Andai Pulau Sumatra Seperti Eropa

Andai Pulau Sumatra Seperti Eropa

Suqyan Rahmat. (Foto: dok.pribadi)

Oleh: Suqyan Rahmat

Pulau Sumatra , pulau dengan 8 provinsi di dalamnya dan pulau yang mempunyai beragam suku. Eropa, benua cantik yang terdiri dari banyak negara dan umumnya adalah negara maju. Setiap tahunnya semarak dengan kejuaraan Piala Champions dan per empat tahunnya meriah dengan ajang Piala Eropa. Membayangkan pulau Sumatra seperti Eropa adalah khayalan yang menyenangkan. Maksudnya adalah pulau Sumatra yang terdiri dari banyak negara. Seperti Inggris, Belanda, Jerman, Austria, Swiss, Italia, Prancis, Denmark, Swedia, dan Norwegia. 

Sebagai penikmat peta, saya membayangkan pulau Sumatra mengalami peningkatan status, dari provinsi ke negara. Pulau Sumatera terdiri dari enam negara. Negara-negara itu adalah Republik Aceh, Republik Tapanuli Utara, Republik Tapanuli Selatan, Republik Minang, Republik Sriwijaya, dan Republik Siak Sri Indrapura. Masing-masing negara berukuran sedang, dengan rakyat yang tidak terlalu banyak, dan dengan kekayaan alam yang sangat banyak, serta dengan sistem yang adil. Seluruh negara berbentuk Federal dan bersistem Presidensil.

Negara pertama adalah Republik Aceh. Negara yang wilayahnya berdasarkan wilayah Provinsi Aceh. Negara ini beribu kota di Lhokseumawe dan warga negaranya umumnya adalah suku Aceh. Negara ini mempunyai satu daerah istimewa, yaitu Daerah Istimewa Sabang. Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Aceh. Negara ini mengandalkan industri migas sebagai sumber pemasukan utama negaranya. Negara ini seperti Norwegia. 

Negara kedua adalah Republik Tapanuli Utara. Negara yang wilayahnya berdasarkan wilayah calon provinsi Tapanuli Utara, di provinsi Sumatera Utara bagian barat. Ditambah kabupaten Karo, kabupaten Dairi, dan kabupaten Pakpak. Negara ini beribukota di Tarutung dan warga negaranya umumnya adalah suku Batak. Negara ini mempunyai satu daerah istimewa, yaitu Daerah Istimewa Nias. Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Batak. Negara ini mengandalkan perkebunan sebagai sumber pemasukan utama negaranya.  

Negara ketiga adalah Republik Tapanuli Selatan. Negara yang wilayahnya berdasarkan wilayah calon provinsi Tapanuli Selatan, di provinsi Sumatera Utara bagian barat. Negara ini beribukota di Sidempuan dan warga negaranya umumnya adalah suku Mandailing. Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Mandailing. Negara ini mengandalkan perkebunan sebagai sumber pemasukan utama negaranya. 

Negara ke empat adalah Republik Minang. Negara yang wilayahnya berdasarkan wilayah provinsi Sumatera Barat, ditambah kabupaten Kampar dan kabupaten Kuantan Singingi di provinsi Riau. Negara ini beribukota di Pariaman dan warga negaranya umumnya adalah suku Minangkabau. Negara ini mempunyai satu daerah istimewa, yaitu Daerah Istimewa Mentawai. Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Minang. Negara ini mengandalkan perdagangan sebagai sumber pemasukan utama negaranya. 

Negara kelima adalah Republik Sriwijaya. Negara ini wilayahnya berdasarkan gabungan dari 4 provinsi, yaitu Jambi, Palembang, Bengkulu, dan Lampung. Semuanya tetap berstatus sebagai provinsi di Republik Sriwijaya. Negara ini beribukota di Lahat dan warga negaranya terdiri dari semua suku yang ada di wilayah provinsinya. Bahasa resmi negara ini adalah bahasa palembang. Negara ini mengandalkan industri migas sebagai sumber pemasukan utama negaranya. 

Dan negara yang terakhir adalah Republik Siak Sri Indrapura. Negara ini wilayahnya berdasarkan penggabungan dari provinsi Riau dan provinsi Sumatra Utara bagian timur, ditambah kabupaten Temiang di provinsi Aceh dan kabupaten Tanjung Jabung Barat di provinsi Jambi. Negara ini beribukota di Dumai dan warga negaranya umumnya adalah suku Melayu. Negara ini mengandalkan pariwisata sebagai sumber pemasukan utama negaranya. 

