Asa Tingkatkan Ekonomi Meranti Lewat Potensi Kopi

Asa Tingkatkan Ekonomi Meranti Lewat Potensi Kopi

Bupati Meranti, Muhammad Adil melakukan peninjauan sentra IKM kopi beberapa waktu lalu. (Foto: Arjuna/Batamnews)

Meranti, Batamnews - Selain sagu, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau juga terus menggarap arus potensi kopi berperisa spesial lain daripada yang lain. Adalah varietas kopi liberoid, yang lebih ngetren atau akrab disebut liberika. 

Walaupun tidak setenar robusta ataupun arabika, ternyata kopi ini memiliki banyak potensi dan keunggulan yang tidak kalah dengan dua saudaranya tersebut.

Pasca mengidentifikasi dan mengevaluasi sifat unggul kopi liberika, beberapa tahun sebelum ini, pemerintah daerah setempat berhasil melepas dua varietas yang diberi nama Lim-1 dan Lim-2. 

Varietas hasil seleksi dari varietas lokal ini juga membuka peluang pemanfaatan lahan sub-optimal untuk budidaya kopi di sana. Karena sesuai dengan wilayah Meranti, perkebunan kopi jenis ini adaptif di lahan marginal, khususnya di lahan gambut.

Memiliki citarasa yang unik, kopi asli 'Tanah Jantan' ini juga pernah terpilih mewakili Indonesia dalam 12th China-ASEAN Expo (Caexpo) di Guangxi International Convention and Exhibition Center Nanning, Cina pada 2016 lalu. 

Potensi itu juga ditingkatkan atas pengakuan oleh kementerian terkait yang menyematkan liberika Meranti dengan sertifikat Indikasi Geografis (IG) untuk mempersempit potensi klaim pascaproduksi di pasar domestik maupun mancanegara.

Berdasarkan data dari dinas terkait, setiap tahunnya petani kopi di Meranti bisa mengekspor biji kopi kering siap giling hingga 100 ton di pasar mancanegara. Tidak hanya dijual dalam bentuk biji kering, kopi asli tanah gambut itu juga diolah menjadi kopi luwak, hasil fermentasi. 

Untuk pasarnya sendiri, kopi liberika Meranti sangat digemari oleh negara tetangga: Malaysia dan Singapura. Bahkan sejumlah perusahaan yang bergerak di industri makanan dan minuman asal Singapura juga pernah melihat langsung proses pengolahan kopi luwak di Meranti.

 

 Biji kopi kering siap giling dijual ke Malaysia seharga Rp 30 ribu sampai Rp 34 ribu perkilo. Sedangkan harga kopi luwak dijual Rp 1 juta per kilogramnya. 

Saat ini di Meranti terdapat 700 hektare lahan kopi liberika di Pulau Rangsang. Tepatnya di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Barat. Walaupun belum seluas perkebunan sagu untuk memenuhi permintaan pasar, Meranti masih terbentur jumlah petani kopi dalam memenuhi pasar pencinta kopi dunia. 

Untuk itu, pemerintah daerah setempat terus mendorong dan berupaya agar meningkatnya hasil dan kualitas produksi. 

Seperti baru-baru ini, Bupati Meranti Muhammad Adil SH meresmikan operasional sentra industri kecil menengah (IKM) di desa tersebut. 

"Adapun tujuan pembangunan untuk memperluas ruang produksi dalam meningkatkan kualitas, dan kuantitas hasil olahan kopi bervariatif, agar benar-benar siap dikonsumsi oleh pasar," ujar Plt Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM (DisdagperinkopUKM) Meranti Syahril SE, Selasa (5/10) lalu.

Untuk itu hendaknya jaringan pemasaran dapat diperluas, sehingga terciptanya lapangan pekerjaan dan berdampak meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD. 

Terhadap pembangunan dan perlengkapan fasilitas pendukung sentra ini, diakomodir melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat. Dimulai pada tahun anggaran 2019 dengan bentuk pengadaan mesin sebesar Rp 2.100.000.000. Sementara pembangunan ruang produksi dilaksanakan pada tahun anggaran 2021 sebesar Rp  2.688.209.000. 

