Wanita Terkaya Dunia
Dulu DO Sekolah, Kini Zhou Qunfei Punya 32 Pabrik dan 90 Ribu Pekerja
Zhou Qunfei. (foto: ist/net)
BATAMNEWS.CO.ID, Beijing – Gelar perempuan terkaya dunia kini disematkan kepada Zhou Qunfei yang disebut memiliki kekayaan hingga US$9,2 miliar. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa kehidupan perempuan itu tak mulus. Berikut kisahnya.
Zhou adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Dia lahir di sebuah desa kecil di propinsi Hunan, sebuah daerah pertanian yang cukup terpencil. Masa kecilnya penuh sengsara. Umur lima tahun, ibunya meninggal. Dan ayahnya, hampir tuna netra karena mengalami kecelakaan.
Di rumah, Zhou membantu keluarganya membesarkan hewan ternak sebagai tambahan pendapatan. Di sekolah, dia pun berprestasi.
"Dia adalah siswa pekerja keras dan berbakat. Aku pernah membacakan karangan soal ibunya di kelas. Tulisannya itu sungguh mengharukan sehingga semua orang menangis," kata gurunya di SMP, Zhing Xiaobai.
Meskipun pandai, Zhou terpaksa keluar sekolah pada umur 16 tahun karena tak ada biaya. Ia lalu pindah ke propinsi Guandong ke rumah pamannya untuk mencari pekerjaan. Zhou bercita cita jadi desainer busana, tapi dia akhirnya jadi buruh pabrik di kota Shenzen dengan gaji USD 1 per hari.
Kondisi di pabrik menurut Zhou sangat berat. Pabrik itu membuat kaca untuk arloji. "Tidak ada shift karena orangnya sangat sedikit. Aku tidak menikmatinya," kata Zhou. Setelah tiga bulan, dia memutuskan mengundurkan diri.
Namun surat pengunduran diri Zhou membuat bosnya malah terkesan karena Zhou berterima kasih atas pelajaran yang diberikan pabrik dan sebenarnya masih ingin bekerja. Maka, si bos pun menahannya dan menaikkan jabatannya.
Bikin Bisnis Sendiri
Pada tahun 1993, Zhou merasa sudah cukup baginya bekerja untuk orang lain. Ia ingin mendirikan perusahaan sendiri. Dengan tabungan sekitar USD 3.000, dia dan beberapa anggota keluarganya mendirikan pabrik kaca jam yang diklaim berkualitas tinggi.
Di perusahaannya itu, Zhou terlibat di hampir semua hal. Dia mempelajari proses pembuatan layar yang berkualitas. "Di bahasa Hunan, kami menyebutnya sebagai ba de man, yang artinya seseorang yang berani melakukan sesuatu yang ditakuti orang lain," kata keponakannya, Zhou Yinyi.
Zhou kemudian menikah dengan mantan bosnya, memiliki seorang anak sebelum memutuskan cerai. Dia menikah lagi dengan temannya semasa jadi buruh pabrik dan dikaruniai anak kedua. Sang suami kini menjadi komisaris di Lens Technology.
Rezeki memang sering datang tanpa diduga. Pada tahun 2003, ketika pabriknya masih membuat kaca untuk jam, dia menerima panggilan telepon dari eksekutif Motorola. Mereka menanyakan apakah dia bisa membantu membuat layar untuk ponsel baru Razr V3.
Pada waktu itu, kebanyakan layar ponsel terbuat dari plastik. Motorola menginginkan layar ponsel yang lebih tahan goresan dan menampilkan gambar lebih baik. "Aku ditelepon mereka dan diminta menjawab ya atau tidak. Jika ya mereka akan bantu. Jadi aku jawab ya," tutur Zhou.
Setelah pesanan itu, pesanan lain bermunculan dari produsen ponsel raksasa seperti HTC, Nokia dan Samsung. Kemudian pada 2007, Apple memasuki pasar dengan iPhone. Apple memilih Lens sebagai suplier komponen layar yang semakin menaikkan pamor perusahaan ini.
Zhou lalu berinvestasi besar-besaran membangun fasilitas pabrik baru dan merekrut teknisi terampil. Dia meminjam banyak uang dari bank, kadang dengan jaminan rumahnya sendiri. Hasilnya dalam tiga tahun, dia memiliki fasilitas pabrik di tiga kota.
Kini, Zhou tinggal menikmati kerja kerasnya. Ia memiliki 75 ribu karyawan. Tiap hari dia menerima pesanan layar dari para perusahaan elektronik raksasa, termasuk Corning yang adalah produsen Gorilla Glass. Klien utamanya tetaplah Apple dan Samsung. Sekitar 75% pendapatan perusahaan berasal dari dua raksasa itu.
"Dia sungguh entrepreneur yang penuh passion dan dia sangat suka menangani banyak hal. Aku melihat perusahaanya tumbuh dan dia membangun tim yang kuat. Sekarang memang ada banyak kompetitor di industri ini, tapi Lens tetap pemain papan atas," ucap James Holis, eksekutif di Corning.
Zhou memang dikenal sangat mendetail. "Ayahku tuna netra sehingga jika kami meletakkan sesuatu, harus tepat di tempatnya atau akan terjadi sesuatu yang mungkin buruk," ucapnya.
Kini, Lens Technology memang memiliki banyak rival dan ketergantungannya pada Apple dan Samsung membuat investor cemas. Tapi Zhou menyatakan ia siap mengembangkan inovasi baru di industri layar sentuh. Semangatnya masih seperti yang dulu.
"Di desa tempatku tumbuh, banyak gadis tidak memiliki pilihan. mereka akan menikah dan menghabiskan seluruh hidupnya di sana. Sedangkan aku memilih berbisnis dan tidak menyesalinya," ujar Zhou.
Kini Zhou memiliki 32 pabrik dan pekerja hingga 90 ribu orang.
Status sebagai wanita terkaya disematkan kepadanya setelah Elizabeth Holmes, perempuan 33 tahun pemilik Theranos kehilangan harta US$4,5 atas adanya tuntutan penipuan.
(ind)

Komentar Via Facebook :