Refleksi 196 Tahun Kota Batam

Batam Unggul dan Berdaya Saing

Batam Unggul dan Berdaya Saing

Raja Dachroni.

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Raja Dachroni

Tepat pada 18 Desember 2025 Kota Batam genap berusia 196 tahun. Usia yang matang bagi sebuah kota yang telah tumbuh dari perkampungan kecil menjadi kawasan industri dan perdagangan berskala internasional. Letaknya yang strategis hanya sepelemparan batu dari Singapura membuat Batam menempati posisi penting dalam peta ekonomi nasional.

Tapi dalam hiruk-pikuk pertumbuhan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sudahkah Batam benar-benar unggul dan berdaya saing?

Bagi saya, peringatan hari jadi Batam tahun ini bukan hanya momentum seremonial, melainkan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi mendalam. Sebagai warga Pulau Bintan yang relatif sering ke Batam menyaksikan denyut nadi kota ini dari dekat, saya percaya bahwa Batam punya semua syarat untuk menjadi kota modern dan kompetitif. Namun realitas di lapangan menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah: mulai dari ketimpangan pembangunan, kualitas SDM lokal yang belum merata, hingga tantangan dalam reformasi birokrasi dan tata ruang.

Batam butuh lompatan visi dan aksi. Tidak cukup hanya dengan mengejar angka pertumbuhan ekonomi atau menjaring investor sebanyak-banyaknya. Yang dibutuhkan adalah pembangunan yang inklusif, berbasis potensi lokal, dan berpihak pada masyarakat. Mewujudkan Batam unggul dan berdaya saing harus dimulai dari keberanian mengevaluasi diri dan komitmen untuk berubah.

Apa makna “unggul” dan “berdaya saing” bagi Batam? Dalam pandangan saya, kota yang unggul adalah kota yang bisa menciptakan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kualitas hidup masyarakatnya. Kota yang berdaya saing adalah kota yang mampu menarik investasi tanpa mengorbankan lingkungan dan kepentingan publik.

Saat ini, harus diakui Batam memiliki potensi besar. Infrastruktur relatif lengkap, posisi geografis yang sangat strategis, serta dukungan kebijakan dari pusat menjadikan kota ini salah satu tumpuan ekonomi nasional. Tapi keunggulan ini belum sepenuhnya terasa oleh sebagian warga. Masih banyak wilayah pinggiran Batam yang tertinggal, layanan publik yang lambat, dan tantangan sosial yang terus mengemuka misalnya persoalan sampah dan banjir. Pembangunan Batam terlalu terpusat pada industrialisasi, namun belum sepenuhnya menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks daya saing, ada tiga hal yang menurut saya perlu menjadi fokus. Pertama, kualitas SDM. Kota ini tidak akan bisa bersaing secara global jika tenaga kerjanya tidak dibekali dengan keterampilan abad 21. Pendidikan vokasi, pelatihan digital, hingga kemitraan dengan industri harus diperkuat. Kedua, reformasi birokrasi. Iklim investasi tidak hanya soal infrastruktur, tapi juga soal kemudahan layanan dan kecepatan perizinan. Ketiga, penataan kota yang berkelanjutan. Kota ini tidak boleh dibangun hanya untuk industri, tapi juga untuk manusia yang tinggal di dalamnya.

Saya juga melihat pentingnya memperkuat sektor ekonomi rakyat. UMKM harus menjadi bagian dari strategi pembangunan, bukan sekadar pelengkap. Begitu pula dengan ekonomi kreatif, pariwisata, dan sektor jasa yang potensial berkembang. Batam harus melangkah dari kota industri ke kota inovasi  dan ini hanya bisa terjadi jika ada keberpihakan pada ide, kreativitas, dan masyarakat lokal.

Menjadi kota unggul dan berdaya saing bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan. Di usia ke-196 ini, Batam punya kesempatan untuk melangkah lebih jauh  tidak hanya sebagai kota industri, tapi sebagai kota yang manusiawi, modern, dan inklusif. Perubahan harus dimulai dari keberanian pemerintah untuk keluar dari pola lama, dari keberanian masyarakat untuk terlibat aktif, serta dari kolaborasi lintas sektor yang nyata.

Saya percaya, jika arah pembangunan Batam mulai berpihak pada kualitas hidup, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan warga, maka predikat kota unggul bukan hanya slogan, melainkan kenyataan. Dan Batam bisa menjadi model kota masa depan  bukan hanya karena gedung tingginya, tapi karena kualitas manusianya.

Refleksi 196 tahun ini bukan sekadar melihat ke belakang, tetapi menatap ke depan. Sudah saatnya Batam tidak hanya membangun gedung, tapi juga membangun harapan. Tidak hanya menarik investasi, tapi juga menciptakan keadilan. Batam unggul dan berdaya saing bukanlah mimpi asalkan kita semua mau bergerak bersama. Semoga!

-------

Penulis adalah Seorang Ayah Empat Anak dan Warga Pulau Bintan yang Relatif Sering Pulang Pergi ke Batam 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :