Perjalanan Pasutri Asal Pasuruan Merintis Bisnis Barang Seken di Bengkong Batam

Perjalanan Pasutri Asal Pasuruan Merintis Bisnis Barang Seken di Bengkong Batam

Lapak barang seken milik Aisyah dan suami di Bengkong. (Foto: Juwita/Batamnews)

Batam, Batamnews – Di tengah-tengah deretan tempat jualan barang seken di Bengkong, Batam, terdapat sebuah cerita inspiratif dari pasangan suami istri, Aisyah dan suaminya yang akrab disapa Pakde. Merantau dari Pasuruan, Jawa Timur, pada tahun 2018, mereka memulai kehidupan baru di Batam dengan berani dan tekad yang kuat.

Perjalanan Aisyah, yang akrab dipanggil Bude, dimulai dari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, sementara suaminya bekerja sebagai pemulung. Awalnya, mereka tinggal di sebuah kos-kosan, namun nasib berkata lain saat kos-kosan tersebut dibeli orang lain. 

Pemilik kos-kosan yang mengenal Bude dengan baik menawarkan solusi dengan memindahkan mereka ke tanah kosong miliknya di Bengkong.

Baca juga: Ketabahan Romiyati, Berjualan Kerupuk Jangkek di Tengah Kesulitan Hidup

Keputusan untuk pindah ke tanah kosong di tengah hutan tanpa air, listrik, dan lampu disambut baik oleh Bude. "Saya hanya berpikir tempat itu masih layak dan murah, karena saya tak perlu lagi membayar uang kos," ujarnya mengenang.

Seiring berjalannya waktu, tempat tinggal mereka yang awalnya hanya hutan dan tempat pembuangan sampah mulai berubah dengan hadirnya pasar yang semakin ramai. Bude melihat peluang dari barang-barang yang dikumpulkan suaminya selama menjadi pemulung. 

“Pakde sering membawa pulang gelas, kipas, lampu, dan banyak barang lainnya. Saya mencuci, membersihkan, dan memperbaiki sedikit-sedikit lalu menjualnya. Usaha ini berkembang, kami mulai membeli barang dari orang lain meski ada risiko barang tersebut tidak bisa diperbaiki,” cerita Bude saat ditemui di tempat jualannya di Bengkong.

Baca juga: Kylian Mbappe Mengumumkan Kepergian dari PSG, Tujuannya Belum Terungkap

Selama hampir empat tahun menjalani bisnis ini, Bude dan Pakde mengalami berbagai suka duka. Terkadang barang dagangan mereka laris, dan di hari lain bisa saja tidak ada yang terjual. Risiko membeli barang yang ternyata tidak bisa diperbaiki juga menjadi bagian dari tantangan mereka.

“Kalau sedang laris, Alhamdulillah kami bisa mendapatkan minimal Rp 500.000 per hari, dan kadang bisa mencapai Rp 1 juta. Bagi saya, menjalankan bisnis ini adalah kesenangan karena saya bisa membantu mencari nafkah bersama Pakde,” ujar Bude dengan senyum.

“Yang terpenting bagi saya sekarang adalah dapat terus mengembangkan bisnis ini dan menjaga penjualan tetap stabil setiap harinya. Itu sudah membuat saya sangat bahagia," pungkas dia.

Penulis: Juwita Lasmaria Sinaga


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews