Limbah Ayam di Ruko KBC Ganggu Pelanggan Restoran, Minta DLH untuk Turun Tangan
Terlihat suasana di Komplek Ruko Melawa Batam KBC.
Batam, Batamnews - Penghuni ruko KBC Batam mengalami gangguan serius akibat limbah ayam yang berasal dari dua pedagang makanan di area tersebut. Masalah ini telah berlangsung sejak Februari 2024 dan belum menemui penyelesaian yang memuaskan.
Sumber masalah berasal dari salah satu dapur utama yang beroperasi di kompleks ruko KBC. Usaha ini diketahui memproduksi sekitar 300 ekor ayam per hari, yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
Pengelola Melawa Batam KBC melaporkan bahwa mereka mulai menerima keluhan dari pelanggan restoran Melawa sejak bulan Februari mengenai bau tidak sedap yang berasal dari depan restoran.
Baca juga: Jaringan Judi Online Kamboja Sewa Selebgram Batam Buat Gaet Pemain
"Konsumen kami merasa terganggu karena adanya bau yang tidak sedap," ujar pihak pengelola.
Setelah tidak ada perubahan signifikan, pada bulan Maret, pengelola Melawa Batam KBC menegur kedua usaha tersebut. Pihak developer juga telah diberitahu dan menginstruksikan agar dilakukan pembersihan lingkungan setiap hari untuk mengurangi bau yang mengganggu.
Namun, masalah tidak berhenti pada bau tidak sedap. Pengelola Kedai Seingsing, usaha lain di kompleks tersebut, melaporkan insiden yang lebih serius.
"Kemarin, pelanggan saya sempat jatuh terpeleset karena lantai licin yang berasal dari limbah dapur utama," keluhnya.
Frustrasi dengan situasi ini, pengelola Seingsing berencana untuk melaporkan masalah ini ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar ada tindakan yang lebih tegas.
Pada tanggal 1 Maret 2024, laporan resmi telah dibuat ke kelurahan setempat. Warga sekitar telah menegur usaha tersebut, meminta mereka untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar ruko.
Baca juga: Seorang Pria Diduga Meninggal Dunia Setelah Tabrak Pohon di Wilayah Fanindo Batu Aji
Lebih lanjut, ada himbauan agar kedua usaha tersebut tidak menggunakan ruko sebagai dapur umum produksi, karena tidak sesuai dengan fungsi bangunan tersebut.
Saat ini, ada kemungkinan kedua usaha tersebut akan diminta untuk segera pindah dan membangun dapur umum yang sesuai dengan fungsi lokasi, tidak di pintu depan usaha atau ruko.
Kasus ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara perkembangan usaha kuliner dan kenyamanan lingkungan sekitar. Diharapkan ada solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak dalam waktu dekat.
Komentar Via Facebook :