Industri Fast Food: Bisnis Untung tapi Tubuh Rugi

Industri Fast Food: Bisnis Untung tapi Tubuh Rugi

Ilustrasi makanan cepat saji (Foto: Freepik.com)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Muhammad Fariq

Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan instan ini, makanan cepat saji atau bisa dibilang fast food telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Siapa yang tidak mengenal merek besar seperti KFC, McD, Burger King, hingga Pizza Hut? Dengan kenyamanan yang ditawarkan, dari proses pemesanan hingga makanan datang hanya dalam hitungan menit. Seolah menjadi sebuah solusi yang instan di tengah kesibukan. Tanpa perlu menunggu lama serta harga yang terjangkau, membuat makanan cepat saji menawarkan kemudahan yang sulit untuk ditolak.

Namun, di balik kenikmatan dan kepraktisan yang ditawarkan, membuat kita lupa bahwa makanan yang tampak sederhana dan mengandung bahan dasar yang sehat seperti roti, daging, dan sayur sering kali dicap sebagai junk food oleh para ahli kesehatan. Lalu apa yang salah pada dengan makanan ini? Bukankah roti, daging, dan sayur adalah bahan makanan bergizi? Jawabannya terletak pada cara pengolahan dan keseimbangan gizi pada bahan yang digunakan.

Industri fast food tidak membuat makanan dari nol di setiap restorannya. Melainkan ada proses pengolahan massal atau dilakukan secara besar-besaran yang berlangsung di pabrik, di mana bahan-bahan makanan karena produk fast food harus diawetkan supaya bisa bertahan lama di berbagai tempat, pabrik-pabrik pengolahan menggunakan bahan kimia seperti pengawet, garam, dan gula dalam jumlah yang tinggi.

Selain itu, penggunaan bahan penguat rasa seperti MSG membuat rasa dari sebuah makanan menjadi sangat kuat dan juga biasa kita temukan di banyak produk fast food. Penggunaan bahan-bahan ini tidak hanya berfungsi sebagai penguat rasa tetapi juga untuk menciptakan rasa candu yang membuat para konsumen ingin terus membelinya dan mengonsumsinya berulang kali.

Misalnya, produk seperti bakso, sosis, nugget yang sering kali kita anggap sehat karena terbuat dari daging, kenyataannya malah mengandung lebih banyak komposisi tepung dibanding dengan dagingnya. Supaya produk terasa lebih gurih dan menarik, produsen bahkan menambahkan MSG, garam, gula secara berlebihan, sehingga kandungan gizinya menjadi tidak sebanding dengan bahan kimia yang ada.

Kandungan natrium (garam), gula, dan MSG yang tinggi dalam produk fast food dan jajanan luar seperti frozen food, jika dikonsumsi secara berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Seperti obesitas, hipertensi, diabetes, bahkan gangguan jantung. Belum lagi zat pengawet dan bahan kimia lain yang dapat menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan gangguan metabolisme.

Selain itu, penggunaan bahan pengawet serta zat adiktif juga membuat kualitas bahan makanan tidak lagi murni. Roti, daging, dan sayuran yang seharusnya menjadi bahan makanan yang sehat malah menjadi terkontaminasi zat tambahan agar bisa tetap awet dan “memikat” liodah pembeli, namun tidak memberikan nutrisi seimbang yang kita butuhkan.

Melihat dari fakta-fakta ini, tidak heran jika banyak orang dan ahli gizi lebih menyarankan kita untuk memilih makanan rumahan atau real food, yaitu makanan yang diolah secara sederhana, segar, dan dapat menjaga keseimbangan gizinya. Dengan kita memasak sendiri, kita dapat mengendalikan bahan yang masuk ke dalam makanan kita, mulai dari pemilihan bahan dasar sampai pada takaran bumbu yang kita inginkan sehingga lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi.

Misalnya membuat burger sendiri dari roti pilihan, daging dan sayuran segar, serta sedikit saus buatan sendiri tentu jauh lebih sehat jika dibandingkan dengan restoran cepat saji yang bahan dasarnya sudah diproses panjang dan ditambahkan banyak penyedap dan juga pengawet.

