3 Tahun Pemerintahan AWe – Nizar (3)

Melawan Mitos, Sektor Pertanian Lambungkan Nama Lingga

Bupati Lingga, Alias Wello dan Wakilnya Muhammad Nizar (Foto:Novi/HumasPemkab)

Diawal pemerintahannya, Bupati dan Wakil Bupati Lingga, Alias Wello-Muhammad Nizar yang dikenal dengan tagline AWe-Nizar, membuat publik di bumi “Bunda Tanah Melayu” itu kebingungan. Bagaimana tidak, AWe menetapkan pencetakan sawah baru dalam program kerja 100 harinya. Padahal, mayoritas penduduk Lingga adalah nelayan.

Usai dilantik oleh Gubernur Kepulauan Riau, H. Muhammad Sani di Gedung Daerah Tanjungpinang, tanggal 17 Februari 2016, AWe langsung mengumumkan program kerja 100 harinya. Yakni, pencetakan sawah baru dan program kerja 100 hari berikutnya adalah produksi beras. Jika gagal, Ia berjanji mengundurkan diri dan meletakkan jabatannya sebagai Bupati Lingga.

"Program kerja 100 hari saya adalah pencetakan sawah di Desa Sungai Besar. Target saya, dalam waktu 6 bulan ke depan, Lingga sudah produksi beras. Jika target ini tak tercapai, saya mundur sebagai Bupati. Ini adalah bentuk komitmen saya untuk memajukan Lingga. Tak perlu menunggu sampai 5 tahun, terlalu lama," tegas AWe kepada wartawan usai dilantik.

Pernyataan kontoversial AWe itu, langsung menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Sebagian orang yang masih mempercayai mitos, bahwa padi tidak mungkin bisa berhasil di Lingga menyambutnya dengan sinisme. Konon, pada masa kejayaan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Sultan hanya merestui penanaman sagu sebagai sumber makanan pokok dan tak pernah memerintahkan rakyatnya melakukan budidaya padi.

AWe tentu saja tidak asal ngomong. Jauh hari sebelum dilantik, AWe sudah melakukan identifikasi lahan yang akan dikembangkan sebagai kawasan pertanian budidaya padi. Pemilihan lokasi lahan yang akan dijadikan sawah didasarkan pada posisi kontur yang landai, sumberdaya airnya juga melimpah.    

Diantara sekian banyak lokasi yang diidentifikasi, AWe memilih Desa Sungai Besar, Kecamatan Lingga Utara. Daerah ini dipilih sebagai lokasi demplot budidaya padi yang selama ini dianggap mitos bagi sebagian orang di Lingga. Kenapa harus di Desa Sungai Besar? Tentu banyak pertimbangan yang mendasarinya.

Pertama, AWe mendengar dan merasakan langsung keluhan masyarakat setempat bahwa daerahnya selalu menjadi langganan banjir saat musim hujan dan kebakaran saat musim kemarau. Kedua, Ia melihat sumberdaya air yang menjadi salah satu indikator untuk pengembangan budidaya padi, melimpah di daerah itu. Ketiga, kontur tanahnya yang landai lebih mudah dibentuk menjadi sawah ketimbang lahan yang miring atau berbukit-bukit.

Pertimbangan lainnya, status lahannya bukan kawasan hutan. Tapi, Areal Penggunaan Lain (APL) yang sudah digarap dan ditanami karet oleh masyarakat setempat. Namun, karena sudah seringkali terbakar, tanaman karetnya yang tersisa hanya tinggal beberapa batang saja. Setelah lahan demplot disepakati di Sungai Besar, AWe meminta saya menghitung biaya pencetakan sawah, pembuatan saluran air, pengadaan benih, pupuk, peralatan dan mesin pertanian, mendatangkan tenaga pendamping, target produksi dan penanganan pasca panen.

Luas lokasi demplot diputuskan 5 hektar dari ratusan hektar potensi lahan yang tersedia. Pembiayaannya juga disepakati tanpa menggunakan dana APBD/APBN. Tapi, menggunakan uang pribadi AWe dan saya. Sebagai orang yang diberi tanggungjawab mensukseskan demplot tersebut, pernyataan AWe yang disampaikan secara terbuka itu, membuat saya semakin termotivasi.

Di benak saya langsung tertanam target yang harus dicapai. Dalam waktu enam bulan ke depan, Lingga harus produksi beras. Tepat tanggal 1 Maret 2016, AWe meresmikan dimulainya pencetakan sawah baru di Desa Sungai Besar dan melakukan penanaman perdana dengan sistem TABELA (Tanam Benih Langsung) pada tanggal 23 Maret 2016.

