https://www.batamnews.co.id

Nekat Lawan Mafia TKI Ilegal di Nongsa, Abdullah Diseret, Diinjak dan Nyaris Ditembak

Abdullah usai mendapat penganiayaan. (Foto: Dyah Asti/Batamnews)

Batam - Abdullah korban pengeroyokan tiga pria hingga saat ini masih terbaring di sofa saat ditemui tim Batamnews.co.id di kediamannya, Kavling Sambau, Nongsa, Batam.

Ia nekat mendatangi lokasi pengumpulan TKI illegal, karena ia mengaku geram. Menurut keterangan Abdullah, dirinya lebih dari satu kali mengetahui pengiriman TKI ilegal dalam satu bulan terakhir.

“Saya geram dia seperti menghina kebijakan aparat pemerintahan, dia (Sg, diduga mafia TKI Ilegal) sudah tiga kali saya lihat melakukan hal itu, sempat saya peringatkan juga sebelumnya,” katanya

Pada Sabtu, (5/1/2019) di Kavling Sambau ada sosialisasi sektoral terkait peredaran Narkoba dan TKI Ilegal, dari Polairud, BNN,dan Guskamla. Abdullah dan beberapa tokoh masyarakat, seperti Lurah Desa Sambau menjadi panitia dari sosialisasi tersebut.

Setelah adanya sosialisasi tersebut seluruh masyarakat Kavling Sambau, sepakat untuk menerapkan hasil dari sosialisasi tersebut di daerah mereka.

Setelah dua hari dari sosialisasi tersebut, Abdullah justru melihat kegiatan penyelundupan TKI Ilegal di salah satu rumah daerahnya saat pulang dari Batu Besar, tengah malam

“Malam itu saya baru pulang makan dari Batu besar bersama keluarga, saya melihat 50 sampai 60 orang bergerombol akan masuk ke bus, saya menduga ini pengiriman TKI Ilegal, akhirnya saya pulangkan keluarga saya dan muter balik ketempat itu,”

Saat itu tanpa pikir panjang Abdullah sempat menabrakkan mobil pada Bus yang mengangkut puluhan orang tersebut. Dia pun pun sempat mengehntikan kegiatan tersebut. “Stop ini illegal, kitakan kemarin baru sosialisasi,” ujarnya saat turun dari mobil.

Tak terima akan hal itu, Sg melilitkan tangannya pada Abdullah hingga terjatuh. Ada dua orang diduga oknum aparat, yang ikut menyeret Abdullah menjauh dari rombongan hingga 30 meter.

Menurut pengakuan Abdullah melihat kejadian tersebut, ada TKI yang histeris melihatnya dipukul. “Saya mendengar ada yang menjerit saat itu tapi saya kurang sadar,” katanya.

Setelah jauh dari rombongan TKI Ilegal tersebut, Sg bersama dua pria lainnya memukul Abdullah. Ia diinjak, dan telinganya di sosor benda tumpul. Setelah aksi tersebut dilakukan Abdullah mendengar suara tembakan.

Abdullah mengatakan, malam itu tidak ada warga yang berusaha memisahkannya dari pukulan ketiga pria tersebut. Warga baru membantu setelah Abdullah pingsan di tempat tersebut.

“Mungkin karena saya dibawa ketempat sepi tadi itu, tidak ada yang melihat, setelah lama saya pingsan, warga membopong saya ke rumah, sekitar pukul satu malam, Setelah sampai dirumah itu, istri membawa saya ke Rumah Sakit.

Hingga saat ini istri Abdullah tidak bisa menceritakan kondisi suami yang dilihatnya malam itu. Menurut Abdullah Istrinya masih trauma dengan hal tersebut.

Ayah empat anak ini hanya bisa terbaring dirumah pasca-kejadian tersebut. Dia tidak bisa bekerja karena kondisi telinganya seperti itu. Sebagai kontraktor kecil, Abdullah mengaku banyak pekerjaannya yang terbengkalai.

Abdullah mengatakan jika seharusnya dirinya saat ini dirawat di Rumah Sakit. Tapi karena biaya Abdullah memilih untuk dirawat di rumah saja.  “Saya tidak mau menyusahkan anak istri, lebih baik saya dirumah sakit,” katanya.

Abdullah sempat diperingatkan oleh dokter resikonya jika tetap memaksa pulang, karena dia sempat muntah darah saat pemukulan terjadi. Namun, Abdullah tetap tidak mau dirawat inap.

Beberapa kali Abdullah meminta maaf karena kondisi badannya, dia sempat meminta maaf karena tidak mendengar.  Kuping saya yang satu ini tidak bisa mendengar maaf ya kadang kurang nyambung,” katanya.

Abdullah pun sempat meminta maaf ketika tidak kuat menopang badannya untuk duduk. ”Sebentar ya, maaf saya ga kuat duduk, suka engap dan pusing,” imbuhnya sambil membaringkan tubuhnya.

Dari pengeroyokan tersebut Abdullah harus kehilangan sebagian pendengarannya dan luka di beberapa bagian.

(das)