Telak, Bisnis Travel dan Oleh-oleh di Batam Rugi Hingga Miliaran Rupiah

ASPPI

Batam - Bagasi berbayar serta naiknya tarif penerbangan domestik membuat pelaku usaha bidang pariwisata di Batam rugi miliaran rupiah. Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia ASPPI mencatat adalah 10 ribu kunjungan ke Kepri batal 2019.

Sedangkan Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia (ASPABRI) mencatat dalam satu bulan ada potensi kerugian sebesar Rp 2 miliar dari data 50 usaha yang bernaung dibawahnya. Insan Pariwisata Indonesia (IPI) sendiri mencatat ada 4.000 wisatawan domestik hilang dalam waktu satu bulan untuk kunjungan ke Kepri.

Dari data asosiasi tersebut, Kencana Travel yang berada di bawah naungan ASPPI mengalami kehilangan pelanggan travelnya sebanyak 90 pax hingga bulan Mei. Kencana Travel mencatat dalam dua minggu potensi kehilangan yang diterima oleh travel sebanyakl 100 wisatawan.

Potensi kerugian yang harus diterima Kencana Travel hingga bulan Mei itu sebesar Rp 1,5 miliar. Data tersebut hanya terhitung dari wisatawan yang memilih paket berbiaya rendah.

Baca: Tiket Mahal dan Bagasi Berbayar Maskapai Bisa "Bunuh" Pariwisata Kepri

Tak hanya travel, Tok Ngah sebagai pelaku usaha dibidang oleh-oleh sangat merasakan penurunan omset yang didapatnya. Hal itu diakibatkan berlakunya bagasi berbayar sehingga anomali masyarkat untuk membeli oleh-oleh menurun.

Pengelola dari Toko Oleh-oleh Tok Ngah, Yogi mengatakan pertama kali dampak yang paling dirasakan adalah semenjak bagasi berbayar diberlakukan oleh Lion. Hal itu dikarenakan 75 persen pelanggan tokonya adalah masyarakat dalam negeri terutama warga Batam yang membeli oleh-oleh untuk pulang kampung.

“Sangat berpengaruh terhadap omset kami, kami mengalami penurunan omset hingga 65% lah. Sabtu minggu biasanya belasan juta, sekarang hanya 4-5 juta,” ungkapnya

Selain itu penginapan di Kota Batam yang biasanya terisi penuh baik oleh wisman maupun wisnus mengalami penurunan drastis.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar mengatakan kebijakan tersebut bisa menurunkan minat wisatawan nusantara untuk berwisata dalam negeri. Sedangkan target Meneteri Pariwisata 2019 adalah 75 juta kunjungan wisnus selama 2019.

“Ini perlu disikapi segera memang harga tiket dan bagasi ini luar biasa, karena kalau terus begini tujuan wisatanya akan sepi ini,” katanya.

Sikap yang dipilih Buralimar untuk menghadapi tragedi ini adalah dengan mengirimkan ke Menteri Pariwisata terkait aspirasi dari Asosiasi Pariwisata. “Aspirasi dari teman-teman akan kami ramu dan bawa ke Menpar biar pak Menpar yang bicara ke Menhub,” tuturnya.

Selama ini wisata Kepri selalu dipenuhi oleh wisatawan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta dan Medan. Hal itu dikarenakan bandara Batam yang memiliki destinasi ke 50 kota di Indonesia. “Wisnus dimana yang menjadi target pak menteri sebesar 75 juta pasti tergerus, karena bandara Batam ini melayani hampir 50 kota tujuan, selama dua hari saja bandara sudah kurang pengunjung sebanyak 8 persen,” ungkapnya.

Bur mengaku jika untuk wisata belanja, pelaku usaha oleh-oleh masih diuntungkan dengan wisnus. Hal itu dikarenakan daya belanja wisnus lebih tinggi dari wisman.

“Kalau wisman kan biasanya sewa hotelnya yang mahal tapi belanja kurang, sedangkan wisnus ini memang menginap di hotel yang lebih murah tapi minat belanjanya jauh lebih tinggi dari wisman,” tuturnya.

(das)