Miris, Beginilah Nasib Pemegang Kartu Jamkesmas yang Minim Fasilitas
Aswil, penderita stroke yang memegang Kartu Jamkesmas. (foto: iskandar)
BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Memprihatinkan, seorang pria pemegang kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) tidak bisa menikmati fasilitas yang memadai meski sudah dalam keadaan sakit parah.
Pria yang diketahui bernama Aswil tinggal di Pantai Stres, Jodoh, Batam, ini menderita stroke sejak tanggal 16 September 2015 lalu. Ia hanya bisa duduk dengan tangan dan tubuh gemetar dan tidak sanggup lagi bicara.
Aswil baru dibawa ke rumah sakit pada Sabtu 19 September 2015, karena tidak memiliki biaya dan harus menunggu saudaranya datang dari Sumatera Barat.
"Sakitnya Rabu, karena tidak punya uang kami harus menunggu saudara dari kampung," ujar istri Aswil di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam, Sabtu (19/9/2015).
Setelah dibawa ke rumah sakit, kartu Jamkesmas Aswil hanya bisa dipergunakan untuk kamar kelas 3 dan secara kebetulan kamar kelas 3 di RSBK dalam kondisi penuh.
"Kelas 3 penuh, yang ada hanya kelas 2 dan kelas 1. Kami harus bayar kalau mau masuk kelas 2," kata istri Aswil yang sehari-harinya sebagai pengojek ini.
Keadaan sempat memanas, karena pasien tidak bisa ditangani oleh pihak rumah sakit. Sebab, fasilitas untuk kartu Jamkesmas perawatannya hanya di kelas 3. Akhirnya pihak keluarga yang diantar oleh Asun, seorang ketua ormas akhirnya memutuskan mengambil perawatan kelas 2. Perawatannya dijamin oleh Asun.
Pihak RSBK saat ditemui mengatakan, untuk pemegang kartu Jamkesmas perawatannya hanya kelas 3 dan kebetulan kamar kelas 3 sedang penuh. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah aturan rumah sakit," ujar petugas yang menerima Aswil.
"Kartu BPJS Kesehatan dan Jamkesmas pada dasarnya sama. Bedanya, untuk kartu Jamkesmas yang bayar preminya pemerintah dan fasilitas yang diterima hanya perawatan kelas 3," tutur petugas tersebut.
Petugas yang enggan dituliskan namanya itu menyambung, pihaknya sudah mencoba membantu koordinasi ke beberapa rumah sakit, tapi semua penuh. Pihak rumah sakit itu lalu menyarankan untuk dirujuk ke rumah pemerintah di RSBP Sekupang. Namun, kondisi Aswil yang sudah semakin parah mengharuskan ia segera dirawat.

"Kalau sudah begini kita nggak bisa berbuat apa-apa, kartu yang dimilikinya pasti los. Karena nanti dicek pasien kok sanggup untuk kelas 2. Padahal karena keadaan tidak memungkinkan untuk kelas 3," katanya.
"Kita miris melihat keadaan begini. Orang sakit yang perlu perawatan segera seperti ini mau mengadu kemana? Kemana fungsi sosial dan kemanusiaan pihak rumah sakit-rumah sakit? Semua masyarakat yang menghirup udara di Indonesia ini juga berhak mendapat perlakuan yang sama," kata Asun.
(isk)
Komentar Via Facebook :