Pentingnya Sekolah
SMAN 1 Batam. (Foto: istimewa)
Oleh: Abang Mat
Saya punya kawan dua orang yang tinggal di daerah yang sengaja dihambat kemajuannya, jauh dari pusat kota. Satu daerah tapi beda kampung. Kampungnya sengaja tak dibangun prasarana yang lengkap. Terutama listrik, sekolah, dan perpustakaan. Disana sekolah bisa dihitung dengan jari. Padahal disana masyarakatnya pintar-pintar. Pintar membuat rumah, pintar berjual beli, pintar membuat kue, dan segudang kepintaran lainnya. Kelebihan lain mereka adalah mereka orang-orang yang tak pernah mengganggu dan merugikan orang lain. Kehidupan mereka secara tidak langsung dalam pengendalian tauke-tauke di kampung mereka, karena berkaitan dengan pekerjaan mereka sebagai nelayan. Sebab kampung mereka yang memang tak dibangun negara dengan selayaknya. Sedikit yang menjadi pebisnis, tapi rata-rata bisnis mereka berjaya.
Setahun sekali kalau bernasib baik, mereka untung besar dari penjualan dingkis. Bisa sampai 30 juta mereka dapat dalam sekali penjualan. Dingkis merupakan makanan penting bagi orang china saat hari raya. Masyarakat di kampung dua kawan saya ini adalah masyarakat yang sangat sehat, sebab setiap hari makan makanan bergizi. Terutama makanan-makanan laut, yang mahal apabila sudah masuk ke restoran-restoran di singapura. Ikan-ikan yang segar, sotong, udang, ketam, gonggong, dan kerang, semuanya adalah hal-hal yang biasa bagi mereka. Makanan setiap hari dan bukan sesuatu yang mewah. Tak menunggu waktu-waktu khusus bagi mereka untuk menyantap makanan-makanan ini. Apalagi ditambah dengan keahlian mereka mengolah semua hasil laut itu menjadi makanan-makanan yang lezat. Gampangnya mereka mendapatkan makanan, membentuk tabiat mereka menjadi orang-orang yang cenderung santai. Nikmatnya hidup mereka, hasil kerja sehari bisa untuk keperluan hidup seminggu.
Tanjungpinang, Singapura, dan Johor adalah tiga kota tujuan turun-temurun bagi mereka untuk menyegarkan perasaan, sekurang-kurangnya menikmati cendol. Bukan hanya menjual ikan-ikan mereka ke singapura, tapi ada juga dari mereka yang mempunyai saudara di johor. Yang sekali-sekali saling mengunjungi, setidaknya saat pernikahan. Hiburan mingguan mereka di rumah dulu adalah film-film lama yang dibintangi P. Ramli, Samsudin, dan Aziz Sattar. Lagu band-band malaysia tahun 90an juga masih sering mereka dengarkan sampai sekarang, terutama saat ada agenda pernikahan. Barang-barang seperti jam, sepatu, radio, kamera, roti, majalah, dan bolpen adalah barang-barang yang dulu biasa mereka bawa pulang setelah menjual ikan-ikan mereka di singapura, terutama mesin kapal. Saat cuci mata ke singapura belum setren sekarang. Lampu dan cat biasa mereka beli di Tanjungpinang.
Selama bertahun-tahun saya mengenal dua orang kawan saya ini, saya mendapati banyak kenyataan penting. Yang terpenting adalah perbedaan antara orang yang sekolah dengan orang yang tak sekolah. Ditambah lagi, kampung mereka yang tak pernah dimasuki koran dan tak berlistrik 24 jam. Jangankan kompas, batampos pun tak ada. Sehingga membuat mereka jarang mendapatkan berita, bukan hanya berita-berita nasional tapi juga berita lokal. Berita malam di Batam TV misalnya. Bahkan sinyal pun sering hilang di kampung mereka. Mereka jarang mendapatkan berita yang lengkap. Mereka lebih tau dengan pejabat-pejabat singapura dan malaysia, seperti Lee Kuan Yew dan Mahathir Mohamed. Itu sebab selera fashion mereka tinggi, walaupun mereka tinggal di kampung tapi gaya mereka seperti seleb Hollywood. Agenda paling meriah di kampung mereka biasanya adalah pernikahan dan hari raya.
Dua kawan saya yang tinggal di kampung yang berbeda ini, yang satu orangnya rajin menanggapi semua hal yang sedang terjadi, lewat status-statusnya di facebook. Dia merasa harus selalu mengungkapkan pikiran-pikirannya di facebook, hampir setiap hari selalu ada kata-kata yang dia luncurkan di facebooknya. Apalagi saat setelah dia pulang dari kedai kopi. Dia merasa selalu benar dengan semua keyakinannya. Padahal dia sering tak tau dengan keadaan yang sebenarnya dan metode berpikir benar, dari semua status yang dia buat di facebooknya. Dia merasa layak menanggapi hal-hal yang mau dia tanggapi, didasari sebab dia pernah menjadi ketua masyarakat di kampungnya dan kadang-kadang dia berjumpa dengan pejabat. Fotonya dengan pejabat sering dimasukkan ke faceboknya. Untuk menyenangkan hatinya.
