Perusahaan Navigasi ini PHK 300 Karyawan, Beralih ke AI: Ancaman Robot Makin Nyata?  

Perusahaan Navigasi ini PHK 300 Karyawan, Beralih ke AI: Ancaman Robot Makin Nyata?  

Salah satu alat navigasi buata tomtom (foto: Dok. Tomtom)

Nurjali

Jakarta, Batamnews – Perusahaan navigasi mobil asal Belanda, TomTom, mengumumkan pada Senin, 30 Juni 2025 bahwa mereka akan memangkas 300 pekerjaan atau sekitar 10% dari total tenaga kerjanya dalam upaya menghentikan kerugian finansial dan beralih ke artificial intelligence (AI).  

Berkantor pusat di Amsterdam, TomTom dulunya merupakan pelopor navigasi digital di mobil, tetapi mulai kesulitan bersaing di era dominasi Apple Maps dan Google Maps.  

Dalam pernyataan resminya, TomTom menyatakan bahwa perusahaan sedang "menyelaraskan ulang organisasinya... seiring dengan adopsi AI," yang mengakibatkan "perubahan struktural." 

Perubahan ini akan memengaruhi "beberapa posisi di tim pengembangan aplikasi serta fungsi penjualan dan dukungan, sehingga mengurangi 300 pekerjaan." Saat ini, TomTom memiliki sekitar 3.600 karyawan di seluruh dunia.  

Baca juga:  Elon Musk Vs Trump: RUU Triliunan Dolar Dinilai 'Gila dan Merusak' oleh Bos Tesla 

Perusahaan memproyeksikan penurunan pendapatan dari €574 juta (sekitar AU$1,029 miliar) pada 2024 menjadi €505–565 juta tahun ini.  

CEO TomTom, Harold Goddijn, pada April lalu mengatakan kepada investor bahwa ketegangan perdagangan akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump membuat prospek jangka pendek perusahaan "sulit diprediksi." Namun, ia tetap "yakin dengan trajektori jangka panjang" TomTom.  

Langkah TomTom ini terjadi di tengah prediksi bahwa AI akan mengubah drastis pasar tenaga kerja global pada 2050. Laporan dari PwC, McKinsey, dan World Economic Forum memperkirakan bahwa hingga 60% pekerjaan saat ini akan membutuhkan adaptasi signifikan akibat AI. Di Australia, beberapa sektor sudah mulai merasakan dampaknya.  

Pada Mei lalu, news.com.au memberitakan kisah seorang resepsionis klinik di Sydney yang digantikan oleh AI. Empat staf diberitahu bahwa email akan secara otomatis disortir ke kotak masuk terpisah, sementara pasien akan disambut dengan pesan komputer generik: 

"Terima kasih, kami akan segera menghubungi Anda."  

Niusha Shafiabady, profesor di Charles Darwin University, memperingatkan bahwa pekerjaan yang bersifat repetitif dan tidak membutuhkan banyak analisis akan paling cepat terdampak.  

"Misalnya, pekerjaan administratif, sekretaris, atau resepsionis," katanya. Ia juga menyebutkan bahwa enam pekerjaan paling berisiko di Australia semuanya berada di bidang administrasi, termasuk:  

  1. Pekerja call center – Tugasnya dapat dengan mudah direplikasi oleh sistem AI.  
  2. Sekretaris dan penerjemah bahasa asing – Teknologi AI sudah mampu menangani banyak fungsi ini.  
  3. Resepsionis klinik dokter – Bisa digantikan dengan relatif mudah.  
  4. Akuntan/pembukuan – Aliran informasi dapat dikelola oleh perangkat lunak.  
  5. Pemasukan data – Pekerjaan ini sangat rentan terhadap otomatisasi.  

Baca juga: Eskalasi Konflik Israel-Iran: Serangan Rudal Balas Dendam, Komandan Senior Tewas

Bahkan, pekerjaan seperti pramusaji di restoran cepat saji mulai terancam, seperti yang diperlihatkan dalam video viral pekan lalu, di mana AI terbukti mampu mengambil pesanan dengan efisien.  

Profesor Shafiabady menekankan bahwa setidaknya jumlah lowongan untuk pekerjaan administratif akan berkurang. Ia menyarankan agar pekerja mulai meningkatkan keterampilan analitis dan kreatif untuk tetap relevan di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.  

Sementara TomTom berusaha beradaptasi dengan AI, nasib ratusan karyawan yang terkena PHK menjadi pengingat nyata bahwa revolusi teknologi tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan besar bagi tenaga kerja global.  

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :