Resepsionis Hotel Bali Tak Bisa Tidur Usai Saksikan Penganiayaan Sadis di Depan Mata

Penganiayaan Ali Syofnevil

Batam - Salah seorang resepsionis Hotel Bali yang tidak mau disebutkan namanya mengaku masih trauma dengan kejadian penganiayaan di depan matanya. Seorang pria yang diketahui bernama Ali Syofnevil dianiaya di lobi hotel pada (6/1/2019), tanpa ada seorang pun yang berani membantu

Beberapa kali L menghindar dan panik saat ditanya tentang kejadian hari minggu tersebut.  L mengatakan dia berharap bisa menghapus ingatannya tentang penganiayaan Ali.  "Saya masih trauma, saya ga mau ingat-ingat kejadian itu," katanya.

Karena rasa takutnya L mengaku sempat teriak dan lari melihat kejadian itu. "Saya ini orangnya takutan mbak, bahkan saat itu saya lari kedalam," ujarnya.

Efek trauma L melihat kejahatan itu tak sampai situ, dia mengaku hingga tak bisa tidur selama beberapa hari.  "Gara-gara itu saya sudah tiga hari tidak bisa tidur, jadi kalau ditanya detail kejadiannya ga bisa," jawabnya.

Baca juga: Seorang Pria di Batam Nyaris Tewas Disekap dan Dianiaya Sekelompok Orang

Pada hari libur semua pegawai Hotel Bali masuk dan menyaksikan kejadian tersebut. Karena kekerasan tersebut berlangsung pagi hari, jadi masyarakat sekitar yang ada di lokasi kejadian melihat hal itu.

"Kejadian hari minggu bukan cuma pegawai kami yang tau saya rasa seluruh orang pasar tau semua," ungkapnya.

Penganiayaan yang menimpa Ali meninggalkan rasa takut bagi siapapun yang melihatnya. Perlakuan tidak manusiawi diterimanya hari itu.

Selain receptionist Hotel Bali, anak kandung Ali yang melihat penyiksaan ayahnya melalui video call sempat demam karena rasa takut.

Tidak hanya dipukul menggunakan besi. Ali juga dikabarkan disetrum, dicekik lehernya menggunakan ikat pinggang, dibakar kulitnya menggunakan korek gas, hingga dipaksa memakan api rokok.

Hal tersebut diterima Ali selama 7 jam hingga akhirnya di antar ke Polsek Lubuk Baja oleh ketiga pelaku.

Kedua Istri Ali juga sempat diperas Rp 30 juta sebagai uang tebusan saat penyiksaan berlangsung. Uang tersebut dinaikkan menjadi Rp 50 juta karena alasan lain.

Saat penganiayaan berlangsung, dari penuturan Ali, ia sempat tiga kali pindah tempat. Pertama di Hotel Bali, kedua di Tanjung Riau, dan ketiga di belakang Makam Temiang. Ali dipindahkan menggunakan mobil pikap.

Hingga hari ini, Ali masih terbaring di Rumah Sakit Harapan Bunda. Dia harus menerima 24 jahitan di kepala dan kemaluannya karena penyiksaan tersebut.

Ali disiksa oleh empat anggota ormas. Tiga pelaku sudah diserahkan ke Polresta Barelang hari ini. Satu pelaku lagi masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menyelidik kasus ini.

Berikut videonya:

(das)