Tarif AS Ancam Ledakan Ekspor Kosmetik Korea, Bagaimana Nasib K-Beauty? 

Tarif AS Ancam Ledakan Ekspor Kosmetik Korea, Bagaimana Nasib K-Beauty? 

Produk kecantikan Korea (Korean ARtiz Studio)

Nurjali

Batam, Batamnews - Dulu, produk kecantikan Korea jarang terdengar di luar Asia. Kini, mereka sudah mampu bersaing dengan merek-merek ternama dari Prancis dan Amerika Serikat.

Buktinya, ekspor kosmetik Korea Selatan melonjak 20 persen ke rekor tertinggi 10,28 miliar dolar AS tahun lalu. 

Data pemerintah mencatat, gelombang popularitas K-pop, drama Korea, dan ketertarikan global pada perawatan kulit Korea menjadi pendorong utamanya. Negeri Ginseng ini kini menjadi pengekspor produk kecantikan terbesar ketiga di dunia, dan yang terbesar ke AS.

Namun, gebrakan kecantikan ini kini menghadapi tantangan baru.

Baca juga: Kelola Bekas Pelabuhan Antam, Bintan Gandeng Instansi Vertikal Siapkan BUMD Kepelabuhan

Pada 29 Agustus lalu, AS menghapus keringanan pajak untuk paket kecil senilai 800 dolar AS atau lebih rendah yang masuk ke negaranya. Artinya, kosmetik impor asal Korea sekarang dikenai tarif sebesar 15 persen.

Kebijakan baru ini bisa memukul industri produk kecantikan indie Korea, yang meski skalanya kecil tapi tengah tumbuh pesat.

Kolmar Korea, produsen raksasa yang memproduksi kosmetik untuk lebih dari 1.000 merek global, mengaku dampak langsung tarif ini terhadap penjualan masih terbatas. Tapi, perusahaan ini memperingatkan bahwa tekanan bisa saja meningkat.

"Tarif ini sedang diserap oleh merek-merek itu sendiri, dan beberapa masih berusaha mengatasinya. Untuk saat ini, volume produk yang kena tarif belum cukup besar untuk terdampak serius," jelas Han Sang Keun, Wakil Presiden Penelitian dan Pengembangan perusahaan.

"Dampak tarif akan terasa signifikan jika volumenya jauh lebih besar," tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, Kolmar berinvestasi dengan membangun pabrik di AS. Dengan memproduksi sebagian produk K-beauty secara lokal, mereka tidak hanya menghemat biaya tarif, tetapi juga memangkas waktu pengiriman bagi pelanggan Amerika.

Han meyakini, suatu hari nanti merek Korea akan diakui sebagai merek global utama di AS. "Saat itu terjadi, isu seperti perbedaan harga dan waktu pengiriman menjadi kritis. Produksi harus dilakukan secara lokal agar lebih cepat dan efisien," ujarnya.

"Mengirim satu atau dua produk dan membayar tarifnya masih baik-baik saja. Tapi ketika volumenya mencapai puluhan ribu atau bahkan jutaan, produksi lokal jauh lebih efisien."

Merek Korea lain, seperti startup Lillycover, percaya diri bisa menghadapi tarif AS berkat popularitas produk K-beauty. Perusahaan yang baru saja menciptakan alat perawatan kulit cerdas berbasis AI dan *big data* ini menyatakan kelenturan dalam menghadapi perubahan.

"Kami bisa menurunkan harga, bernegosiasi dengan klien, atau menawarkan bonus tambahan. Saya yakin kami bisa mencatat penjualan yang melebihi dampak 15 persen itu," kata Cliff Kim, manajer senior di departemen penjualan internasional Lillycover.

Di sisi lain, pembeli di AS juga mencari cara untuk meringankan beban tarif. Salah satunya adalah Roh Sun Min, CEO RBB Studio, yang mengubah strategi pemasarannya.

"Dulu, saya kadang sourcing melalui distributor, bukan langsung dari merek. Harga distributor lebih mahal, yang berarti tarifnya juga lebih tinggi. Kami kini beralih ke impor langsung dari merek untuk menekan biaya dan mengatasi masalah tarif," paparnya.

Pada Juli lalu, AS sebenarnya setuju untuk menurunkan tarif umumnya untuk produk Korea dari 25 persen menjadi 15 persen, sebagai imbalan atas investasi Korea Selatan sebesar 350 miliar dolar AS di industri Amerika. Namun, kesepakatan final antara Seoul dan Washington masih belum tercapai.

Baca juga: Dosa Diampuni, Cukai Harus Dibayar: Strategi Baru Menkeu Lawan Rokok Ilegal

Meski ada ketegangan perdagangan, optimisme tetap mengemuka di industri. Sektor kecantikan Korea Selatan terus memikat konsumen global dengan inovasi, produk yang tren, dan pengaruh budayanya yang kuat.

Pertanyaannya sekarang, sejauh dan secepat apa K-beauty bisa berkembang, sangat bergantung pada kemampuannya menghadapi rintangan perdagangan yang baru ini.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :