Dampak Buruk Pencemaran Limbah di Kampung Melayu Batam: Sektor Ekonomi Kolaps

Dampak Buruk Pencemaran Limbah di Kampung Melayu Batam: Sektor Ekonomi Kolaps

Sejak kawasan perairan Kampung Melayu, Nongsa tercemar limbah minyak, kehidupan nelayan dan pariwisata di sana langsung ambruk (ist)

Denni Risman

Batam, Batamnews - Kampung Melayu, Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau, sedang menghadapi kehancuran hampir seluruh sektor perekonomiannya, yang sebelumnya menjadi penopang kehidupan masyarakat setempat.

Pendapatan nelayan merosot, pariwisata mengalami penurunan drastis, dan bantuan pemerintah tidak kunjung tiba. Semua ini terjadi akibat pencemaran limbah B3 cair yang mencemari perairan di Kampung Melayu.

Baca juga: Warga Kampung Melayu Batam Temukan Limbah B3 dalam Karung, Meningkatkan Kekhawatiran akan Pencemaran Lingkungan

Beberapa waktu lalu, Khairul Bahri, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Nongsa, mengungkapkan bahwa biasanya pada akhir pekan banyak wisatawan yang menghabiskan waktu libur di kawasan tersebut. Selain menikmati pesona alam yang indah, para wisatawan juga menikmati hasil olahan laut segar di restoran-restoran sekitar Kampung Melayu.

"Kawasan pantai bisa dibilang sepi. Sejak kejadian kemarin, belum ada orang yang datang," ungkapnya.

Limbah yang berasal dari sumber yang tidak diketahui benar-benar menjadi mimpi buruk bagi warga sekitar. Meskipun demikian, warga bersama petugas dari pemerintah setempat dan kepolisian terus bekerja membersihkan limbah tersebut dengan alat-alat sederhana.

Baca juga: Pencemaran Limbah Minyak di Kampung Melayu Batam, Ini Kata Ketua Asosiasi Pariwisata Kepri

"Sudah sekitar 90 persen limbah hilang terbawa arus. Namun, masih banyak limbah yang menempel. Kami menggunakan pasir dan sapu sebagai cara tradisional untuk membersihkannya," jelas Khairul.

Selain sektor pariwisata, limbah tersebut juga menjadi ancaman bagi para nelayan yang terpaksa melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa nelayan harus melalui perairan yang masih tercemar limbah untuk mencari ikan.

"Mereka tetap harus turun ke laut karena kebutuhan hidup. Nelayan harus melewati perairan yang tercemar limbah tersebut. Tubuh mereka terkena dampak limbah," tutur Khairul Bahri.

Baca juga: KKP Menyegel Tambak Udang PT TTB di Batam karena Pelanggaran Ketentuan Lingkungan

Dampaknya sangat terasa, hasil tangkapan ikan mereka drastis berkurang karena ekosistem Kampung Melayu tercemar.

Idris, seorang nelayan setempat, mengeluhkan kejadian tersebut karena hasil tangkapannya berkurang. Ia mengaku belum melaut sejak kejadian tempo hari dan terpaksa turun tangan membantu petugas membersihkan sisa-sisa limbah.

Baca juga: Kejadian Langka: Awan Berbentuk Topi Muncul di Ranai Natuna dan Menjadi Viral

"Kami biasanya menggunakan kelompok di tepi pantai, jaring juga. Namun, sejak tercemar ini semuanya tidak bisa digunakan. Ikan habis. Limbah ini sangat berpengaruh," keluhnya.

Hingga saat ini, bantuan finansial dan kebutuhan sehari-hari dari pemerintah setempat belum tiba. Warga Kampung Melayu masih berupaya menjalin komunikasi dengan pihak terkait untuk mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhan mendesak.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :