Karut Marut Pengelolaan Kepelabuhanan Picu Runtuhnya Industri Maritim Batam

Karut Marut Pengelolaan Kepelabuhanan Picu Runtuhnya Industri Maritim Batam

Ilustrasi.

DALAM pemberdayaan potensi Batam sebagai wilayah strategis ekonomi kerena letaknya yang secara geografis sangat berbeda pemahaman dan pelaksanaannya yang saat ini difahami dan jalankan dalam menggerakkan perekonomian Batam.

Misalnya sebagaimana undang-undang Kawasan Free Trade Zone dan PP 46/2007 sebagai pertimbangan dimana letak Batam di sisi jalur perdagangan internasional paling ramai di dunia dan perannya yang demikian penting sebagai salah satu gerbang dan ujung tombak ekonomi Indonesia merupakan pertimbangan utama bagi penetapan Batam sebagai Kawasan FTZ.

Memahami keunggulan Batam;

Posisi Batam yang sangat strategis merupakan “District Reserve” yang tidak dapat dinilai dengan angka namun memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan berkelanjutan. Tidak seperti daerah lain yang kaya Sumber Daya Alam (SDA) maka berbeda cara pengelolaan perekonomiannya. Menggerakkan perekonomiannya berbasis SDA yang dimiliki. Mereka dapat mengekploitasi minyak bumi mereka, Gas Alam mereka, Batubara mereka dan “multiplier effect” ekonomi yang ditimbulkannya. Tapi SDA tersebut ada batasnya akan habis pada waktunya.

Tidak seperti Batam yang hanya diberi berkah letak strategis yang justru merupakan potensi yang tidak dimiliki daerah lain bahkan negara lain. Maka apabila dikelola potensi maritim dengan baik akan memberi kemakmuran bagi rakyat dengan tetap menjaga dan terus mengembangkan sektor industri lainnya.

Di samping letaknya yang strategis, Batam telah memiliki infrakstruktur yang tersedia mulai dari pelabuhan, shipyard, teknologi, tenaga kerja trampil, rantai transportasi yang menjamin ketersediaan kebutuhan orang dan barang, berbagai hotel berbintang, kuliner dan entertainment menjadikan Batam sesuai untuk dijadikan tempat yang ideal bagi industri perkapalan dan pelayaran.

Letak geografis Batam yang unik dan khusus menjadikan posisinya begitu sentral, karena dapat dijadikan sebagai pintu gerbang bagi arus masuk investasi, barang, dan jasa dari luar negeri yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Mengingat letaknya tepat pada jalur kapal laut internasional maka kawasan Batam dapat menjadi pusat pelayanan kapal-kapal domestik maupun internasional. Karena strategis itulah maka Batam menjadi “sexy” akan tetap dilirik dan tidak mungkin ditinggalkan dalam kondisi apapun.

Pertumbuhan Ekonomi Batam di Masa Krisis Ekonomi Global

Selama periode 1995-1997 ekonomi Batam tumbuh pesat dengan angka pertumbuhan 17,41% (1995), 18,09% (1996), dan 13,55% (1997), jauh di atas pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional pada periode yang sama.

Pada 1998, di saat terjadi gejolak ekonomi dunia mengalami laju pertumbuhan negatif, Batam masih mampu tumbuh sebesar 3,08%, jauh diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang (negatif) -14,78%.

Pada 1999, sementara ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 0,35% ekonomi Batam tumbuh di angka 5,49%.

Berdasarkan data; dari jenis investasi yang masuk ke Batam selama periode tersebut, sebanyak 50,83% bergerak di sektor industri meliputi manufaktur perakitan elektronik, perkapalan, pabrikasi anjungan lepas pantai/ off-shore dan industri penunjang minyak & gas.

 

Tingginya investasi swasta asing dan domestik yang masuk ke Pulau Batam selama periode tersebut, telah memicu arus urbanisasi pekerja yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia menuju ke Batam.

Pada masa itu, kebutuhan akan tenaga kerja sangat tinggi karena permintaan di sektor industri manufaktur yang didominasi oleh perakitan elektronik dan perkapalan, pabrikasi anjungan lepas pantai/off-shore dan industri penunjang minyak & gas.

Perekonomian dunia terus mengalami tekanan, dimulai dari krisis keuangan global pada tahun 2008-2009, diikuti oleh krisis hutang dalam negeri eropa tahun 2010-2012 dan terakhir adalah krisis harga komoditi global pada 2014 sampai 2016. Pada tahun 2017, ekonomi global mulai membaik dengan pertumbuhan 3% per tahun, angka tertinggi sejak tahun 2011.

