SOS Nelayan Bengkong: Reklamasi Gencar Ancam Mata Pencaharian, Minta Solusi Pemerintah

SOS Nelayan Bengkong: Reklamasi Gencar Ancam Mata Pencaharian, Minta Solusi Pemerintah

Tampak Gangguan Pada Aliran Sungai di Tanjung Buntung, Bengkong, Kota Batam, Diduga Akibat dari Aktivitas Reklamasi, Jumat (05/12/2025). (foto. batamnews.co.id).

Nurjali

Batam, Batamnews – Deru mesin dan timbunan pasir di perairan Bengkong, Batam, tak hanya mengubah wajah pesisir. Aktivitas reklamasi yang gencar itu kini dirasakan langsung dampaknya oleh para nelayan setempat: aliran sungai terganggu, hasil tangkapan merosot, dan masa depan penghidupan mereka terancam.

Ketua Himpunan Kelompok Bersama Nelayan Bengkong (HKBNB) Batam, Syahrial Edi, menyuarakan keprihatinan tersebut. 

Ia menyatakan, kondisi aliran sungai Bengkong di dekat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), antara Ocarina dan Golden Prawan, Tanjung Buntung, semakin memprihatinkan.

Baca juga: Reklamasi Masif di Tanjung Piayu Hancurkan Belasan Hektare Hutan Mangrove

"Kita sangat mendukung pembangunan kota Batam, karena itu untuk kemajuan bersama. Tapi, tidak bisa dibiarkan masyarakat khususnya nelayan yang menjadi korban," tegas Syahrial kepada batamnews.co.id, Jumat, 5 Desember 2025.

Menurutnya, penimbunan laut telah merusak terumbu karang, mangrove, dan habitat ikan yang menjadi sumber nafkah ratusan nelayan. Kerusakan itu berimbas langsung ke pendapatan.

"Pencemaran dan kerusakan habitat membuat hasil tangkapan kita semakin menurun. Kadang kita keluar laut seharian cuma dapet sedikit, bahkan tidak ada sama sekali. Ini sungguh menyengsarakan," keluhnya.

Fakta di lapangan menguatkan keluhan itu. Aliran sungai di lokasi terlihat menyempit dan tergenang di beberapa titik. Di dekat muara, tumpukan pasir dari proyek reklamasi jelas terlihat. 

Kondisi ini tidak hanya menghambat aliran air yang berpotensi memicu banjir, tetapi juga merusak ekosistem laut yang sensitif.

Reklamasi di Bengkong bukan tanpa catatan. Berbagai penelitian telah mengungkap kerusakan lingkungan dengan tingkat berat di wilayah ini, termasuk perubahan garis pantai, pendangkalan, dan hancurnya terumbu karang. Padahal, ekosistem tersebut adalah tempat ikan berkembang biak. Hilangnya tempat itu berarti menggerus mata pencaharian nelayan perlahan-lahan.

Di tengah tekanan itu, Syahrial dan para nelayan mengulurkan tangan, meminta intervensi pemerintah.

Baca juga: Nasib Nelayan Nongsa Terabaikan, Reklamasi PT BSI Kembali Bergulir

"Mohon pihak pemerintah segera mencari solusi bagi kita. Bisa jadi dengan membangun pelantar nelayan yang layak, atau melakukan rehabilitasi ekosistem," pintanya.

Harapan terbesarnya sederhana namun mendasar: pemerintah mampu menyeimbangkan semangat pembangunan dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat kecil yang hidup bergantung pada laut.

Pertanyaannya kini, apakah teriakan minta solusi dari Bengkong ini akan sampai ke telinga pengambil kebijakan, sebelum mata pencaharian mereka benar-benar tenggelam oleh timbunan pasir reklamasi?

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :