Penampakan Penyusutan Waduk Duriangkang, Warga: Ini Terparah

Waduk Duriangkang yang volumenya kian menyusut. Gambar diambil Rabu (11/3/2020). (Foto: Dyah/Batamnews)

Batam - Penyusutan drastis terjadi di Waduk Duriangkang akibat musim kering. Di beberapa lokasi pantauan, air di sudut bibir waduk tidak terlihat lagi.

Batamnews sempat menjumpai warga di sekitar kawasan Waduk Duriangkang. Salah satunya, Junaidi. Pria yang mengaku sudah 25 tahun tinggal di kawasan itu mengakui, penyusutan waduk saat ini yang terparah.

"Musim kemarau sebelumnya air masih ada sekitar 50 meter dari bibir waduk. Saat ini, surutnya mungkin sekitar 500 meter ke tengah," kata Junaedi saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/3/2020).

Kondisi ini dikatakan Junaidi cukup parah. Padahal biasanya di area ini air waduk masih terlihat sangat dekat ke pinggir. Tak warga sekitar memancing ikan.

"Bahkan perahu pun susah untuk berlabuh," ujar Junaedi.

Penyusutan volume air di waduk Duriangkang sudah terlihat sejak awal tahun. Kekeringan ini disebabkan musim kemarau panjang yang terjadi di kota Batam.

"Kekeringan ini sudah mulai terlihat sejak awal tahun, karena hujan sudah tidak turun sekitar 2,5 bulan," ungkapnya.

Head of Corporate Secretary PT ATB, Maria Jacobus menyebutkan, kondisi waduk Duriangkang saat ini merupakan yang terburuk sejak waduk tersebut beroperasi.

"Apalagi, setiap hari level air di waduk turun 2 cm. Batam semakin dekat dengan ancaman krisis air baku," kata Maria Jacobus

Batam sebenarnya pernah melewati krisis air. Tepatnya Saat El Nino menerpa Batam tahun 2015 silam. Saat itu, Waduk Nongsa mengalami penyusutan paling kritis dan disusul oleh Waduk Sei Harapan. El Nino memperpanjang masa kemarau tahunan yang terus dialami Kota Batam di awal tahun.

Namun krisis itu mampu dilewati dengan berbagai skema penggiliran. Dampak bisa diminimalisir, karena Waduk Duriangkang sebagai penyuplai air terbesar di Kota Batam masih bisa diandalkan untuk mengantisipasi hal terburuk.

“Kami sudah melihat bahwa kita akan mengalami potensi krisis air sejak 5 tahun lalu. Kami juga telah memberikan masukan. Sayangnya, belum ada langkah strategis yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan air baku,” jelas Maria.

Jika air menyentuh level -3,4 meter di bawah banguna pelimpah, maka IPA Tanjung Piayu dan pompa intake yang menyalurkan air dari waduk Duriangkang ke IPA Muka Kuning akan berhenti beroperasi.

Sementara bila air telah menyentuh level -5,0 meter, maka seluruh IPA Duriangkang dengan kapasitas 2.200 liter juga akan berhenti beroperasi.


Kondisi waduk

Menjelang rationing (penjatahan layanan) oleh ATB, kondisi waduk Duriangkang kian mengkhawatirkan.

Kedalaman penyusutan debit air di setiap sudut Dam Duriangkang berbeda, tergantung dari kedalaman Dam.

Seperti halnya di bibir waduk area Mukakuning, air sudah tidak terlihat lagi dari pinggir waduk. Kini yang terlihat di area tersebut hanya eceng gondok dan tanaman liar.

Sedangkan di bibir waduk dari area Kelurahan Mangsang Sei Beduk, air hanya terlihat di ujung waduk. Biasanya di area ini air masih terlihat sangat dekat, sehingga tak jarang digunakan untuk memancing ikan oleh warga.

Di Spill Way Duriangkang, air juga terlihat mengering dan dipenuhi eceng gondok. Sedangkan bagian bibir waduk juga mengalami penyusutan yang cukup jauh sekitar 50 Meter. Sebelumnya air menyentuh dinding pembatas waduk.

Air yang masih menggenang di waduk Duriangkang hanya di area perbatasan Duriangkang dan Punggur. Di sini air masih menggenangi dinding pembatas antara waduk dan laut.

Setiap harinya Dam Duriangkang mengalami penyusutan 2 Cm. Jika level air mencapai titik minus 3,4 meter di bawah bangunan pelimpah air, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tanjung Piayu dan pompa intake yang menyalurkan air ke IPA Mukakuning akan berhenti beroperasi.

"Di titik minus 3,23, PT ATB berdasarkan saran Badan Pengusahaan (BP) Batam harus melakukan rationing untuk memperpanjang umur DAM,"

Jika tidak dilakukan rationing, usia waduk diperkirakan hanya sampai 13 Juni 2020. Proses rationing yang dijadwalkan mulai 15 Maret 2020 ini, diprediksi mampu memperpanjang usia dam setidaknya hingga 6 Juli 2020 menunggu musim hujan hingga diharapkan volume waduk kembali terisi.

(das)