Padahal, hal-hal yang dia tanggapi di facebook lewat statusnya itu banyak yang salah, bahkan salah semua. Bagi saya yang sering membaca kata-katanya, sering membuat saya geram. Kawan saya ini terbentuk begitu kebiasaannya, karena di lingkungannya tak ada orang yang bisa menilai dia dengan benar dan mengajarkannya ke pemikiran-pemikiran yang benar. Penilaian-penilaian yang seharusnya. Sekali-sekali saya tanggapi statusnya di facebook. Yang ujung-ujungnya kalau dia sudah geram dengan saya, facebook saya di block. Sudah sering facebook saya dia block, seingat saya sudah tiga kali. Sehingga di facebook yang sekarang membuat saya jarang menanggapi statusnya lagi, sekedar melihat. Karena walau bagaimanapun meskipun geram dengan kebiasaan dia, tapi sekali-sekali statusnya terasa nak dibaca.
Kawan saya yang satu lagi, dia sekolah. SD sampai SMK. Tapi dia tak kuliah, sebab ayahnya yang seorang bekas tauke saat itu sudah sakit. Hebatnya kawan saya yang satu ini, sejak sebelum lulus SMK dia sudah diterima di Astra. Perusahaan swasta terbesar di indonesia pada saat itu. Karena dia jago main sepak bola. Tapi sayangnya, kawan saya ini lebih memilih mengabdi sebagai guru di kampungnya, demi memajukan masyarakat di kampungnya. Selain sebagai seorang pegawai negeri, dia juga seorang pebisnis. Dia menduniakan kampungnya sehingga kampungnya banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, mulai dari belgia sampai amerika. Menyelam adalah kegiatan utama bisnisnya. Penginapan, makan minum, dan antar jemput adalah tiga pendukung utama bisnisnya. Bisnisnya berjalan dengan lancar dan jaya selama tahun-tahun awal, sampai dengan secara tidak langsung dimatikan china local.
Dari sekian tahun saya berhubungan dengan dua kawan saya ini, saya mendapati kawan saya yang sekolah ini, orangnya bukan cuma baik tapi juga pintar. Dia tak mau sembarangan menanggapi berita-berita yang tak benar-benar dia ketahui kenyataannya. Dan dari tanggapan-tanggapannya sering menunjukkan dia memang orang yang pintar. Pikiran-pikirannya tentang kampungnya sangat jelas dan terarah. Sedangkan kawan saya yang satu lagi itu, kebiasaannya di facebook sering membuat saya geram. Meskipun bukan geram marah. Tapi saya bisa maklum dengan dia, karena dia tak sekolah dan dulu tak pernah rutin baca koran. Hanya Al-Qur'an yang biasa dia baca. Ini disebabkan dia anak seorang nelayan, yang sangat berat pada tahun 60an untuk bisa sekolah di tanjungpinang. Beasiswa dari negara dan tauke pun tak ada. Bagi saya, hukuman untuk orang seperti kawan saya yang sering asal cakap ini adalah tidak dihukum tapi juga tidak ditolong.
Pengalaman ini membuktikan perbedaan yang jelas antara orang yang sekolah dengan orang yang tak sekolah. Juga sebab prasarana tempat tinggal yang sangat menentukan. Apabila mereka bukan berasal dari keluarga pebisnis. Besar dampaknya bagi kehidupan. Dalam arti, selama orang-orang yang sekolah itu betul-betul sekolah. Bermainnya tidak lebih banyak dibandingkan belajarnya. Disinilah negara menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dengan keadaan ini, karena kawan saya yang cerewet itu menjadi begitu disebabkan kelalaian negara dalam memenuhi tanggungjawabnya melengkapi semua keperluan dasar masyarakat di kampungnya. Pengabaian tanggung jawab. Jangankan kedai buku, setidaknya perpustakaan pun sampai sekarang tak ada. Dan kebijakan selama puluhan tahun yang terlalu mengutamakan jakarta, sehingga masyarakat di daerah-daerah lain banyak menjadi korbannya. Jangankan di kepulauan riau, di banten yang sedekat itu pun masih banyak yang tak layak.
Sebelum tidur saat sudah melepas telpon pribadi dan mematikan lampu, sekali-sekali kadang saya terpikir dengan kawan saya yang tak sekolah dan murah senyum itu. Dalam keadaan tak sekolah dia bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran seperti itu, apalagi kalau dia sekolah. Kuliah. Mungkin dia jauh lebih pintar daripada kawan saya yang sekolah itu. Bisa-bisa dia jadi gubernur. Atau CEO Marriott.
------------
Penulis adalah penggemar Indonesia Lawak Club, Bukan Empat Mata, Wara-Wiri, Ups... Salahhh, Walk the Talk, dan John Pantau. Berdatok seorang nelayan. Nak Dara Rindu adalah lagu Melayu kegemarannya.

Komentar Via Facebook :