Kematian Ibrahim

Andi Ibrahim bin Andi Saleng, pendiri Yayasan Ibnu Sina Batam. (Foto: Ist)

Oleh: Iskandar Zulkarnain Nasution

BERITA itu sungguh menghentak, orang tua itu, yang menjadi pendiri Perguruan Tinggi pertama di Batam, meninggal dunia. Usianya hampir saja 86 tahun, 14 hari lagi. Ibrahim bin Andi Saleng, nama beliau, menorehkan banyak catatan manis dalam perjalanan Kota Batam. 

Ibrahim termasuk salah seorang anggota legislatif pertama dalam sejarah kota Batam. Khusus untuk perjalanan aktivis mahasiswa, beliau adalah pendiri bagi tumbuh kembangnya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam di Batam. 

Di dunia pendidikan, dari membangun sekolah dasar pertama di Kota Batam, lokasinya di rawa-rawa di daerah Jodoh sehingga membangun Perguruan Tinggi ternama di Kota Batam. Beliau memiliki anak 5 orang, perempuan semua, dan semuanya sudah berhasil, sukses.

Ada banyak kesaksian tentang keteladanan Ibrahim, salah satunya adalah ketika menjadi anggota legislatif, pejabat terpandang di masa itu. 

Pada satu ketika, semua anggota legislatif mendapat pembagian uang ratusan juta, termasuk lah Ibrahim. Tapi, ketika sudah menerima uang, kelihatan Ibrahim mondar mandir di gedung legislatif. Ibrahim berencana menolak uang ratusan juta itu. Beliau bingung asal usul uang tersebut. Kebingunganlah yang membuatnya mondar mandir sampai 2 jam lamanya. Endingnya uang tersebut disumbangkan, tanpa Ibrahim menggunakan sepeserpun. Teladan itu terukir selamanya.

Harusnya, Ibrahim akan ikut berqurban di tahun ini secara langsung. Mengikuti jejak Ibrahim lain, yang menjadi Bapaknya para Nabi, Utusan Tuhan Yang Maha Esa di muka bumi ini. 

Tapi, kehendakNya jauh lebih kuasa, Ibrahim bin Andi Salleng, berpulang lebih dahulu, semoga menyusul keteladanan Ibrahim yang menjadi tauladan sehingga saat ini. Salah satunya tauladan berqurban.

Kematian Ibrahim, bukanlah satu satunya kematian di hari itu, hari dimana PPKM darurat masih berlaku di Batam. Kematian yang diakibatkan penyakit tua, sakit di rumah maupun akibat serangan covid19 varian Delta yang sangat menakutkan. 

Dan saat ini juga kita akan dihadapkan pada kematian ribuan sapi dan kambing dalam perayaan Hari Raya Idul Adha. Kematian yang menjadi salah satu metode untuk berbagi sumber bahan makanan, khususnya bahan makanan daging yang menjadi asupan gizi bagi tubuh manusia. 

Seperti istilah saya, kalau Idul Fitri adalah hari berbagi sumber bahan makanan dari biji bijian maka Idul Adha adalah hari dimana kita berkumpul untuk berbagi bahan daging kepada masyarakat. Agar tumbuh rasa cinta dan kesatupaduan di antara kita, sesama anak bangsa.

Penulis adalah pengamat sosial di Kepulauan Riau.


Berita Terkait