Stok Kelapa Aman, Tapi Harga Santan Naik: Disperindag Batam Jelaskan Penyebabnya

Stok Kelapa Aman, Tapi Harga Santan Naik: Disperindag Batam Jelaskan Penyebabnya

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Elfasi, menyatakan bahwa kenaikan harga santan dipicu oleh peningkatan permintaan pada momen-momen tertentu, termasuk selama Ramadan.

Nurjali

Batam, Batamnews - Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Elfasi, menyatakan bahwa kenaikan harga santan dipicu oleh peningkatan permintaan pada momen-momen tertentu, termasuk selama Ramadan. 

"Secara umum, harga santan sebenarnya stabil. Jika ada kenaikan, itu wajar karena menjelang hari besar sering terjadi fenomena panic buying. Masyarakat yang biasanya membeli dalam jumlah sedikit, cenderung membeli lebih banyak untuk stok," jelas Elfasi.

Ia menegaskan bahwa stok kelapa sebagai bahan baku santan sebenarnya aman. Namun, lonjakan permintaan menyebabkan harga ikut naik. 

Baca juga: Manajemen Foodcourt A2 Beberkan Kronologi Kericuhan Malam Ramadan, Ada Dugaan Kesengajaan

"Pasokan kelapa sebenarnya stabil. Namun, ketika permintaan meningkat, stok yang biasanya 5 ton per hari bisa naik menjadi 7-8 ton. Hal inilah yang menyebabkan harga naik," tambahnya.

Elfasi mengakui bahwa kebutuhan kelapa di Batam belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh petani lokal seperti di Bintan dan Natuna. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dengan daerah lain untuk memastikan pasokan pangan tercukupi.

Saat ini, harga santan murni di pasar berkisar Rp46 ribu per kilogram, sementara santan campuran dijual dengan harga Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Terkait isu ekspor kelapa, Elfasi menyatakan bahwa pihaknya akan menelusuri kebenaran informasi tersebut. 

"Sejauh ini, saya belum mendapatkan konfirmasi resmi terkait hal tersebut. Namun, jika memang ada, kami akan melakukan penelusuran lebih lanjut," ujarnya.

Ia tidak menampik kemungkinan adanya ekspor kelapa, mengingat daerah penghasil pangan sering memasok barang ke Batam maupun Singapura. 

"Ini adalah persoalan bisnis. Harga barang di Singapura lebih tinggi, sehingga pebisnis cenderung mencari keuntungan lebih besar. Namun, yang terpenting adalah stok di Batam harus tetap aman. Jangan sampai kita mengekspor, tetapi di dalam negeri malah kekurangan," tegasnya.

Saat ini, Disperindag Batam sedang menjajaki kerja sama antar daerah untuk menjaga ketersediaan pangan. 

"Kami sedang merencanakan pola kerja sama dengan beberapa daerah seperti Sumatera Barat, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Aceh. Semakin banyak daerah yang bekerja sama, semakin baik untuk menjaga stok pangan di Batam," pungkasnya.

Kenaikan harga santan di Batam, termasuk di Pasar Mitra Raya Batam Centre, turut memengaruhi penjualan daging. Pedagang mengeluhkan ketidakstabilan harga santan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.

Salah seorang pedagang daging, Soni, mengungkapkan bahwa lonjakan harga santan membuat pembeli beralih ke pasar lain. 

Baca juga: DPRD Kepri Soroti Dampak Reklamasi PT Batamas Puri Permai, Disebut Jadi Pemicu Banjir 

"Harga santan pagi dan siang bisa berbeda. Apalagi saat Lebaran, harganya bisa naik dua kali lipat. Hal ini membuat pembeli berpikir ulang dan memilih berbelanja di tempat lain. Akhirnya, penjualan daging ikut terdampak," kata Soni pada Selasa, 4 Februari 2025.

Pedagang lain, Ian, menilai meskipun harga santan mahal, santan berkualitas tetap diminati. Namun, hal tersebut tetap memengaruhi penjualan daging. 

"Walaupun mahal, santan berkualitas tetap dicari. Namun, harga yang tinggi tetap berpengaruh karena membuat rendang, misalnya, membutuhkan santan dalam jumlah besar," ujarnya.

Dengan demikian, kenaikan harga santan tidak hanya memengaruhi konsumen, tetapi juga para pedagang di pasar tradisional.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :