Nasib Pedagang Santan di Tengah Kelangkaan Pasokan Kelapa di Batam

Nasib Pedagang Santan di Tengah Kelangkaan Pasokan Kelapa di Batam

Ilustrasi

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews - Harga santan kelapa di Batam mengalami lonjakan tajam menjelang hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah, membuat pedagang dan konsumen sama-sama berada dalam posisi sulit. Berdasarkan pantauan di Pasar SP Sagulung pada Senin, 10 Maret 2025, harga santan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. 

Wati, salah satu pedagang santan di pasar tersebut, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan kelapa. "Sekarang, tinggal segini, Kemarin kios ini penuh, stoknya sampai ke belakang." ujarnya sambil menunjuk tumpukan kelapa yang hanya tersisa beberapa butir saja.

Pasokan kelapa yang biasanya didatangkan dari petani di Guntung, Tembilahan (Riau), serta Kuala Tungkal (Jambi) kini semakin langka. Kelangkaan ini berdampak langsung pada harga santan yang melonjak berlipat-lipat.

Harga santan murni kini mencapai Rp35.000 per kilogram, meningkat drastis dari harga sebelumnya Rp20.000. Sementara itu, santan campuran yang sebelumnya dijual dengan harga Rp12.000, kini melonjak menjadi Rp25.000 per kilogram.

Baca juga: Stok Kelapa Aman, Tapi Harga Santan Naik: Disperindag Batam Jelaskan Penyebabnya

Lonjakan harga tersebut telah berdampak signifikan pada penjualan. Wati mengaku, pendapatannya merosot hingga 35 persen karena konsumen mulai mengurangi pembelian. 

"Penjualan santan turun, dari 100 kilogram per hari jadi di bawah 70 kilogram, Dulu sehari bisa habis 200 butir kelapa, sekarang susah" keluhnya.

Di tengah isu ekspor kelapa yang belakangan ramai dibicarakan, Wati mengaku heran. Menurutnya, ekspor kelapa sudah berlangsung sejak lama, namun kelangkaan baru dirasakan sekarang. 

"Kata petani stok berkurang, tapi kenapa, kami pun tak tahu. Pemerintah harus turun tangan. Kasihan pembeli. Jangankan pembeli, penjual saja bingung," ujarnya.

Baca juga: Kabar Baik! Harga TBS Kelapa Sawit Umur 9 Tahun di Riau Tembus Rp 3.279,08/Kg

Lina, seorang pembeli, terpaksa beralih membeli kelapa parut untuk menghemat pengeluaran. "Rp26.000 sekilo tadi saya beli," ungkapnya. 

Sebagai ibu rumah tangga sekaligus pedagang makanan yang sangat bergantung pada santan, Rosnina berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengendalikan lonjakan harga. Kenaikan harga santan ini turut mempengaruhi penghasilan Rosnina sebagai pedagang makanan. 

Modal usahanya bertambah, sementara ia tidak bisa menaikkan harga dagangannya. "Kami kan penjual kecil-kecilan jadi terasa juga pengaruhnya," tutupnya.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak berwenang mengenai penyebab pasti kelangkaan pasokan dan kenaikan harga santan di Batam. Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini sebelum harga semakin tidak terkendali menjelang Lebaran.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :