Jembatan Dompak: Berolahraga di Ruang Publik, Ramai Langkah, Sepi Kesadaran
Suasana di Jembatan Dompak Tanjungpinang.
Oleh: Rini Susanti
Setiap sore, Jembatan Dompak di Kota Tanjungpinang menjelma jadi arena olahraga rakyat. Warga berjalan kaki, berlari, dan bersepeda di atas jembatan yang membentang indah di atas laut. Infrastruktur yang semula dirancang sebagai penghubung Pulau Bintan dengan kawasan pusat pemerintahan itu kini menjadi ruang publik baru. Namun di balik semangat hidup sehat, terselip persoalan klasik: kesadaran keselamatan yang belum tumbuh seiring antusiasme.
Fenomena meningkatnya aktivitas warga di Jembatan Dompak menunjukkan bagaimana infrastruktur bisa berubah fungsi menjadi ruang sosial. Dengan panorama laut dan hembusan angin sore, kawasan ini memikat masyarakat untuk berolahraga tanpa biaya. Data Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Tanjungpinang (2024) mencatat peningkatan aktivitas olahraga luar ruang sebesar 32 persen dibanding dua tahun sebelumnya — sebagian besar terjadi di area publik seperti Taman Gurindam 12 dan Jembatan Dompak dan jalan Bandara Raja Ali Haji Fisabilillah.
Namun, popularitas itu membawa konsekuensi. Berdasarkan pantauan Satlantas Polresta Tanjungpinang (September 2025), masih banyak warga yang berjalan atau bersepeda di jalur kendaraan tanpa mematuhi marka pembatas. Kondisi ini menimbulkan keluhan dari pengguna jalan bermotor dan meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas. Padahal, menurut Kementerian Perhubungan (2023), pelanggaran penggunaan jalur di area jembatan menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan ringan di kawasan perkotaan Indonesia.
Masalahnya bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran publik. Banyak warga belum memahami bahwa keselamatan adalah bagian dari etika ruang publik. Penelitian Pusat Penelitian Transportasi ITB (2022) menyebut, keberhasilan kota dalam menciptakan ruang publik sehat bergantung pada tiga unsur: desain aman, regulasi yang tegas, dan perilaku warga yang disiplin.
Pemerintah Kota Tanjungpinang sebenarnya telah berupaya menertibkan aktivitas di Jembatan Dompak, termasuk dengan menyediakan jalur khusus pejalan kaki dan sepeda. Namun, tanpa sosialisasi berkelanjutan dan pengawasan rutin, aturan itu mudah diabaikan. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas olahraga, dan warga menjadi penting untuk memastikan jembatan ini tetap aman dan nyaman.
Jembatan Dompak bukan sekadar bangunan beton penghubung dua daratan. Ia adalah simbol bagaimana kota kecil pesisir menata dirinya menjadi ruang hidup yang lebih manusiawi. Tapi ruang publik yang sehat hanya akan bertahan jika kesadaran kolektif ikut tumbuh. Ketika setiap langkah kaki di atas jembatan disertai tanggung jawab dan empati terhadap sesama pengguna jalan, saat itulah Jembatan Dompak benar-benar menjadi jembatan menuju kota yang tertib, sehat, dan beradab.
-----------
Penulis adalah mahasiswi prodi kajian film, televisi dan media di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.

Komentar Via Facebook :