Harga minyak turun sejak tahun 2015. Penurunan harga minyak ini menyebabkan turunnya produksi pada beberapa perusahaan pabrikasi anjungan lepas pantai dan penunjang minyak & gas di Batam.

Namun di sektor perkapalan jumlah kunjungan kapal dan beraktifitas ke Batam mencapai 51.579 kunjungan kapal niaga dan non-niaga selama tahun 2016. Itu menandakan bahwa di sektor industri perkapalan dan jasa kapal memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Batam dimasa tiga goncangan ekonomi global yakni krisis keuangan global 2008-2009 (Avg. 6%), krisis hutang dalam negeri eropa tahun 2010 - 2012 (Avg. 7,25%) dan krisis harga komoditi global 2014-2016 (Avg. 6,50%).

 

Ekonomi Batam Tetap Tumbuh di Setiap Periode Krisis Ekonomi Global

Berdasarkan data perekonomian Batam mampu tumbuh dan bertahan pada empat kali periode goncangan ekonomi global; yaitu periode krisis gejolak depresiasi berbagai mata uang dunia dan gejolak politik dalam negeri 1998, periode krisis keuangan global 2008, periode krisis global hutang dalam negeri Eropa 2010, periode krisis harga komoditi global 2014. Sebabnya adalah:

pertama;

Dengan terjadinya krisis ekonomi global menyebabkan banyak perusahaan melakukan efisensi, menurunnya permintaan di beberapa sektor industri, turunnya daya beli menyebabkan turunnya permintaan barang maupun jasa transportasi barang, turunnya permintaan service berbagai jenis kapal di industri minyak & gas; yang secara keseluruhan mengakibatkan turunnya aktifitas kapal.

Banyaknya kapal yang tidak beraktifitas di dunia menjadikan kapal dalam keadaan standby. Kapal-kapal yang idle (tidak beroperasi) membutuhkan area anchorage atau tempat “menunggu” yang aman. Tidak hanya itu, Batam yang strategis, memiliki infrastruktur pelabuhan, tersedianya supply-chain, jasa transportasi dan banyaknya galangan kapal yang menyediakan kebutuhan perbaikan dan perawatan kapal menjadikan Batam menjadi salah satu alasan.

Soft-infrastruktur dimana Batam yang merupakan Kawasan Free Trade Zone menjadikan Batam “priority” pilihan.

kedua;

Setiap kapal yang berkunjung dalam rangka selain melakukan kegiatan niaga akan membutukan docking, repairing, berbagai perawatan, ruang untuk bersandar (bagi kapal tertentu) dan bermacam kegiatan lainnya. Dengan banyaknya kapal yang berkunjung menjadi sumber pendapatan bagi shipyard dan tentunya menjamin ketersediaan lapangan kerja.
 
Ketiga;

Tiap-tiap kapal yang berkunjung ke Batam akan berkontribusi bagi perekonomian serta menciptakan multiplier-effect bagi sektor ekonomi lainnya. Bermacam-macam supply dan services yang dibutuhkan mulai dari; bunkering, provision, jasa surveyor, safety equipment, mekanikal, elektrikal, trading, bongkar/muat, transportasi, stevedoring, cargodoring, jasa kepelabuhanan, perhotelan, kuliner, entertainment, dll.

 

Fakta; Penurunan Aktifitas Kapal di Batam

Data di atas menunjukkan bahwa benar telah terjadi penurunan industri maritim dan pelayaran Batam yang berakibat pada turunnya pertumbuhan ekonomi Batam sejak tahun 2017 sampai dengan saat ini.

Grand Design
Kawasan Perdagangan Bebas & Pelabuhan Bebas Batam Adalah Sebagai Lokomotif Pertumbuhan Industri dan Barometer Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Batam ditetapkan sebagai Kawasan Free Trade Zone di design sebagai lokomotif pertumbuhan industri. Sehingga maksud kata lokomotif itu yang harus benar-benar tertanam di dalam cara pikir (mindset) penyelenggara pelabuhan. Bahwa BP Batam di design bukan untuk mencari keuntungan akan tetapi sebagai lokomotif yang akan membawa gerbong sektor industri lainnya tumbuh dan berkembang.

Ingat bahwa Grand Design-nya dibentuknya BP Batam diharapkan juga menjadi barometer pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Batam diharapkan akan memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Demikian Batam diciptakan.

Dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya perekonomian masyarakat justru akan berdampak pada meningkatnya pendapatan negara melalui Pajak baik pusat maupun daerah dan melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) maupun Retribusi Daerah. Sehingga kinerja BP Batam tidak diukur dari berapa besar penghasilan yang didapat akan tetapi seberapa besar perannya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Batam dan nasional.

Pemikiran untuk mendapatkan pendapatan sebesar-besarnya dari jasa kepelabuhanan sangat kontra-produktif dan terbukti telah membunuh industri maritim dan pelayaran kita.

Tata Kelola sektor kepelabuhanan harus di "Install" dengan programme; strategi yang tepat, penempatan orang yang berkompeten dan tahu tentang Batam dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Yang faham tentang kapal, yang mengerti tentang operasional, perundangan pelayaran dan kepelabuhanan. Yang juga sadar bahwa mereka adalah pejabat pelayanan publik yang selalu siap melayani masyarakat dan pengguna jasa. Itu kira-kira programme dimaksud.

 

Salah Kelola dan Harus Segera di-"Reset" Kembali

Sebagai daerah yang memiliki wilayah yang strategis sudah seharusnya Batam menjadi daerah yang makmur dan disegani. Namun, kenyataannya dengan potensi sumber daya maritim yang berlimpah, Batam seakan tak berdaya.

Akibat pengelolaan seperti sekarang ini yang hanya mengejar pendapatan melalui jasa kepelabuhanan dengan cara sembarangan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Tidak hanya kerugian ekonomi akan tetapi kerugian psikologis karena tidak adanya kepastian hukum dan hilangnya kepercayaan bagi kapal-kapal untuk melakukan kegiatannya di Batam.

Hilangnya kepercayaan akibat dari banyaknya pungutan diluar ketentuan Ini mengakibatkan kapal-kapal yang ingin berkunjung melihat Batam sangat “menakutkan”. Menjadikan biaya kepelabuhanan dan biaya lain yang harus ditanggung menjadi sangat mahal. Bahkan sebagian mereka bersumpah “tidak akan lagi” memasukkan kapalnya ke Batam.

Pelaksanaan kebijakan kepelabuhanan Batam yang salah menyebabkan terbunuhnya industri maritim kita. Dari 115 perusahaan shipyard di Batam, diperkirakan hanya 30 persen yang masih aktif mengerjakan proyek kapal. Sebagai industri padat karya, penurunan proyek pembuatan dan perawatan kapal menyebabkan anjloknya serapan tenaga kerja.
 
Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, tahun 2012 tenaga kerja galangan kapal di Batam mencapai 250 ribu orang. 100 ribu di berbagai industri pabrikasi angjungan lepas pantai/off-shore dan industri penunjang minyak dan gas. Sementara saat ini hanya mencapai 15 ribu orang. Sekitar 335 ribu orang di kehilangan pekerjaan.

Potensi maritim Batam itu bak tambang emas yang tidak ada habis-habisnya. Letak Batam yang strategis dan unik menjadi sumber daya berkelanjutan dan tidak dimiliki daerah lain bahkan negara lain. Tapi mengapa industri maritim kita hancur? Pasti ada yang salah..!

Fakta bahwa di periode krisis ekonomi tahun 1998, tahun 2008, tahun 2010 dan tahun 2014 Batam selamat dari krisis. Sejak tahun 2017 sampai dengan saat ini industri maritim dan pelayaran Batam jeblok (lihat statistik).

Lantas bagaimana kesiapan Batam menghadapi turunnya perekonomian yang sedang terjadi? Apa langkah kita mempersiapkan diri dari terpaan gelombang resesi jauh lebih besar yang sebentar lagi akan terjadi? Kita semua berharap industri maritim dan pelayaran bangkit kembali memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi Batam dari hantaman badai resesi ekonomi dunia yang akan terjadi.

Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Batam mendesak Kepala BP Batam dan para Deputi/Anggota Bidang-nya berani menekan tombol secara bersamaan "Ctr + Alt + Del". Ya sekarang juga..!!

Penyelenggaraan dan pengelolaan pelabuhan Batam harus di-"Reset" dan harus di-"Restart" kembali. Dan ini sebuah keniscayaan yang mutlak.

Penulis adalah Osman Hasyim, Ketua DPC INSA Batam