Semua negara dijalankan oleh seorang Presiden. Suku Aceh menjadi Presiden di Republik Aceh, suku Batak menjadi Presiden di Republik Tapanuli Utara, suku Mandailing menjadi Presiden di Republik Tapanuli Selatan, suku Minang menjadi Presiden di Republik Minang, suku Palembang menjadi Presiden di Republik Sriwijaya, dan suku Melayu menjadi Presiden di Republik Siak Sri Indrapura. Setiap negara mempunyai partai politik untuk melaksanakan kehidupan berdemokrasi, mempunyai kedutaan besar di negara-negara sahabat, dan mempunyai ketua perwakilan di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Republik Sriwijaya yang terdiri dari 4 provinsi, masing-masing provinsi mempunyai 25% perwakilan di parlemen federal. Jabatan Presiden di negara ini digilir untuk perwakilan dari setiap provinsi setiap sepuluh tahun sekali atau setelah dua periode. Di Republik Minang, 20% perwakilan di parlemen federal diisi orang Mentawai dan orang Mentawai menjadi Presiden apabila selama lima periode berturut-turut orang Mentawai tidak menjadi Presiden. Pada periode selanjutnya jika orang Mentawai ingin menjadi Presiden lagi, maka wajib mengikuti pemilihan umum.  

Setiap negara menjadikan bahasa sukunya sebagai bahasa kebangsaan di wilayah negaranya. Seperti di Aceh dengan bahasa Aceh sebagai bahasa resminya, di Tapanuli Utara dengan bahasa Bataknya, di Tapanuli Selatan dengan bahasa Mandailingnya, di Minang dengan bahasa Minangnya, di Siak dengan bahasa Melayunya, dan di Sriwijaya dengan bahasa Palembang sebagai bahasa persatuannya. Setiap bahasa kebangsaan dipakai di sekolah, di kantor, di televisi, di internet, dan di lagu kebangsaan setiap negara. Seperti lagu kebangsaan Republik Minang dinyanyikan dengan bahasa Minang. Bahasa persahabatan setiap negara juga menjadi bahasa yang dipakai pada film-film yang dibuat di negara masing-masing.

Selanjutnya setiap negara memiliki tim sepak bola kebangsaan sendiri-sendiri yang berkompetisi di tingkat internasional, seperti Piala Asia dan Piala Dunia. Setiap negara juga mempunyai maskapai masing-masing, seperti Aceh Airlines dan Tapanuli Airlines. Setiap negara mempunyai kelompok musik orkestra, seperti Dumai Philharmonic Orchestra. Dan setiap negara tentunya mempunyai mata uang, yang di setiap uangnya menampilkan tokoh bangsa masing-masing. Kota-kota setiap negara juga menjadi tujuan rutin konser seniman-seniman dunia setiap tahunnya. Mulai dari Oasis, Keane, Muse, The Corrs, Blink 182, Backstreet Boys, Black Eyed Peas, hingga Eminem.

Masing-masing negara dengan modal yang dimiliki mampu dengan cepat membangun kota-kota yang megah, dengan arsitektur khas suku masing-masing. Mulai dari istana presiden, gedung perkantoran, perkedaian, mesjid, gereja, bandara, hingga monumen pahlawan. Masing-masing negara tidak ragu menampilkan kebudayaan sukunya dalam setiap bangunan yang Didirikan. Bangsa Minang yang umumnya beradat matrilinear membangun kota dengan gedung-gedung khas Minangkabau yang beratap bagonjong di seluruh wilayahnya. Di Republik Siak membangun kota dengan gedung-gedung berpuncak selembayung, dengan ukiran Melayu di setiap badan bangunannya dan berwarna dominan kuning dengan hijau. Begitu juga dengan kota-kota di negara lain di pulau Sumatra, bangga dengan budayanya masing-masing.

