Mali Negara Kain Bogolanfini yang Lolos Semifinal Piala Dunia U-17, Punya Fakta Menarik

Mali Negara Kain Bogolanfini yang Lolos Semifinal Piala Dunia U-17, Punya Fakta Menarik

Salah satu bangunan masjid tua di Mali.

Nurjali

Jakarta, Batamnews - Mali bersama dengan empat negara lainnya yang lolos Empat besar Piala Dunia U-17 di Indonesia, tiga negara Prancis, Jerman dan Juara Dunia Argentia, mungkin tak asing bagi kita.

Berbeda dengan Mali negara konflik Bamako, ibu kota Mali, terletak di wilayah terluas di negara tersebut dan memiliki makna yang mendalam. Nama "Bamako" sendiri berarti Sungai Buaya, sebuah simbol yang bukan sekadar istilah geografis. 

Ketika Anda mengunjungi sungai di Bamako, keberadaan buaya-buaya yang jelas terlihat di sungai-sungai menjadi pemandangan yang menarik. Mali, yang berbatasan dengan Mauritania, Algeria, dan Burkina Faso, pernah mengalami konflik berkepanjangan dari tahun 1962 hingga 2012 antara masyarakat Tuareg dan pemerintah Mali.

Baca juga: Jadwal dan Empat Negara yang Lolos Semifinal Piala Dunia U-17 2023  

Konflik ini diuraikan dalam Gati dalam Dinamika dan Faktor Pendorong Keberlanjutan Konflik Antara Masyarakat Tuareg dengan Pemerintahan Mali (1962-2012).

Selain sebagai pusat konflik, Mali juga dikenal karena berbagai fakta menarik yang mencirikannya sebagai negara yang kaya akan budaya dan sejarah.

Mali terkenal dengan kain indahnya yang disebut Bogolanfini. Ini adalah bentuk kerajinan tangan dengan motif yang dilukis menggunakan lumpur dengan teknik tradisional. Kain katun Bogolanfini menjadi ciri khas dan identitas berharga bagi masyarakat setempat, dengan motif terbuat dari tanah liat yang mengandung besi tinggi.

Mansa Musa, raja ke-10 Kerajaan Mali pada abad ke-14, diakui sebagai manusia terkaya sepanjang sejarah. Dengan kekayaan senilai Rp6.282 triliun pada masanya, Mansa Musa bahkan melebihi kekayaan miliarder modern. Keajaiban ini membuatnya dikenal sebagai pemimpin terkaya yang pernah ada.

Mali tidak hanya memiliki satu bahasa nasional, tetapi memiliki 12 bahasa nasional yang digunakan oleh masyarakat. Bahasa-bahasa ini termasuk Perancis, Banbara, Soninke, Tieya Xo Bozo, Mamara Senoufo, Maasina Fulfulde, Hassaniya Arabic, hingga Bomu.

Baca juga: Francesco Bagnaia Resmi Jadi Juara Dunia MotoGP 2023

Mali dijuluki sebagai "rumah gajah Afrika" karena masyarakat Suku Tuareg dan Fulani sering berpindah bersama gajah-gajah Afrika. Gurun Mali menjadi tempat imigrasi gajah terbesar di dunia, menunjukkan keamanan bagi sekumpulan gajah Afrika.

Negara ini juga memiliki dua situs warisan dunia dari UNESCO. Salah satunya adalah Kota Tua Djenna yang memiliki 2000 rumah tradisional sejak abad ke-3 sebelum Masehi. Kota Kuno Timbuktu juga menawarkan bangunan tua yang tetap utuh dan indah.

Mali, dengan sejarah kekaisaran dan kekayaan budayanya, terus menjadi destinasi menarik yang memadukan warisan lama dan kehidupan modern. Meskipun menghadapi tantangan sejarahnya, Mali terus memancarkan keindahannya kepada dunia. Populasi negara ini hanya 13 juta lebih penduduk pada tahun 2021.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :