Diterpa Gelombang, Siswi Berjam-jam Menangis untuk Sampai ke Sekolah

Sejumlah siswa berada di atas pompong yang membawa mereka menyeberangi lautan untuk pergi ke sekolah (Foto: Batamnews)

Lingga - Angin kencang dan ombak tinggi terjadi pada musim angin selatan di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai daerah memiliki banyak pulau, anak-anak sekolah di Lingga menggunakan pompong sebagai transportasi untuk sampai ke rumah. Seperti di Kecamatan Bakong Serumpun.

Bakong Serumpun merupakan kecamatan baru di Lingga. Hanya ada satu sekolah menengah. Sekolah ini berada di Desa Rejai. Sejumlah anak sekolah terpaksa harus menyeberangi lautan dengan pompong untuk sampai ke sekolah.

Mereka berjibaku dengan laut,  gelombang dan badai. Namun tak membuat mereka patah arang.

Pelajar yang biasa menggunakan kapal pompong untuk bisa sampai ke sekolah ini, diketahui berasal dari sejumlah desa seperti Desa Baran, Desa Selat Buaya, Desa Mabung, Mamut, dan berbagai desa lainya. 

Pompon menjadi satu-satunya alat transportasi mereka. Namun cobaan datang ketika musim angin selatan disertai angin kencang tiba. 

Siswa yang berada di pulau-pulau sering ketakutan. Pompong yang mereka tumpangi oleng-oleh diterpa gelombang dan angin kencang. Bahkan tak jarang para siswa itu menangis.

“Kami biasa pakai kapal pompong untuk bisa sampai ke sekolah,” ujar salah satu siswa SMP ini.

Ia pun mengaku sudah terbiasa untuk menggunakan transportasi laut untuk bisa mengenyam pendidikan tingkat menengah.

Hal yang berbeda bagi warga bukan pulau yang terbiasa menggunakan kendaraan bermotor karena satu daratan.

Ia mengatakan, kendala cuaca kerap menjadi kendala meski hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Rapna Aulia salah seorang pelajar dari Selat Buaya mengatakan, gelombang saat ini memang cukup besar.

”Kalau mau ke sekolah, ada pompong disiapkan pemerintah. Dan cuaca saat ini sedang musim angin” katanya. Hanya saja ketika angin kencang mereka kadang sampai menangis.

Rapna, mengaku ketakutan bahkan sampai menangis ketika angin kencang disertai ombak tinggi sedang terjadi.

“Ya Pak, saya sampai menangis. Air laut masuk ke dalam pompong. Kapal oleng-oleng,” cerita Rapna.

Siswi kelas VIII di SMPN 2 Senayang ini menuturkan kalau musim angin Selatan saat ini, gelombang di laut lebih kuat dan tinggi. Jika biasanya sampai ke sekolah hanya satu jam, namun ketika musim angin dan gelombang ini, jarak tempuh menjadi satu setengah jam.

“Ya pak, sampai ke sekolah jadi satu setengah jam. Pompong jadi lambat," ujarnya.

Pompong yang mereka tumpangi merupakan bantuan dari pemerintah. Didalam Pompong memang telah disiapkan life jacket.

“Ada sih Pak life jaketnya. Dan saya memang tidak pandai berenang,” ujar Rapna.

Kendari demikian, angin kencang disertai gelombang tinggi memang sudah biasa anak-anak pulau Lingga menempuh gelombang tinggi. 

Jangan bermain di Pompong

Pak Selamat, salah satu warga yang membawa pompong siswa dari Baran ke Rejai mengaku siswa-siswi ini sudah sering mereka tegur agar berhati-hati ketika sedang di dalam pompong.

Selamat mengaku khawatir jika siswa bermain-main di dalam pompong. Apalagi ketika musim angin selatan saat ini.

“Kita takut mereka jatuh,” tutur Selamat.

Karena jika ada hal-hal tidak diinginkan, Selamat menyebut itu akan menjadi tanggungjawabnya. Sudah 10 tahun Selamat membawa pompong mengantari siswa sekolah.

“Alhamdulillah, memang belum ada kejadian-kejadian siswa jatuh. Karena saya sering ingatkan siswa ini,” sebutnya.

SMPN 2 Senayang merupakan satu-satunya sekolah menengah yang ada di Kecamatan Bakong Serumpun. Siswa di sekolah ini banyak berasal dari pulau-pulau sekitarnya.

(aan)