RSUD Meranti Diprotes, Keluarga Pasien: Sakit Syaraf Malah Diberi Obat Sakit Jiwa

RSUD Meranti Diprotes, Keluarga Pasien: Sakit Syaraf Malah Diberi Obat Sakit Jiwa

ilustrasi.

Meranti, Batamnews  - Keluarga seorang pasien sakit syaraf komplain terkait pelayanan RSUD Meranti. Mereka menduga ada pihak medis teledor dalam pemberian obat terhadap keluarga mereka.

Pasien J yang awalnya ingin berobat terkait penyakit syaraf malah tak sadarkan diri dan berhalusinasi. Keluarga pun meradang mengetahui obat yang diberikan ternyata untuk pasien sakit jiwa.

Diketahui pasien ini memiliki penyakit Bell's Palsy atau gangguan otot saraf di bagian bawah.

J merupakan warga Kota Selatpanjang, warga Jalan Alah Cikpuan, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi.
 
Ia awalnya bermaksud berobat ke RSUD. Setelah selesai dilakukan pemeriksaan dan diberikan obat oleh dokter, kondisinya malah tak sadarkan diri.

Keluarga curiga melihat reaksi pasien yang justru bertambah parah. Setelah di cek, ternyata obat yang diberikan adalah obat yang digunakan untuk pasien gangguan jiwa. 

Sontak keluarga J geram. Mereka mempermasalahkan hal tersebut kepada pihak rumah sakit.

Menurut anak pasien yang enggan disebutkan namanya, ayahnya J dibawa ke RSUD karena mengalami gangguan syaraf, oleh dokter spesialis saraf diberikan obat Risperidone.

Diketahui obat tersebut digunakan untuk mengobati skizofrenia. Obat ini juga digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar atau gangguan tingkah laku pada anak yang menderita autis.

Setelah meminum obat tersebut, kondisi ayahnya menjadi agak aneh hingga tidak sadarkan diri. Setelah dilihat oleh keluarga, ternyata obat tersebut diperuntukannya kepada orang dalam gangguan jiwa.

"Setelah minum obat itu, ayah saya yang awalnya halusinasi langsung tak ingat apa-apa. Intinya ayah kami bukan orang sakit jiwa dan tidak mengalami gangguan mental sesuai obat yang diberikan oleh dokter spesialis itu. Ayah kami itu hanya mengalami gangguan otot saraf pada wajah. Kami aja baru tau ada obat sejenis itu setelah adanya kejadian ini. Bulan lalu juga diberikan obat yang sama. Kemarin dosisnya hanya 0,5 MG yang baru-baru ini diberikan dosis 2 MG. Kalau seperti ini orang sehat pun bisa jadi gila," ujarnya, Selasa (9/11/2021) kemarin.

Keluarga menyayangkan pelayanan di RSUD yang membuat pasien kehilangan kesadaran. "Sangat disayangkan kalau sempat terjadi seperti ini lagi. Bukan malah sehat, namun bisa jadi mati. Setelah kami kroscek dengan orang kesehatan di luar Meranti, mereka menyatakan obat itu memang diperuntukkan untuk gangguan mental," kata dia.

"Kami sempat mengamuk di RSUD itu dan tidak mau lagi berurusan dengan dokter spesialis syaraf. Memang kami tidak menuntut, namun kami kecewa saja dengan obat yang diberikan. Hampir saja nyawa orang tua kami melayang," tambahnya.

Beruntung kondisi pasien saat ini berangsur-angsur membaik. "Kondisi ayah saya sudah mulai membaik setelah kondisinya melemah selama beberapa hari dan dipasangkan infus," katanya.

Selanjutnya: Tanggapan RSUD Meranti...

 

Direktur RSUD Meranti, dr Suhadi membenarkan jika adanya keluhan keluarga pasien yang datang mempertanyakan kasus itu sebelumnya

Suhadi membantah jika pihak rumah sakit salah pemberian jenis obat. "Itu yang tau persis adalah dokter spesialisnya dan itu sudah selesai. Petugas kami pun sudah ke rumah pasien untuk melakukan pemeriksaan. Obat itu sama, cuma dosisnya agak rendah. Fungsinya itu untuk menurunkan tekanan intrakranial otak," katanya.

Dia menyebutkan, jenis obat yang diberikan pada pasien itu mempunyai fungsi yang sama, hanya saja dosisnya rendah. 

Sementara saat disinggung mengenai keluhan pasien yang mengalami kelainan dan tidak sadarkan diri, Suhadi mengatakan kondisi tubuh pasien saja yang tidak kuat menahan efek dari obat tersebut.

“Sebenarnya obatnya itu sama dan tidak ada masalah. Jika ada kelainan, mungkin kondisi tubuhnya tidak kuat dengan efek yang ditimbulkan obat itu," ujarnya.


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews