Menkeu, Kapolri, Panglima TNI Pamer Pengungkapan Kasus Penyelundupan di Batam

Menkeu, Kapolri, Panglima TNI Pamer Pengungkapan Kasus Penyelundupan di Batam

Ekpos pengungkapan kasus penyelundupan oleh Menkeu, Kapolri, Panglima TNI dan pejabat lainnya di Pelabuhan Batu Ampar, Batam. (Foto: Johannes Saragih/Batamnews)

Batam - Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan program Penertiban Impor, Cukai, dan Ekspor Berisiko Tinggi (PICE-BT) yang digagas pemerintah berhasil menekan peredaran barang selundupan.

Sri Mulyani mengatakan keberhasilan ini berkat sinergi beberapa kementerian dan aparat penegak hukum.

"Saya berterima kasih khususnya kepada Bapak Panglima TNI (Marsekal Hadi Tjahjanto), terutama pada operasi di laut, di berbagai wilayah di Indonesia timur juga. Saya juga berterima kasih kepada Pak Kapolri (Jenderal Tito Karnavian) atas dukungannya yang luar biasa. Kepada Bea-Cukai juga atas kerja kerasnya," kata Sri Mulyani di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (15/1/2019).

Dalam kegiatan ini, hadir Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Ketua KPK Agus Rahardjo, serta Jaksa Agung M Prasetyo.

Sri menerangkan sejak program PICE-BT dijalankan, terdapat penurunan entitas importir berisiko tinggi sebesar 46 persen. Kemudian kenaikan tax base mencapai 62 persen.

 

Panglima TNI bersama Kapolri dan Menko Maritim melihat barang bukti penangkapan kasus penyelundupan yang diungkap Bea Cukai. (Foto: Johannes Saragih/Batamnews)

 

"Kita di sini bersama-sama untuk melihat salah satu hasil pelaksanaan dari kolaborasi, kerja sama yang luar biasa antara Bea-Cukai, TNI, dan Polri dalam rangka pengamanan pantai timur Sumatera dan Pulau Batam," terang Sri.

Sri menjelaskan barang bukti penegakan hukum terhadap tindak penyelundupan di pantai timur Sumatera antara lain minyak, rokok, narkoba, minuman keras, hingga mobil mewah.

"Pada hari ini juga, ada di kapal ini merupakan hasil dari tangkapan Bea-Cukai terhadap kapal penyelundup solar, bahan bakar diesel, sebesar 1.500 ton atau 1.500 kiloliter," tutur Sri.

Sementara itu, Tito menuturkan target awal program PICE-BT adalah penyelundupan melalui pelabuhan resmi. Namun, setelah dilakukan berbagai penangkapan di pelabuhan resmi, para penyelundup beralih ke pelabuhan tidak resmi atau pelabuhan tikus.

"Dampaknya para pelaku penyelundupan lari dari pelabuhan-pelabuhan resmi ke pelabuhan tidak resmi, yaitu yang paling rawan adalah pantai timur Sumatera karena dekat dengan negara tetangga. Terutama Kepri, Batam dan sekitarnya, Aceh, Sumatera Utara, Jambi, sampai Sumatera Selatan," jelas Tito.

 

Pelaku penyelundupan yang tertangkap juga dihadirkan dalam ekspos kasus tersebut. (Foto: Johannes Saragih/Batamnews)

Tito menerangkan tindak penyelundupan terbagi menjadi dua jenis yaitu penyelundupan administrasi dan penyelundupan fisik.

"Penyeludupan administrasi, jadi barang yang masuk, administrasinya tidak benar. Contohnya mobilnya Ferrari tapi dokumennya mobil A. Kedua, penyelundupan fisik, jadi jelas-jelas nggak ada surat, masuk melalui jalur-jalur pelabuhan tikus," papar Tito.

(*)