Begini Kondisi Nenek Asyani yang Makin Tertekan Dalam Penjara

Nenek Asyani Dalam Penjara. (foto: istimewa)

BATAMNEWS.CO.ID, Situbondo - Tiga bulan sudah nenek Asyani (63) tinggal di bilik berjeruji besi karena didakwa mencuri tujuh batang kayu jati milik Perhutani. Setelah ramai diberitakan media massa dan media sosial, sejumlah pihak mulai memberi perhatian.

Saat sidang ketiga Kamis (12/3/2105), Nenek Asyani warga di Dusun Secangan, Desa/Kecamatan Jatibanteng, Situbondo, Jatim mulai terlihat tertekan. "Dia memang tidak pernah mengeluh sakit. Tetapi, kalau kita lihat dari dekat, tangannya bergetar dan berkeringat dingin," ujar Supriyono, kuasa hukum Asyani.

Bahkan, mungkin karena sudah tidak kuat menahan tekanan saat mengikuti sidang, Asyani tiba-tiba berteriak histeris. Seluruh pengunjung ruang sidang sontak hening. Jaksa penuntut umum (JPU) Ida Haryani yang membacakan tanggapan atas eksepsi Asyani juga terdiam.

Nenek Asyani harus berurusan dengan aparat berwajib setelah dituding mencuri kayu milik Perum Perhutani. Asyani dituduh mencuri kayu yang ditebang suaminya sendiri, yang bernama Sumardi sekitar lima tahun lalu di lahan milik sendiri.

Sementara, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meminta agar nenek Asyani bisa dijadikan tahanan luar. Hal ini didasarkan pada usia nenek Asyani yang sudah lanjut.

Siti Nurbaya mengaku telah berkoordinasi dengan Jaksa Agung HM Prasetyo, Jumat (13/3/2015) sore, terkait kasus nenek Asyani yang ditangkap lantaran diduga mencuri kayu jati olahan pada Agustus 2014 silam.

"Selain itu juga meminta Dirut Perhutani dengan mempertimbangkan usia nenek dan pertimbangan tidak memungkinkan untuk melarikan diri, maka diminta dapat dijadikan tahanan luar untuk nenek Asyani. Bersama Jaksa Agung kami terus mengikuti perkembangan untuk proses dan putusan yang adil," katanya seperti dilansir merdeka.

Sekretaris Divisi Regional Perum Perhutani Jatim Yahya Amin mengungkapkan, kasus itu berawal dari laporan Perum Perhutani Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Jatibanteng.

"Laporan dengan Nomor 02/KP/Jtgtg/Bsk/2014 itu dilatarbelakangi peristiwa hilangnya dua pohon jati dengan keliling 115 centimeter dan 105 centimeter," ujarnya kepada wartawan di Surabaya, Rabu (11/3).

Dia menjelaskan, nilai kerugian dari kasus pencurian kedua pohon tersebut Rp 4.323.000. Berdasarkan kejadian itu dilaporkan ke Polsek Jatibanteng sesuai Laporan Polisi setempat Nomor LP/K/11/VII/2014/Res.Sit/Sek.Jatibanteng.

(ind/bbs/merdeka)