Foto:Ruzi/Batamnews)

Untuk di wilayah pengelolaan Dapur Arang Desa Kudung, ada seluas 300 hektare (Ha) lebih yang memiliki izin produksi. Jadi, mereka hanya memanfaatkan kayu bakau yang berada di dalam kawasan yang sudah ditentukan dan tidak dibenarkan untuk mengambil yang berada di bibir sungai.

Hal serupa juga disampaikan pengelola Dapur Arang Ayong, Desa Sungai Pinang, Encik Adnan. Ditempatnya saja, ada sekitar 60 orang lebih pekerja dan merupakan warga desa setempat. "Dapur Arang Ayong ini merupakan salah satu yang terbesar," kata dia.

Ia mengaku, di Sungai Pinang sendiri terdapat tiga Dapur Arang, yaitu Dapur Arang Melalau dan Kuala. "Kalau di tempat kami, pekerjanya sistem borong. Kalau hitung per harinya sekitar Rp70.000 lah. Itu pekerjanya ada ibu-ibu dan bapak-bapak, semuanya orang asli sini," tuturnya.

Tidak jauh berbeda dengan Dapur Arang Desa Kudung, Dapur Arang Ayong ini memiliki 11 dapur. Mereka juga melakukan proses penanaman kembali setiap setahun sekali dengan jumlah 40.000 bibit di tahun 2018 lalu dan sudah menjadi kewajiban.

"Kalau luas yang kami kelola disini sekitar 400 Ha lebih. Alhamdulillah dengan adanya dapur ini warga bisa bekerja. Apalagi sekarang ini mencari kerja itu tidak mudah," kata Adnan.

Keberadaan Dapur Arang saat ini sudah bisa dibilang sebagai tempat mata pencaharian warga. Meski tak semua bergantung disini, tapi ada sebagian dari mereka yang menjadikan Dapur Arang sebagai dapur penghasil rezeki.

(ruz)