Polemik Penurunan Awak Kapal MT Arman 114 di Batam, Aktivis Kemaritiman Indonesia Tuntutan Tindakan Cepat KPLP

Polemik Penurunan Awak Kapal MT Arman 114 di Batam, Aktivis Kemaritiman Indonesia Tuntutan Tindakan Cepat KPLP

Aktivis Kemaritiman Indonesia sekaligus Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS), Laksda TNI (Purn) Adv Soleman B Ponto. (Foto: ist)

Batam, Batamnews - Aktivis Kemaritiman Indonesia, Laksda TNI (Purn) Adv Soleman B Ponto meminta Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Republik Indonesia (KPLP) segera bertindak atau ambil peran terhadap polemik kapal MT Arman 114 usai insiden penurunan 21 awak kapal ke hotel Grand Sydney Batam, Jumat, 10 Mei 2024 lalu.

Menurut mantan Kabais TNI ini, peran KPLP untuk segera naik ke atas kapal MT Arman 114  dinilai penting guna memastikan pengamanan dan keselamatan dalam pelayaran. Hal ini mengacu pada Undang-undang No.17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran yang menjelaskan tugas dan fungsi (Tupoksi) Coast Guard.

"Mana peran KPLP? Kenapa tidak segera naik ke atas kapal? Harus segera mengecek orang yang sudah naik di atas kapal (Pekerja/kru kapal lokal yang diduga naik secara ilegal) tersebut. Apakah memiliki kompetensi atau tidak? Jika tidak memiliki kompetensi terus terjadi kebocoran, terjadi pencemaran, kapal itu terbakar, atau kapal itu hanyut? Itu peran KPLP semua harus memastikan itu. Makanya dia harus mengambil alih terlebih dahulu kasus ini," ujarnya kepada Batamnews.co.id, Senin, 13 Mei 2024.

Baca juga: 21 WNA Kru MT Arman Bakal di Deportasi Usai Putusan Sidang di PN Batam

Kata dia, KPLP memiliki Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perhubungan laut (PPNS Hubla) yang berwenang untuk menangani pelanggaran atau tindak pidana pelayaran di Indonesia.

"Sebagai PPNS Hubla dia itu harus melaksanakan tugas sebagaimana diatur dalam UU No. 17 tahun 2008 Tentang Pelayaran," jelasnya.

Soleman mengatakan, satu-satunya solusi untuk menyelesaikan polemik ini adalah menghukum para oknum yang memutuskan untuk melakukan penurunan awak kapal MT Arman 114.

"Apapun statement mereka yang membenarkan peristiwa penurunan awak kapal ini tidak bisa dibenarkan. Kalau pun mereka tahu ada permintaan dari kapten kapal untuk menurunkan kru kapal ini harus melaporkan dahulu kepada pejabat atau pihak terkait," tegasnya.

Baca juga: Terungkap Nama Agen yang Fasilitasi 21 WNA Kru Kapal MT Arman 114 di Hotel Grand Sydney Batam

Penurunan kru kapal asing tanpa pemberitahuan kepada instansi terkait ini sudah mengangkangi aturan-aturan atau prosedur hukum yang berlaku. Sehingga ia menganggap bahwa insiden ini telah mencoreng wajah bangsa Indonesia.

"Begitu mau masuk (Indonesia) ini benar tidak para kru ini sudah sehat tidak melanggar Karantina? Benar tidak sudah mempunyai paspor? Benar tidak dia tidak tersangkut terorisme? Harusnya dikasih tau dulu, karena banyak itu prosedurnya. Sekarang semua prosedur itu dilanggar semua. Ini sama saja membuat malu NKRI," bebernya.

Soleman B Ponto juga mempertanyakan alasan pihak Bakamla RI yang mengaku hanya membantu mengamankan penurunan awak kapal tersebut atas permintaan kapten kapal.

"Sekarang pertanyaannya begini, memangnya mereka ini dibayar berapa untuk menjadi pembantu kapten kapal?," tanya dia.

Tanggapan KPLP Tanjung Uban dan KSOP Batam Perihal Dugaan Kru/Pekerja Kapal Lokal yang Diduga Naik Secara Ilegal di Atas MT Arman 114

Perihal adanya dugaan atau indikasi kru/pekerja kapal lokal yang naik secara ilegal di atas kapal MT Arman 114, Batamnews.co.id mencoba mengkonfirmasi pihak KPLP Tanjung Uban dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Batam, Senin, 13 Mei 2024.

Kaops Pangkalan KPLP Tanjung Uban, Alfaizul menyarankan agar untuk menanyakan hal ini kepada pihak KSOP Batam, karena kapal MT Arman 114 berada di wilayah Batam.

"Untuk hal ini lebih tepatnya berkoordinasi dengan KSOP Khusus Batam. Karena kapal berada di wilayah kerja mereka. Terimakasih," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Kantor KSOP Khusus Batam, Yefri Meidison mengatakan, perihal informasi tersebut pihaknya tidak mengetahui. Kata dia, sejak kapal tersebut ditangkap Bakamla RI pihaknya belum menerima laporan perihal kedatangan kapal MT Arman 144.

Baca juga: Penurunan Kru Kapal di Hotel Grand Sydney Batam: Penjelasan Kuasa Hukum Nahkoda MT Arman 114

"Kami tidak mengetahui hal tersebut. Sejak kapal tersebut ditangkap Bakamla belum pernah melaporkan kedatangan kapalnya melalui sistem Inaportnet, sedangkan untuk penggantian awak kapal bendera asing lebih domainnya ke Imigrasi sesuai Tupoksi CIQP," ungkapnya.

Untuk diketahui, saat ini 21 kru MT Arman 114 diinapkan di Hotel BCC, Lubuk Baja, Kota Batam, sejak Senin, 13 Mei 2024 malam, dan diawasi oleh KLHK, Imigrasi, dan Polda Kepri.

Pemindahan para kru MT Arman 114 dari Hotel Grand Sydney Batam ke Hotel BCC ini menurut Kepala Bidang Teknologi dan Informasi Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam, Kharisma Rukmana untuk menunggu hasil putusan persidangan sebelum dilakukan pendeportasian kembali ke negara asal.

(CR2)


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews