Elon Musk Vs Trump: RUU Triliunan Dolar Dinilai 'Gila dan Merusak' oleh Bos Tesla 

Elon Musk Vs Trump: RUU Triliunan Dolar Dinilai

Elon Musk kembali melancarkan kritik pedas terhadap RUU besar Presiden AS Donald Trump.

Nurjali

Jakarta, Batamnews — Elon Musk kembali melancarkan kritik pedas terhadap RUU besar Presiden AS Donald Trump, menyebutnya sebagai "kekejian yang menjijikkan" dan mengancam jutaan lapangan kerja di Amerika. 

Komentar tajam miliarder CEO Tesla dan SpaceX ini menambah panas perseteruannya dengan Trump, di tengah upaya Partai Republik mendorong pengesahan kebijakan andalan sang presiden.  

Senat AS mulai melakukan pemungutan suara untuk memulai debat terkait RUU senilai triliunan dolar yang terdiri dari 940 halaman tersebut. 

Baca juga: 10 Mobil Terbaik 2025 Versi Car & Driver: Pilihan Terbaik untuk Performa dan Kenyamanan

Jika disetujui, RUU ini akan mempermanenkan pemotongan pajak era Trump 2017, menghapus pajak atas tip dan kerja lembur, meningkatkan pendanaan keamanan perbatasan, serta mencabut insentif pajak energi hijau yang diberlakukan saat pemerintahan Biden.  

RUU ini juga diperkirakan akan menaikkan batas utang negara sekitar $5 triliun untuk memuat semua kebijakan tersebut. Momen ini bisa menjadi penentu bagi Partai Republik, yang telah mengerahkan banyak modal politik untuk kebijakan dalam negeri Trump.  

Sebelum pemungutan suara dimulai, Musk—yang sebelumnya mendonasikan $250 juta untuk kampanye Trump—kembali menyerang RUU tersebut melalui unggahan di platform X miliknya.  

"RUU terbaru Senat ini akan menghancurkan jutaan pekerjaan di Amerika dan menyebabkan kerugian strategis besar bagi negara kita!" tulis Musk. 

"Sangat gila dan merusak. Ini memberi subsidi untuk industri masa lalu sementara merugikan industri masa depan."

Kritik Musk memperuncing ketegangannya dengan Trump, yang sebelumnya memperingatkan Partai Republik bahwa menolak RUU ini adalah "pengkhianatan terbesar".  

"Dengan disahkannya RUU ini, rakyat Amerika akan menyimpan lebih banyak uang hasil jerih payah mereka dan membawa pulang gaji lebih besar," kata Trump dalam pernyataan Gedung Putih yang dikutip NewsNation.  

RUU ini intinya mempermanenkan pemotongan pajak era Trump yang akan berakhir tahun ini jika tidak diperpanjang. 

Selain itu, RUU ini juga memberikan insentif baru seperti penghapusan pajak tip dan alokasi $350 miliar untuk keamanan nasional, termasuk agenda deportasi massal Trump.  

Baca juga: Eskalasi Konflik Israel-Iran: Serangan Rudal Balas Dendam, Komandan Senior Tewas

Partai Republik, yang memiliki mayoritas tipis 53-47 di Senat, hanya bisa kehilangan tiga suara agar RUU ini lolos—dengan dukungan vote penentu Wakil Presiden JD Vance. Namun, beberapa senator Republik seperti Thom Tillis menyatakan keberatan dan menolak memberikan suara pendukung.  

Sementara itu, pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menuduh Partai Republik terburu-buru mengesahkan RUU sebelum publik memahami isinya sepenuhnya.  

Trump berharap RUU ini bisa disahkan sebelum tenggat 4 Juli. "Para Republikan hebat di Senat bekerja sepanjang akhir pekan untuk menyelesaikan RUU 'SATU, BESAR, INDAH' kita," tulis Trump di Truth Social, Jumat, 28 Juni 2025.

Pertarungan politik ini akan terus memanas, dengan Musk dan Trump—dua tokoh paling berpengaruh di AS—kini berada di kubu berseberangan.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :