Kisah Kakak Beradik Reyna-Vai Produksi Ribuan Masker Kain Demi Lawan Corona

Kisah Kakak Beradik Reyna-Vai Produksi Ribuan Masker Kain Demi Lawan Corona

Rhevaira, siswi SD Al Azhar Cibubur kala memproduksi masker kain untuk dibagi-bagikan kepada yang membutuhkan. (Foto: istimewa)

Jakarta - Lebih dari sebulan, anak-anak sekolah diliburkan semenjak virus Corona mewabah di berbagai penjuru Indonesia. Mereka harus belajar di rumah hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Perjalanan awal belajar di rumah ini memang mengasyikkan. Anak-anak wajib memberikan laporan atas tugas yang diberikan guru kepada mereka setiap hari.

Namun belakangan, kebosanan melanda anak-anak ini. Larangan bepergian dan kampanye "Stay at Home" agar tak tertular Corona membuat mereka justru stress.

Dukungan moral memang dibutuhkan anak-anak di tengah situasi sulit ini. Hal inilah yang ditanamkan seorang Akbar Ahmad, seorang pengusaha kuliner di Jakarta kepada anak-anaknya.

"Mereka (anak-anak) harus terus diperkuat mentalnya di tengah pandemi Corona sekarang ini," kata Akbar memulai perbincangan dengan Batamnews, pekan ini.

Salah satu cara membangun mental anak, adalah memberikan kebebasan berekspresi untuk membangun kepekaan sosial. Akbar menanamkan semangat ini kepada Rhevaira, putrinya yang masih duduk di kelas 3 SD Al Azhar Cibubur, Jakarta Timur.

Akbar memberi Vai, panggilan akrab Rhevaira, sebuah proyek kemanusiaan yakni membuat masker kain untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan.

"Kebetulan istri saya memiliki usaha konveksi dan Vai juga memiliki bakat itu," kata Akbar.

Berbekal semangat dan ketekunan, Vai mulai mengerjakan proyek kemanusiaan itu mulai pertengahan Maret lalu. Dibantu Reyna, kakaknya yang duduk di bangku SMA Al Azhar, Vai mulai membuat lembar demi lembar masker kain.

Hingga akhir Maret, ada sekitar 2 ribu pcs masker kain yang berhasil diproduksi oleh kakak beradik ini. Bukan untuk dikomersilkan, namun masker itu dibagikan gratis ke seantero penjuru Jakarta.

"Saat masker itu habis, kami malah semakin terpacu," kata Vai dengan polosnya.

Meskipun home made dan gratis, masker kain ini tetap sesuai standar kesehatan. Bagian luar bahan antiair/waterproof/ dan virus diklaim tak tembus 

"Good looking, bagian dalam kain biasa agar mudah bernafas serta ada dua model karet, yang biasa (sangkut di telinga) dan silang/ikat bag belakang kepala, easy to use for hijabers," imbuh Reyna.

Dikirim ke Tanjungpinang

 

Mereka tetap melanjutkan proyek kemanusiaan itu. Tak hanya berdua dengan kakaknya, namun kini Vai dibantu dua orang lagi yang merupakan asisten ibunya di usaha konveksi.

Ribuan lembar masker kain pun diproduksi. Tak hanya merambah Jakarta, namun masker kain itu juga terbang hingga Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

"Kebetulan ada tante kami yang tugas di RSUD Tanjungpinang, yakni dokter Sandra Nora. Jadi kami kirim ke sana," kata Reyna.

Paket masker kain bikinan Vai dan Reyna yang dikirimkan ke Tanjungpinang. 

Selain Tanjungpinang, masker bikinan kedua anak ini juga dikirimkan ke RS Corona di Wisma Atlet Jakarta, berikut dengan bantuan berupa makanan bagi para tenaga medis yang bertugas. 

Baik Vai ataupun Reyna mengaku tak tahu kapan akan berhenti membuat masker kain. Di saat masker kain mereka sudah dibuat hampir 5 ribu helai pada akhir April, mereka hanya terpikir bagaimana caranya tak ada lagi orang terpapar Corona gegara tak mengenakan penutup mulut.

“Satu-satunya perbedaan adalah bahwa pada Januari silam, hanya kurang dari 10% populasi Wuhan yang menggunakan masker, tapi kini sebaliknya, yang tidak memakai masker kurang dari 10% populasi Wuhan," Reyna mencontohkan.
 

(dod)