RI Tak Punya Alat Deteksi Tsunami Longsoran Bawah Laut dan Erupsi Gunung

Kepala Pusat data dan informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengamini tidak ada peringatan dini adanya gelombang tsunami di Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) malam. Hal itu dikarenakan tidak ada alat deteksi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Indonesia tidak memiliki alat deteksi Tsunami yang diakibatkan longsor bawah laut ataupun erupsi gunung. Ia mengatakan, sejauh ini setiap Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami berdasarkan gempa bumi.

"Tidak ada peringatan dini tsunami karena memang kita, Indonesia, tidak memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dibangkitkan oleh longsoran bawah laut dan erupsi gunung api sehingga proses yang terjadi tiba-tiba. Tidak ada evakuasi, masyarakat tidak ada kesempatan untuk evakuasi," ujar Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (25/12).

"Yang terjadi di Selat Sunda tidak ada (peringatan dini) karena kita tidak memiliki sistem," tandasnya.

Sementara itu, data terbaru dari BNPB Selasa pukul 13.00 WIB korban meninggal dunia 429 jiwa, 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang. Ia juga menyampaikan, 16.082 orang mengungsi akibat tsunami. Korban meninggal terdapat di wilayah Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus.

Sutopo menyatakan, dari data terbaru akibat tsunami disebutkan 882 unit rumah rusak, 73 penginapan rusak, 60 warung rusak, 434 perahu dan kapal rusak, 24 kendaraan roda empat rusak, 41 kendaraan roda 2 rusak, 1 dermaga rusak, dan 1 shelter rusak.

(*)