Satu hal yang cukup menarik adalah soal harga. Dikarenakan banyak produk fast food dijual dengan harga yang relatif lebih terjangkau, bahkan di banyak negara popularitasnya hampir sama seperti warteg atau kedai makan pada umumnya. Hal ini berbanding terbalik jika dibandingkan dengan produk makanan atau jajanan yang sedikit lebih sehat dan diolah secara normal dengan menggunakan bahan-bahan berkualitas yang biasanya dihargai lebih mahal.

Karena bisnis adalah soal bagaimana cara memperoleh keuntungan, produsen berusaha untuk menekan harga produksi dengan berbagai cara, termasuk menggunakan bahan pengawet dan penyedap supaya produk bisa tahan lama dan digemari oleh banyak orang. Strategi ini terbukti efektif dari sisi bisnis karena bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar, tetapi juga bisa berbahaya bagi kesehatan konsumen jika terlalu sering dikonsumsi.

Tidak jarang kita menjumpai restoran cepat saji yang mengklaim bahwa produk yang dijualnya “sehat” atau menggunakan bahan-bahan yang segar seperti sayuran dan bahan makanan berprotein tinggi. Namun kenyataannya, semua makanan yang dijual di restoran cepat saji pasti sudah mengalami beberapa proses pengolahan dan modifikasi agar sesuai dengan standar produksi massal harga jual.

Jadi walaupun makanan cepat saji tampak sehat dari luar, realitanya kandungan kimia, garam, gula, dan bahan tambahan lainnya bisa menghilangkan manfaat gizi yang semestinya ada dari bahan makanan aslinya. Fenomena ini sering disebut sebagai Ultraprocessed food, yaitu makanan yang sudah melewati berbagai macam tahap pengolahan dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga jauh dari bentuk aslinya.

Tidak ada yang salah jika seseorang sesekali menikmati fast food. Namun, penting untuk menyadari bahwa harga murah sering kali datang dengan konsekuensi terhadap kesehatan. Kesadaran inilah yang perlu dibangun agar masyarakat tidak hanya menilai makanan hanya dari rasa dan harga, tetapi juga dari keseimbangan gizi yang diperoleh.

Pada akhirnya, masalah utama dari makanan cepat saji bukan terletak pada komposisi bahan-bahan dasarnya, melainkan pada cara pengolahannya dan ketidakseimbangan komposisi gizi di dalamnya. Industri fast food hadir karena memenuhi keinginan manusia akan makanan praktis, cepat, dan dengan harga yang terjangkau. Namun, proses besar dan kebutuhan bisnis ini memaksa makanan ini menggunakan bahan tambahan secara berlebihan yang membuatnya kurang sehat dan bahkan berbahaya jika dikonsumsi secara terus-menerus.

Kita tidak perlu menghindari fast food sepenuhnya, yang perlu kita lakukan adalah mengonsumsinya secara bijak, atau sesekali saja, bukan setiap hari. Dan jadikan makanan seperti itu sebagai reward atau hadiah, bukan sebagai kebiasaan.

Dengan kita memahami bagaimana cara kerja industri makanan, kita bisa lebih sadar dalam memilih apa yang kita makan. Karena pada akhirnya, seperti yang sering dikatakan, “you are, what you eat” (Ludwig Feuerbach), kualitas hidup kita sangat bergantung pada kualitas makanan yang kita konsumsi.

Maka, kita bisa memulainya dari cara yang paling sederhana yaitu dengan cara mengurangi makan makanan olahan, memasak hidangan yang bergizi lebih sering di rumah, dan memilih bahan makanan yang segar serta mengatur pola makan. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga tubuh tetap sehat, tetapi juga belajar bagaimana proses di balik setiap hidangan yang kita nikmati.

-----------

Penulis adalah mahasiswa prodi kajian film, televisi dan media di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang

 

 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :