Tradisi Urung Ketupat di Tanjungpinang: Bisnis Dadakan yang Tak Pernah Padam Setiap Lebaran
Penjual ketupat di Tanjungpinang.
Tanjungpinang, Batamnews – Menjelang Hari Raya Idulfitri, trotoar Kota Tanjungpinang dipenuhi oleh pedagang urung ketupat dadakan. Sejak tiga hari sebelum Lebaran, para penjual tradisional ini berjajar di pinggir jalan, melanjutkan tradisi turun-temurun yang menjadi ciri khas perayaan di daerah ini.
Bagi sebagian besar pedagang, seperti Rustini (45), berjualan urung ketupat bukan sekadar mencari rezeki, melainkan juga melestarikan warisan keluarga.
"Lapak ini sudah turun-temurun. Setiap tahun, pasti H-3 Lebaran kami sudah siap di sini," ujar Rustini, yang berasal dari Lingga, sambil menyusun anyaman ketupat di lapaknya.
Baca juga: Wilayah Mana Saja yang Berpotensi Hujan Saat Sholat Id di Batam? Ini Kata BMKG
Urung ketupat—anyaman daun kelapa yang digunakan sebagai wadah ketupat—menjadi komoditas primadona saat Lebaran. Harganya bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp15.000 per ikat (berisi 10 biji). Permintaan yang tinggi membuat para pedagang kewalahan, namun juga bersemangat.
Didin (38), salah satu pedagang, mengaku bisa menjual ribuan urung ketupat dalam waktu singkat.
"Kemarin, 1.000 biji laku dalam setengah hari. Hari ini, baru pukul 08.30 WIB, sudah terjual 1.500 biji," ceritanya sambil tangannya lincah merangkai daun kelapa segar.
Tak sedikit pembeli yang sengaja membeli dalam jumlah besar, seperti Suwarsih (52) dari Dompak.
"Saya beli 100 ikat sekaligus biar dapat diskon. Sebagian untuk keluarga, sebagian lagi pesanan tetangga," ujarnya sambil tertawa.
Baca juga: Beri Rasa Aman Kepada Masyarakat, Amsakar-Li Claudia Tinjau Arus Mudik di Pelabuhan dan Bandara
Fenomena ini menunjukkan bahwa urung ketupat bukan sekadar kebutuhan praktis, melainkan juga simbol kebersamaan. Bagi masyarakat Tanjungpinang, Lebaran tak lengkap tanpa kehadiran ketupat dalam anyaman tradisional ini.
Di tengah gempuran produk modern, tradisi urung ketupat tetap lestari. Para pedagang seperti Rustini dan Didin adalah penjaga warisan budaya yang mengikat generasi demi generasi.
"Ini bukan sekadar jualan, tapi bagian dari identitas kami," pungkas Rustini.
Seiring detik-detik Lebaran, denyut ekonomi dan budaya terus berdenyut di trotoar Tanjungpinang—menghadirkan nuansa khas yang tak tergantikan.

Komentar Via Facebook :