Warga Malaysia Edarkan Narkoba di Batam

Salah satu tersangka pengedar narkoba ditangkap polisi di Batam. (Foto: ist)

Batam - Moktar Nasrul Shafiq, warga Malaysia dibekuk aparat Direktorat Resnarkoba Polda Kepri. Dia terlibat dalam peredaran narkoba jenis sabu di Batam.

Penangkapan Shafiq merupakan pengembangan dari pengungkapan kasus narkoba di Kabupaten Karimun. Dari kasus ini, tujuh orang ditangkap.

Ketujuh orang tersangka ditangkap di tempat yang berbeda, 4 orang di Tanjungbalai Karimun dan 3 orang di Kota Batam. Dari tangkapan itu, polisi berhasil mengamankan barang bukti narkoba sebanyak 1.200 gram sabu dan 10 butir diduga happy five.

Direktur Resnarkoba Polda Kepri Kombes Pol Muji Supriyadi menjelaskan, kejadian ini bermula pada Minggu tanggal 15 November 2020, pukul 22.00 WIB.

Saat itu, anggota Subdit 3 Ditresnarkoba Polda Kepri menangkap 3 orang laki-laki yang kemudian diketahui berinsial A , N dan S di Kamar Hotel Karimun City Tanjung Balai Karimun karena membawa sabu.

“Setelah dilakukan pengembangan tim berhasil mengamankan 1 orang pelaku lagi, inisial Y. Dia ini perannya adalah sebagai orang yang mengantarkan barang haram tersebut ke parkiran hotel itu,” kata Mudji, Rabu (18/11/2020).

Selain sabu, Y juga membawa ekstasi sebanyak 5 butir yang didapat di saku celana.

Tidak berhenti di Tanjungbalai Karimun, Ditresnarkoba Polda Kepri kembali mendapat informasi dari masyarakat tentang akan ada transaksi narkotika jenis sabu di laut perbatasan Indonesia dan malaysia.

“Tim sempat mengecek ke lokasi, tapi  tidak ditemukan hal yg di maksud,” katanya.

Namun, tim tidak berhenti menelusuri informasi tersebut dan hasilnya mereka berhasil menangkap 2 orang pelaku, Joni dan Moktar Nasrul Shafiq. Nama terakhir merupakan warga Malaysia.

“Kami juga menangkap 1 orang perempuan Rhanticha di pinggir jalan depan PT Maju Prima Industri, Sagulung dengan barang bukti 1 bungkus kristal bening diduga sabu,” ucapnya.

Adapun jumlah barang bukti yang diamankan adalah 1.200 gram sabu, beberapa unit ponsel milik tersangka, 10 butir diduga happy five, 1 unit kendaraan roda 2, dan 1 buah tas ransel.

Para tersangka diancam dengan Pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 112 ayat (2) dan atau pasal 113 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia no. 35 tahun 2009 tentang narkotika. 

"Ancamannya hukuman mati atau pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 6 tahun atau paling lama 20 tahun," pungkas Mudji.

(ude)