Kebijakan Trump AS Bakal Rugi Sendiri Akibat Tarif Daging Sapi, Steak Wagyu Bisa Tembus Rp7 Juta
Ilustrasi Daging Sapi.
Jakarta, Batamnews – Warga Australia yang sedang berkunjung ke Amerika Serikat (AS) mungkin harus merogoh kocek lebih dalam untuk menikmati steak wagyu, dengan harga yang bisa mencapai lebih dari AU$460 (sekitar Rp4,7 juta) akibat kebijakan tarif impor daging sapi oleh pemerintahan Donald Trump.
Bahkan, jaringan restoran cepat saji ternama seperti McDonald’s, Burger King, hingga supermarket Costco dan beberapa universitas terkemuka AS mengimpor daging sapi dari Australia. Nilai impor daging merah Australia ke AS tahun lalu mencapai US$6 miliar (sekitar Rp96 triliun).
Dilansir dari news finance harga steak wagyu Australia di AS saat ini berkisar antara US$30 hingga US$260 (Rp480 ribu – Rp4,1 juta), tergantung kualitas potongannya.
Namun, jika tarif 10% benar-benar diterapkan, harga termahal bisa melonjak hingga US$290 (Rp4,6 juta) atau sekitar AU$460 (Rp7 juta).
Baca juga: Pria Membawa Bendera Palestina Memanjat Menara Elizabeth Big Ben, Negosiasi Masih Berlangsung
Koki ternama Australia, Neil Perry, mengatakan kepada news.com.au bahwa tarif ini kemungkinan akan mendongkrak harga burger di AS. Meski dampaknya terhadap restoran lokal belum bisa diprediksi, Perry menyebut harga menu di AS sudah "melonjak gila-gilaan" dalam beberapa tahun terakhir.
"Harganya hampir sama dengan di Australia, padahal dulu tidak pernah seperti ini bahkan dengan nilai tukar yang berbeda," ujarnya.
David Ortega, pakar ekonomi pangan dari Michigan State University, menyebut Australia sebagai pemasok utama daging sapi AS. Tarif ini berpotensi menaikkan harga pangan di Negeri Paman Sam.
"Masih terlalu dini untuk memastikan dampak pasti tarif ini pada menu tertentu, seperti cheeseburger McDonald’s atau steak Australia di restoran. Namun, biaya tambahan ini kemungkinan besar akan dibebankan ke konsumen AS," jelasnya.
Ia menambahkan, permintaan daging sapi di AS sangat tinggi, sementara populasi ternak di negara itu berada di level terendah sejak 1960-an. Akibatnya, pasar sangat bergantung pada impor.
Daging sapi Australia dihargai karena kandungan lemaknya yang rendah, sehingga sering dicampur dengan daging sapi AS untuk burger dan produk olahan lainnya.
Perusahaan besar seperti Sam’s Club, BJs, serta restoran Cava dan Sweetgreen juga akan terkena dampaknya. Bahkan, dua universitas ternama—University of Massachusetts dan Stanford University—yang menyajikan daging Australia untuk mahasiswanya juga harus menyesuaikan harga.
Michelle Korsmo, Presiden National Restaurants Association AS, mengatakan tarif ini akan "menciptakan perubahan dan gangguan" bagi industri.
John McKillop, Ketua Red Meat Advisory Council, memperkirakan tarif ini akan menambah biaya US$180 juta per tahun bagi konsumen AS. "Total dampaknya bagi konsumen AS bisa mencapai AU$600 juta," ujarnya.
Baca juga: Pemimpin Arab Ngamuk! Segera Gelar Pertemuan Darurat Bahas Rencana Trump Kuasai Gaza
Tahun lalu saja, Australia mengekspor 394.716 ton daging sapi senilai AU$4,16 miliar ke AS. McDonald’s—yang diketahui menjadi favorit Trump—menggunakan 44 juta kg daging sapi Australia untuk restorannya di luar Australia pada 2023.
Meski AS sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan dagingnya sendiri, masalahnya terletak pada jenis daging. Daging sapi AS umumnya diberi pakan biji-bijian dan lebih berlemak, sementara daging Australia adalah grass-fed (diberi pakan rumput) dan lebih rendah lemak.
Departemen Pertanian AS mewajibkan kandungan lemak dalam patty burger kurang dari 30%. Untuk memenuhi standar ini, rantai makanan cepat saji mencampur daging berlemak AS dengan daging impor yang lebih rendah lemak—termasuk dari Australia.
"Produsen daging sapi AS tidak bisa memenuhi permintaan domestik, dan Australia adalah pemasok utama untuk mengisi kekurangan steak *grass-fed* berkualitas tinggi," kata Chris Parker, CEO Cattle Australia.
Garry Edwards, Ketua Cattle Australia, menyatakan, "Saya tidak yakin konsumen AS akan senang membayar lebih untuk burger atau steak mereka dalam waktu dekat."
Sementara itu, juru bicara Meat and Livestock Australia menegaskan bahwa daging sapi Australia digunakan secara luas di seluruh AS, mulai dari toko ritel besar, restoran cepat saji, hingga universitas.
Kebijakan tarif ini dinilai sebagai "own goal" (gol bunuh diri) bagi AS, karena justru akan membebani konsumen dan industri dalam negeri mereka sendiri.
Catatan:
- Konversi kurs: 1 AUD ≈ 10.300 IDR; 1 USD ≈ 16.000 IDR (per April 2024).
- Data ekspor dan harga disesuaikan dengan laporan news australia.
Komentar Via Facebook :