Selain Ahok, inilah Orang-Orang yang Menginginkan IPDN Bubar

BATAMNEWS.CO.ID - Bukan hanya Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saja yang menginginkan IPDN bubar. Tahun 2007, tuntutan pembubaran IPDN menggema dari kalangan politisi, mahasiswa, aktifis, hingga warga. Inilah orang-orang yang pernah menyampaikan keinginannya agar IPDN bubar.
Politisi
Agung Laksono yang ketika itu menjabat sebagai ketua DPR menegaskan pemerintah harus segera membubarkan Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), karena telah terlalu banyak memakan korban. Sebagai penggantinya dibentuk lembaga pendidikan baru bagi calon birokrat. Permintaan tegas pembubaran IPDN itu disampaikan Agung karena tidak hanya siswa IPDN saja yang menjadi korban para seniornya, tetapi juga sudah menjalar ke luar kampus.
Aktifis
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mendesak pemerintah agar membubarkan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Hal itu harus segera dilakukan jika pemerintah gagal melakukan "demiliterisasi" atau penghapusan tradisi yang bernuansa militer pada lembaga pendidikan pencetak birokrat pemerintahan itu. Tuntutan ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Besar PMII bersama Pengurus Besar Himpunan Hahasiswa Islam (PB HMI) ketika itu, usai bertemu Susilo Bambang Yudhoyono, di Kantor Presiden.
Mahasiswa
Seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati di Bandung Ibn Ghifarie menyampaikan melalui opini di media massa. Ia mengatakan, walau penutupan IPDN dari penerimaan praja bukan satu-satunya cara dalam mencegah praktik adu tojos. Paling tidak dengan pemutusan mata rantai pendisiplinan tubuh itu, negara dapat . menghemat anggaran yang selama ini digunakan untuk membiayai IPDN. Ia berpendapat, IPDN telah membuat deretan panjang kekerasan terselubung di kampus STPDN.
Warga
Menyusul tewasnya warga Jatinangor, Wendi Budiman (21) karena diduga dikeroyok sekitar sepuluh praja IPDN, tuntutan pembubaran IPDN diserukan warga setempat. Sebelumnya, ratusan tukang ojeg dan unsur warga lainnya nglurug ke kampus pencetak pamong praja negeri itu. Sumpah serapah, caci makin, dan hujatan lainnya benar-benar tidak terbendung dimuntahkan dari mulut pengunjuk rasa. Mereka mengutuk aksi keji yang menyebabkan Wendi meninggal dunia.
(nu/smdk/pelita/kbrind)
Komentar Via Facebook :