Akibat Konflik Timur Tengah, Stok Kondom di India Mulai Langka hingga Harga Melonjak

Akibat Konflik Timur Tengah, Stok Kondom di India Mulai Langka hingga Harga Melonjak

ilustrasi (freepik)

Nurjali

Batam, Batamnews – Konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai berdampak pada industri kondom India. Gangguan rantai pasok global menyebabkan kelangkaan bahan baku utama, sehingga produksi tersendat dan stok di pasaran menipis.

Dilansir dari CNBC, produsen kondom di India mengaku kesulitan mendapatkan minyak silikon, komponen penting dalam pembuatan kondom. Pasokan bahan ini disebut mengalami "kekurangan besar". Selain itu, harga amonia yang berfungsi menstabilkan lateks mentah diperkirakan naik 40 hingga 50 persen.

Padahal, India adalah raksasa industri kondom dunia. Negeri itu memproduksi lebih dari 6 miliar kondom per tahun. Pada 2024, produksi mencapai 6,4 miliar unit atau sekitar 17 persen dari total produksi global. Nilai industri ini sekitar 860 juta dolar AS atau setara Rp13,3 triliun.

Baca juga: BI Turunkan Batas Beli Valas Tunai Jadi USD 50 Ribu per Bulan, Berlaku 1 April 2026

Namun, industri ini beroperasi dengan margin tipis. Akibatnya, kenaikan biaya bahan baku langsung terasa.

Dampak krisis kini mulai nyata. Sejumlah apotek di kota besar seperti Mumbai dan New Delhi melaporkan stok kondom mulai langka.

Tak hanya itu, efek domino konflik juga merembet ke sektor energi. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan biaya logistik global. Semua itu pada akhirnya membebani biaya produksi berbagai industri, termasuk kondom.

Dengan ketergantungan tinggi pada bahan baku impor, industri kondom India diprediksi akan terus tertekan selama konflik Timur Tengah belum reda. Situasi ini meningkatkan risiko kelangkaan produk di pasar domestik.

Baca juga: Purbaya: WFH Resmi Sudah Diputuskan Pemerintah, Pengumuman Langsung dari Airlangga Hartarto

Sebagai informasi, Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. 

Keputusan itu menjadi pemicu utama terganggunya distribusi bahan petrokimia. Padahal, Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan itu langsung berdampak luas ke berbagai sektor industri.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :