Dampak Negatif Perkebunan Sawit, Alias Wello Sebut Rakus Air

Dampak Negatif Perkebunan Sawit, Alias Wello Sebut Rakus Air

Bupati Lingga, Alias Wello (Foto:ist)

Rhuuzi Wiranata

Lingga - Bupati Lingga, Alias Wello percaya bahwa perkebunanan sawit sangat rakus terhadap ketersedian air di dalam tanah. Karena hal itu lah pria yang akrab disapa Awe tersebut menolak keras masuknya perkebunan sawit di Negeri Bunda Tanah Melayu.

Menurutnya, jika air dalam tanah terkuras habis, akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Bukan malah menguntungkan, tapi nantinya bisa menyebabkan masyarakat semakin kesulitan.

"Untuk itu kawasan hutan lindung yang merupakan daerah penyanggah air dan resapan air harus benar-benar dijaga dan steril dari berbagai kepentingan. Ini semua untuk hajat hidup masyarakat, sehingga stok air kita tetap tersedia," kata Awe disela-sela Musrenbang Provinsi Kepri di Tanjungpinang, Kamis (28/3/2019).

Penolakan yang dilakukan pria berdarah Bone ini terhadap masuknya perkebunan sawit juga sejalan dengan keluarnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor : 8 Tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Presiden sudah bicara panjang lebar mengenai komoditas kelapa sawit yang dipertentangkan di pasar Eropa. Belum lagi, sudah ada Inpres yang melarang adanya penerbitan izin baru pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit," ujarnya.

Ia mengaku sangat terbuka dengan investasi di bidang perkebunan, namun tetap harus mengutamakan aspek keseimbangan lingkungan. Dengan begitu, ia meminta kepada calon investor untuk bisa memahami kebijakan yang sudah ditetapkan oleh daerah.

Sebenarnya, kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit, bermanfaat bagi masyarakat setempat untuk memperoleh pekerjaan demi pemenuhan kebutuhan hidup. Disisi lain, perlu diketahui bahwa segala sesuatu yang dilakukan di Planet ini pasti ada dampak baik dan buruknya.

Sejauh ini, hanyalah dampak menguntungkan dari sawit yang ditemui. Sementara dampak negatif dari perkebunan kelapa sawit minim ditemukan informasinya. Padahal dampak negatif yang di timbulkan dari pembukaan lahan secara besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit beragam.

Kabut asap yang rutin melanda beberapa wilayah di Indonesia disebabkan karena pengalihan lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Ironisnya, pengalihan lahan itu menggunakan cara-cara yang tidak ramah lingkungan seperti pembakaran.

Selain itu, jika diteliti, adanya perekebunan kelapa sawit, sebenarnya tidak begitu menguntungkan alias merugikan. Berikut 6 dampak buruk yang disebabkan adanya perkebunan kelapa sawit dilansir Batamnews.co.id dari Liputan6.com.

 1. Kerusakan ekosistem hayati

Kelapa sawit bukan merupakan ekosistem hayati sebagaimana hutan. Hewan-hewan yang bisa hidup di perkebunan kelapa sawit pun rata-rata hanya hewan perusak tanaman, seperti babi, ular, dan tikus. Dibanding, kelapa sawit, hutan jauh lebih penting keberadaanya.

2. Pembukaan lahan dengan cara dibakar

Meskipun sudah dilarang, faktanya pembukaan lahan seringkal dilakukan dengan cara tebang habis atau (land clearing). Seperti yang terjadi di Jambi beberapa tahun lalu, kabut asap yang menyelimuti kota, akibat pembakaran hutan untuk alih fungsi lahan kelapa sawit.

3. Kerusakan unsur hara dan air dalam tanah

Peneliti lingkungan dari Universitas Riau, Ariful Amri Msc, pernah meneliti kerusakan tanah karena perkebunan kelapa sawit. Penelitian itu menyimpulkan bahwa, dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah.

4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas

Hama migran ini, muncul karena ekosistem yang terganggu. Jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan  karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.

5. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal antarwarga

Tahun 2014 silam, beberapa warga di Kalimantan bentrok dengan aparat lantaran tanah mereka akan dialihfungsikan menjadi perkebenunan sawit. Selain itu ada pula konflik antarwarga yang menolak dan yang menerima masuknya perkebunan sawit.

6. Bencana banjir dan kekeringan

Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Bahkan di musim kemarau tak ayal wilayah itu akan mengalami kekeringan, karena sifat dari pohon sawit yag menyerap banyak unsur hara dan air dalam tanah.

(ruz)

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :