Spirit Hari Keluarga Nasional

Spirit Hari Keluarga Nasional

Raja Dachroni (Foto:dok.)

Oleh: Raja Dachroni

MENARIK apa yang disampaikan penulis sebelumnya Ibu Suryani, SE seorang parenting enthusiast terkait tentang kondisi sebagian keluarga di saat pandemi.

Bertepatan dengan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) yang diperingati setiap 29 Juni, memang isu tersebut menarik untuk dibahas. Pasalnya, fenomena ketahanan keluarga kita tidak sedang baik-baik saja apalagi di saat kondisi pandemi seperti saat ini.

Mengapa hal ini bisa terjadi, padahal pandemi membuat kita idealnya lebih banyak berinteraksi di rumah dan harusnya komunikasi semakin erat tapi justru malah sebaliknya.

Sebagaimana dikutip Aris Tristanto dalam artikel ilmiahnya di Jurnal Sosio Informa, "Perceraian di Masa Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Ilmu Sosial," dari pendapat Levinger (1966), ada 12 kategori keluhan yang menyebabkan terjadinya perceraian, keluhan tersebut.

Yaitu, pertama karena pasangannya sering mengabaikan kewajiban terhadap rumah tangga dan anak, seperti jarang pulang ke rumah, tidak ada kepastian waktu di rumah dan tidak adanya kedekatan emosional dengan anak dan pasangannya.

Baca juga: Pandemi dan Perceraian

Kedua, masalah keuangan (penghasilan yang diterima untuk memenuhi keluarga dan memenuhi kebutuhan rumah tangga tidak cukup). Ketiga, adanya penyiksaan fisik terhadap pasangan seperti kekerasan dalam rumah tangga. Keempat, pasangannya sering berteriak atau mengeluarkan kata-kata kasar yang menyinggung perasaan pasangan.

Kelima, Tidak setia, seperti punya kekasih lain dan sering berzina dengan orang lain. Keenam, ketidakcocokan dalam masalah hubungan seksual dengan pasangan, seperti enggan atau sering menolak melakukan senggama dan tidak bisa memberikan kepuasan.

Ketujuh, sering mabuk. Kedelapan adanya keterlibatan atau campur tangan dan tekanan sosial dari pihak kerabat pasangan. Kesembilan, sering muncul kecurigaan, kecemburuan dan ketidakcocokan dengan pasangannya.

Kesepuluh, berkurangnya perasaan cinta, sehingga jarang berkomunikasi, kurangnya perhatian dan kebersamaan di antara pasangan. Kesebelas, adanya tuntutan yang dianggap terlalu berlebihan sehingga pasangannya menjadi tidak sabar, tidak ada toleransi dan dirasakan terlalu menguasai.

Terakhir atau yang keduabelas adalah kategori lain yang tidak termasuk 11 tipe atau faktor-faktor penyebab di atas.

 

Sejarah Hari Keluarga Nasional

Merujuk portal keluarganasional.id seperti yang penulis akses pada Selasa (29/6/2021), "Sejarah dan Peringatan Harganas Setiap Tahunnya," disebutkan sejarah hari keluarga nasional tidak lepas dari perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, karena pada tahun 1945 Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya.

Namun situasi bangsa ini belum begitu kondusif. Bahkan untuk mempertahankan kemerdekaan, diberlakukannya wajib militer bagi rakyat. Hal ini menjadikannya mereka berpisah dengan keluarga.

Melalui perjuangan yang gigih, pada 22 Juni 1949 Belanda menyerahkan kedaulatan bangsa Indonesia secara utuh. Seminggu kemudian, tepatnya 29 Juni 1949, para pejuang kembali kepada keluarganya. Inilah yang melandasi lahirnya Hari Keluarga Nasional (Harganas).

Pada saat itu pengetahuan keluarga tentang usia nikah amat rendah disamping keinginan kuat untuk mengganti keluarganya yang gugur dalam peperangan, mengakibatkan perkawinan dini tinggi. Tentunya kesiapan yang kurang saat menikah dini sangat berpengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi ketika itu.

Tercatat dalam sejarah bahwa tanggal 29 Juni 1970 merupakan puncak kristalisasi pejuang Keluarga Berencana untuk memperkuat program Keluarga Berencana (KB), sehingga tanggal tersebut dikenal dengan tanggal dimulainya Gerakan KB Nasional.

Hari itu sebagai hari kebangkitan keluarga Indonesia. Hari bangkitnya kesadaran untuk membangun keluarga ke arah keluarga kecil bahagia sejahtera melalui KB.

Prof. Dr. Haryono Suyono merupakan penggagas Hari Keluarga Nasional. Ia merupakan Ketua Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di era Presiden Soeharto. Kepada Presiden Soeharto, sebelumnya Haryono menyampaikan tiga pokok pikiran.

Baca juga: Kebocoran Data Pribadi Masalah dan Solusi

Pertama, mewarisi semangat kepahlawanan dan perjuangan bangsa. Kedua, tetap menghargai dan perlunya keluarga bagi kesejahteraan bangsa. Ketiga, membangun keluarga menjadi keluarga yang bekerja keras dan mampu berbenah diri menuju keluarga sejahtera.

Presiden Soeharto menyetujui gagasan tersebut. Maka, lahirlah Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap 29 Juni. Ada sejarah di balik pemilihan tanggal dan bulan tersebut.

Di tanggal dan bulan itu, Tentara Republik Indonesia (TRI) yang bergerilya dalam perjuangan melawan penjajah, masuk ke Yogyakarta, dan kembali ke keluarga masing-masing. Nah, demikian sejarah hari keluarga nasional yang harus kita petik spiritnya.

Dengan spirit mempertahankan keutuhan keluarga seperti yang disampaikan di muka, ada beberapa cara untuk mencegahnya seperti dalam sistem keluarga, Googde (2007)
mengemukakan ada beberapa pola pencegahan terjadinya perceraian.

Pertama, pola pertama adalah dengan cara merendahkan atau menekan keinginan-keinginan individu tentang apa yang bisa diharapkan dari sebuah perkawinan. Kedua, adalah dengan cara menanamkan nilai yang tidak mementingkan hubungan kekerabatan daripada hubungan suami-istri dalam perkawinan.

Ketiga, dengan cara “tidak menganggap penting” sebuah perselisihan. Keempat, mengajarkan anak-anak dan para remaja untuk mempunyai harapan yang sama terhadap sebuah perkawinan. Sehingga dalam perkawinan nanti, seorang suami atau istri dapat berperan sesuai dengan yang diharapkan oleh pasangannya.

Dengan pelajaran di atas, mari bersama kita mengambil spirit Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ini dengan mengokohkan pondasi ketahanan keluarga.

Kalau dalam konteks agama tentu sebagai ibadah dan menguatkannya juga dari sisi ekonomi agar ketahanan keluarga di Indonesia benar-benar terwujud. Karena kita semua tentu yakin hanya keluarga yang kuat akan melahirkan negara yang hebat pula. Semoga, selamat hari keluarga nasional!

Penulis adalah Podcaster dan Pegiat Sosial Media Sehari-hari Beraktifitas di Kota Tanjungpinang.