Romo Paschal Kecam Iklan "Come Party With Us" di Nagoya Food Court: Batam Bukan Kota Tanpa Luka
Aktivis hak asasi manusia sekaligus rohaniwan Katolik di Kepulauan Riau, Chrisanctus Paschalis Saturnus atau yang dikenal sebagai Romo Paschal. (Dok. batamnews.co.id).
Batam, Batamnews – Suasana Nagoya Food Court, Batam, Kepulauan Riau, yang biasanya riuh oleh pengunjung yang menikmati kuliner malam, kini menjadi sorotan tajam. Bukan karena menu makanannya, melainkan karena promosi sebuah aplikasi berbau dewasa yang dinilai mengusik ruang publik.
Aktivis hak asasi manusia yang juga rohaniwan Katolik Kepulauan Riau, Chrisanctus Paschalis Saturnus, atau akrab disapa Romo Paschal, angkat bicara. Ia menyoroti keberadaan promosi aplikasi "Viv-- Live" di kawasan pusat kuliner tersebut.
Menurutnya, iklan dengan ajakan "Come party with us" yang dipajang di ruang publik tidak bisa dianggap sebagai hiburan biasa.
Baca juga: Aplikasi Kencan Jadi Kedok Judi Online di Batam, Romo Paschal Desak Polisi Bongkar Aktor Utama
"Fenomena promosi aplikasi seperti ini patut dipertanyakan secara serius. Di tengah maraknya kasus dugaan eksploitasi perempuan muda melalui industri live streaming di Batam, munculnya ajakan seperti itu bukan sekadar hiburan," ujar Romo Paschal, Selasa, 17 Maret 2026.
Romo Paschal menjelaskan, pola rekrutmen dalam industri digital sering kali dibungkus dengan tawaran pekerjaan yang tampak menggiurkan, seperti host live streaming, entertainer, atau talent online. Namun, realitas di balik layar jauh dari janji manis tersebut.
"Batam bukan kota tanpa luka. Terlalu banyak cerita korban yang awalnya hanya dijanjikan pekerjaan host live streaming, entertainer, atau talent online. Tetapi di belakang layar, mereka dihadapkan pada tekanan target gift, manipulasi psikologis, hingga eksploitasi tubuh demi keuntungan jaringan tertentu," katanya dengan nada prihatin.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap ruang publik yang mudah digunakan untuk mempromosikan platform yang dinilai bermasalah. Romo Paschal mendesak agar aparat tidak hanya fokus pada isi promosi, tetapi juga mengusut aktor di balik aplikasi tersebut.
"Yang perlu dipertanyakan bukan hanya isi promosi ini, tetapi siapa yang berada di belakang jaringan aplikasi tersebut, siapa yang mendapat keuntungan, dan mengapa ruang publik kita begitu mudah menjadi panggung bagi promosi yang berpotensi menyeret perempuan muda ke dalam industri yang tidak transparan," tegasnya.
Ia pun mengingatkan pemerintah dan aparat penegak hukum di Batam untuk tidak menganggap remeh fenomena ini. Menurutnya, jika Batam serius ingin melindungi generasi muda dari ancaman perdagangan orang dan eksploitasi digital, maka promosi semacam ini harus dihentikan.
"Jika kota ini ingin serius melindungi generasi mudanya dari perdagangan orang dan eksploitasi digital, maka promosi seperti ini tidak boleh dianggap hal biasa. Batam harus berhenti menjadi ladang eksperimen bagi bisnis digital yang bermain di wilayah abu-abu antara hiburan dan eksploitasi," pungkasnya.

Komentar Via Facebook :