Adil menyampaikan bahwa sebagaimana ia ketahui, permintaan pasar dari Malaysia atas kopi liberika Meranti ini telah bermula sekitar tahun 1985.  Bahkan sejak tahun 1990 silam tidak kurang dari 80 persen hasil perkebunan kopi di daerah yang ia pimpin telah dijual ke negara tetangga lewat aktifitas lintas batas. 

Namun sayangnya, kopi yang dijual ke Malaysia ini bukan hanya dijual di pasar lokal Malaysia saja, tetapi juga diekspor lagi hingga ke pasar Eropa dengan pengakuan sebagai produk usaha negara tetangga. 

Dengan telah dibangun dan beroperasinya sentra itu, ia berharap produk hasil perkebunan asli lahan gambut daerah tersebut dapat memperkuat brand-nya, agar tidak diklaim oleh pihak luar.

"Ya mudah-mudahan dengan beroperasinya sentra ini dapat meningkatkan kualitas hasil produksi. Dan kopi kita benar benar dikenal secara luas sehingga tidak diklaim pihak luar," ungkapnya. 

Adil juga menyampaikan apresiasi kepada Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti (MPKLRM) sebagai lembaga yang tumbuh atas dasar persamaan visi dan misi untuk menjaga ciri khas dan kualitas produksi kopi Liberika Pulau Rangsang.  

Anggota dari lembaga ini sendiri terdiri dari para petani kopi, pengolah kopi dan pemasar kopi yang telah memenuhi syarat yang tercantum di dalam Buku Persyaratan IG Kopi Liberika Rangsang Meranti. 

Berkaitan dengan Gaya Hidup, Kopi Cukup Menjanjikan

 

Prospek bisnis komoditas kopi sangat menjanjikan seiring dengan tingginya permintaan dan produksi pasar dunia. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi kelas dunia, termasuk di Rangsang, Kepulauan Meranti.

Direktur IKM Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kemenperin RI Riefky Yuswandi pernah mengatakan, kopi saat ini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Bahkan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.  

"Sepertinya, bagi sebagian orang tidak lengkap rasanya bila sehari tidak meminum kopi. Tren specialty coffee yang berkembang selama satu dekade terakhir, menurutnya telah memperkuat budaya minum kopi, hingga menjadikan kopi sebuah gaya hidup," ujarnya. 

Didorong oleh pertumbuhan kelas menengah, menurutnya perkembangan industri kopi olahan tanah air masih sangat menjanjikan. "Untuk itu kami terus memacu hilirisasi industri kopi lokal yang mengolah biji kopi di dalam negeri, sehingga meningkatkan nilai tambah produk kopi Indonesia," bebernya.

Dikatakannya, peningkatan tren konsumsi kopi dalam satu dasawarsa terakhir dapat terlihat dari maraknya cafe dan kedai hingga warung kopi yang ada di Indonesia. 

Dikutip dari data Organisasi Kopi Dunia (International Coffee Organization/ICO), tingkat konsumsi kopi Indonesia tumbuh 44 persen dalam periode sepuluh tahun terakhir (Oktober 2008-September 2019). Untuk itu dibeberkan Riefky, pertumbuhan cafe dan warung kopi di Indonesia berdasarkan data dari Euromonitor mencapai 16 persen setiap tahunnya. 

"Cafe dan warung kopi di negara kita saat ini semakin ramai oleh konsumen usia remaja dan dewasa. Karena bukan hanya menjadi tempat untuk menikmati kopi, namun juga menjadi tempat untuk bertemu, belajar oleh semua kalangan," ujarnya. 

Walupun demikian ia berharap para pengusaha kopi tidak boleh lengah dalam menjalankan bisnisnya. Apalagi dampak tekanan pandemi Covid1-19 yang menimbulkan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha.  

Dalam rangka mendorong peningkatan daya saing pelaku IKM pengolahan kopi, Kementerian Perindustrian RI, memiliki berbagai program yang dapat diakses oleh para pelaku IKM. Langkah itu terdiri dari fasilitasi kemudahan akses ke sumber pembiayaan dan penyedia bahan baku dan material center, meningkatkan kemampuan teknologi produksi, membangun dan revitalisasi sentra IKM. 

Salah satunya melalui DAK.  Lanjutnya lagi, memfasilitasi sertifikasi produk dan kompetensi SDM, fasilitasi perluasan akses pasar, termasuk melalui program e-smart IKM dan penguatan kemasan produk.

(jun)