Alhamdulillah, dengan kuasa Allah SWT, pertumbuhan padi varietas Inpari dan IPB 3S di sawah baru itu cukup bagus. Demplot yang semula direncanakan hanya 5 hektar, berkembang hingga 34 hektar. Semua pembiayaan dalam kegiatan demplot itu, menggunakan uang pribadi. Tak ada sedikit pun menggunakan uang APBD/APBN. Maklum, pada saat AWe dilantik, APBD Lingga Tahun Anggaran 2016 memang sudah disahkan. 

Apa yang dijanjikan AWe bahwa dalam waktu enam bulan setelah dilantik, Lingga sudah bisa produksi beras akhirnya terwujud pada bulan kelima, tepatnya tanggal 12 Juli 2016. Saya dan tim yang menanganinya bersuka cita atas keberhasilan panen perdana itu. Kesuksesan AWe memenuhi janjinya, ditandai dengan panen padi perdana IPB 3S dan peresmian pabrik penggilingan padi di Desa Sungai Besar oleh Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun. 

Momentum panen perdana itu tak saya sia-siakan. Saya ingin para tamu dan undangan dapat merasakan nasi dari beras yang dihasilkan oleh petani Sungai Besar. Karena itu, tiga hari sebelum acara dimulai, saya minta tim panen satu petak dulu untuk diolah menjadi nasi lemak dan disuguhkan kepada para tamu, serta undangan yang hadir. 

Sedikitnya, 1.000 kotak nasi lemak dari beras yang diproduksi oleh petani Sungai Besar disiapkan panitia, ludes tak bersisa. Bahkan, sebagian tamu yang tak sempat mencicipi nasi lemak di tempat acara, dibekali oleh-oleh beras yang sudah digiling sebelumnya.

Berita Lingga panen padi perdana menyebar dengan cepat di seantero Provinsi Kepulauan Riau. Bahkan, pemberitaan yang masif di media nasional, akhirnya sampai ke Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Saya terus menjalin komunikasi yang intens dengan Staf Khusus Menteri Pertanian, Andi Irwan Baharuddin. Hingga akhirnya Menteri Pertanian memutuskan mengunjungi Lingga pada tanggal 9 September 2016. 

Maklum, selama ini Provinsi Kepulauan Riau tak tercatat dalam peta pertanian nasional bersama Provinsi DKI Jakarta. Cerita itu saya dengar langsung bersama AWe dari Dirjen Tanaman Pangan, Hasil Sembiring saat kami berkunjung ke kantornya. Terlebih lagi, Lingga pada saat itu, baru sekali dikunjungi pejabat setingkat Menteri, yakni Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Lukman Edy.

Kehadiran Menteri Pertanian di Lingga itulah yang menjadi pintu pembuka arus kunjungan pejabat pusat ke bumi "Bunda Tanah Melayu" itu. Kunjungan berikutnya adalah Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Menteri PAN RB, Asman Abnur dan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Kebetulan, saya terlibat langsung dalam agenda kunjungan Wakil Presiden ke Lingga tersebut. Saya tahu persis, mendatangkan Wakil Presiden ke daerah seperti Lingga, bukanlah perkara mudah. Butuh waktu dan birokrasi yang berbelit-belit.

Apalagi posisi geografis Lingga yang berada di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau dengan moda tranportasi apapun. Namun, dengan gaya diplomasi dan jaringan yang kuat, AWe bisa menembus sekat birokrasi yang berbelit-belit itu. Keberhasilan AWe membangun sektor pertanian Lingga mendapat apresiasi pemerintah pusat. Ploting anggaran miliaran rupiah terus digelontorkan pusat untuk melakukan perluasan pencetakan sawah baru melalui program Upaya Khusus (UPSUS) bekerjasama dengan TNI AD.

Inilah prestasi yang amat spektakuler diantara capaian AWe - Nizar selama 3 tahun kepemimpinannya. Keseriusannya membangun sektor pertanian menjadi iklan gratis yang mampu mendongkrak popularitas nama Lingga. Sehingga Pemerintah Pusat tak ragu-ragu lagi menggelontorkan programnya ke Lingga.

Boleh dikatakan, apapun kebutuhan pertanian Lingga di Kementerian Pertanian selalu dipenuhi. Minta Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), Sarana Produksi (Saprodi), sapi indukan, bibit petai, jengkol dan kelapa, semuanya disetujui. Saya adalah saksi hidup yang ikut merasakan betapa Lingga yang berada di wilayah terpencil, cukup diperhitungkan di tingkat pusat. Ini karena AWe tak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk mengenalkan nama Lingga.

Ia tak perduli harus berangkat tengah malam dari rumah menembus gelapnya malam di tengah laut menuju Batam atau Tanjungpinang. Begitu juga sebaliknya dari Batam atau Tanjungpinang menuju Dabo Singkep atau Daik Lingga. Semua itu dilakukannya tanpa pernah memikirkan keselamatannya dalam perjalanan laut di tengah gelapnya malam. Di benaknya hanya ada Lingga yang harus berkembang dan maju di masa pemerintahannya.

Oleh : Ady Indra Pawennari