Hal ini dapat segera diwujudkan karena pemerintah di seluruh wilayah negara baru itu berwenang mengelola langsung kekayaan alam di wilayahnya masing-masing. Setiap negara membuat perjanjian kerja yang sama yang saling menguntungkan antara perusahaan dengan negara masing-masing. Setiap negara mendapat 50% dari setiap bagi hasil pendapatan kekayaan alam di wilayah masing-masing, dan dari hasil pembagian itu setiap provinsi masing-masing mendapat 20%. Dengan adanya dana yang berlimpah inilah pemerintah dengan cepat membangun semua infrastruktur negara dan mensejahterakan rakyat. Semua negara mampu mewujudkan keinginannya masing-masing karena negara dikelola dengan sistem yang benar, jelas, dan adil. 

Setelah 25 tahun berdiri dan seluruh negara berjaya, akhirnya seluruh negara di pulau Sumatra bersatu dalam sebuah badan yang disebut Perserikatan Sumatra, untuk meningkatkan beragam kerjasama antar negara demi kesuksesan bersama. Perserikatan ini beribukota di Binjai dan kepemimpinannya digilir setiap dua tahun sekali. Perserikatan ini mempunyai Parlemen dan Mahkamah. Bidang-bidang yang menjadi bidang kerjasama dalam perserikatan ini adalah keamanan, lingkungan, ketenegakerjaan, perhubungan, dan pasar bersama. Semua negara di perserikatan ini memakai mata uang yang sama sejak saat itu. Dan setiap 4 tahun sekali perserikatan ini menyelenggarakan pesta olahraga senusantara, yang mencakup seluruh negara di Nusantara. Seperti Indonesia dan Filipina. 

Pembangunan yang berjalan dengan cepat, merata, dan besar-besaran membuat seluruh negara di pulau Sumatra berjaya menjadi tujuan utama wisatawan Nusantara. Khusus warga negara Indonesia yang berwisata ke negara-negara di pulau Sumatra mendapatkan kemudahan berupa fasilitas bebas visa. Warga negara Indonesia juga bebas memasuki semua negara di pulau Sumatra hanya melalui salah satu negara. Seperti wisatawan Batam yang berwisata ke Tembilahan di Republik Siak, selanjutnya bebas melanjutkan perjalanan ke negara-negara lainnya di pulau Sumatra. Dengan monumen-monumen baru yang Didirikan di wilayah semua negara, menara Petronas dan Putrajaya telah menjadi cerita lama di kalangan wisatawan Indonesia, karena semua negara di pulau Sumatra mempunyai monumen-monumen yang lebih menawan. 

Semua kejayaan ini bisa terwujud karena negara dikelola oleh orang-orang yang bisa dipercaya dan berkemampuan. Kekayaan alam yang melimpah dan pengelolaan kekayaan alam yang bijaksana, akhirnya membuat semua warga negara bisa merasakan manfaat dari kekayaan alam negaranya. Bukan hanya pejabat yang sejahtera tapi seluruh rakyat juga sejahtera. Setelah kejayaan terwujud, keadaan ini melahirkan banyak konglomerat baru dan otomatis semakin melariskan barang-barang di Marina Bay Sands setiap bulannya. Semua warga negara berpendapatan tinggi setiap bulan dan hidup dengan teknologi yang serba canggih. Seluruh negara di Pulau Sumatera saling terhubung dengan kereta yang mengelilingi Pulau Sumatera. Kehidupan meriah dengan pertandingan sepak bola dan kegiatan kebudayaan setiap minggunya.

Andai semua ini memang terjadi, kehidupan di pulau terbesar hingga lima di dunia ini terkesan sangat menyenangkan. Mudah mendapatkan pekerjaan, mudah mempunyai rumah dengan halaman yang luas, mudah mendapatkan pendidikan berkualitas, mudah mengelilingi dunia, dan mempunyai hari tua yang terjamin. Mirip seperti di Eropa. Penuh dengan semangat membara setiap harinya dan menghasilkan banyak karya hebat di setiap zamannya. Tapi... ini hanyalah khayalan dan bukan kenyataan, hanya sebuah pemikiran murni yang terilhami dari kata-katanya Albert Einstein yang mengatakan "khayalan lebih penting daripada pengetahuan". Rasanya memang iya.

Tulisan ini dibuat untuk mengenang 200 tahun Traktat London. Traktat yang memisahkan wilayah Johor dari kerajaan Riau Lingga.

Penulis adalah seorang lulusan Sarjana Hukum Universitas Islam Indonesia


Komentar Via Facebook :

Berita Terkait

close

Aplikasi Android Batamnews