Outlook Ekonomi Kepri 2019 Memacu Pertumbuhan

Menghapus Bayangan De-industrialisasi

Suyono Saputro (Foto: Batamnews)

Pegatron, perusahaan perakit Iphone asal Taiwan, dipastikan akan memindahkan produksi salah satu komponennya dari China ke Batam. Keputusan ini diambil sebagai dampak perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang menyebabkan produk asal China harus terkena tarif impor tinggi ke AS.

Kabar gembira ini tentu saja menjadi penutup tahun yang manis bagi penguatan daya saing Batam sebagai kawasan alternatif untuk menampung industri yang ingin relokasi dari China atau AS.

Sebagaimana artikel saya sebelumnya, efek perang dagang mulai menekan industri di kedua negara yang sedang bersitegang sehingga harus mencari alternatif basis produksi untuk menghindari tarif impor yang mencekik.

Batam dengan segenap keistimewaannya tentu berharap berkah dari perang dagang ini, selain untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan, kehadiran industri manufaktur pulau ini juga akan memperkokoh tulang punggung ekonomi Batam.

Ekonomi Batam saat ini masih ditopang oleh sektor industri, sehingga kehadiran investasi langsung di sektor ini jelas memberikan efek yang signifikan bagi penciptaan lapangan kerja dan juga pertumbuhan ekonomi kawasan.

Batam juga memberikan kontribusi hampir 70% terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri sehingga perlambatan yang dialami pulau ini maka melambat pula ekonomi Kepri. Contohnya pada dua tahun terakhir.

Pada 2017 lalu, ekonomi Kepri sempat melorot dari 5,03% pada 2016 menjadi 2,07% pada 2017. Seharusnya tahun 2018 ini pertumbuhan bisa membaik menjadi 5% atau setara pertumbuhan rata-rata nasional. 

Namun, sampai kuartal tiga lalu, ekonomi Kepri hanya mampu mencapai level 3,78% dan diproyeksikan sampai akhir tahun nanti tak lebih dari 4% saja.

Beberapa indikator ekonomi menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan dan cenderung paradoks. Angka realisasi investasi, menurut data Bank Indonesia, meningkat namun tidak diikuti dengan realisasi net ekspor yang tumbuh negatif.

Ini cukup aneh, seharusnya investasi langsung (foreign direct investment) oleh perusahaan manufaktur atau sejenisnya memberikan dorongan terhadap ekspor, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pada kesempatan lain, angka pencari kerja juga menunjukkan angka yang singnifikan. Pertumbuhan investasi ternyata tidak berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja.

Berbagai tekanan ini membuat ekonomi Kepri melorot hingga posisi 9 dari 10 provinsi di Sumatera. Kepri dengan empat kawasan perdagangan bebas justru kalah dibandingkan Bangka Belitung yang memimpin pertumbuhan ekonomi di Sumatera dengan 7,09%.

Membaca angka indikatif makro tersebut, apakah kita masih optimistis mampu mencapai target pertumbuhan tahun depan sebesar 7% sebagaimana target yang dicanangkan oleh Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo?

Target realistis

Kepala Bank Indonesia Gusti Raizal Eka Putra dalam pidato akhir tahunnya pekan lalu, memaparkan data proyeksi ekonomi Kepri 2019 sebesar 4,2% – 4,6%, jauh dibawah target 7%. Beberapa faktor eksternal diperkirakan masih menekan laju ekonomi Kepri, kendati Gusti masih optimis keadaan bisa saja berbalik.

Penulis memprediksikan empat sektor pendorong utama masih memberikan kontribusi positif yaitu sektor konstruksi dan properti, industri manufaktur, pertambangan, dan pariwisata. Sektor properti dan konstruksi diperkirakan masih positif hingga 2020 mendatang.

Beberapa proyek apartemen dan hotel masih terus berlanjut baik dalam proses konstruksi maupun proses penyelesaian akhir. Membaiknya permintaan produk perumahan juga berkontribusi terhadap penguatan PDRB.

Sementara itu, industri manufaktur diperkirakan masih akan memperoleh berkah dari dampak perang dagang AS –China walaupun kedua negara sepakat untuk cooling down selama enam bulan ke depan.

Masuknya Pegatron ke Batam memberikan implikasi positif bagi penguatan daya saing pulau ini. Kita berharap ini menjadi awal bagi berpindahnya industri lain dari China. Namun demikian harus diingat, pesaing kita juga cukup berat, karena Vietnam, Malaysia, dan Thailand yang juga menawarkan insentif lebih menarik.

Kita berharap pemerintah dan pengelola kawasan cukup jeli melihat keadaan dengan membuat serangkaian insentif fiskal dan non-fiskal selain insentif yang sudah ada. 

Peresmian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution akhir pekan lalu juga membawa angin segar bagi pertumbuhan Kepri secara keseluruhan. Investasi yang digelontorkan pada tahap awal pembangunan diharapkan mampu mendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lain di Bintan.

Kendati 60% ekonomi Kepri ditopang oleh Batam, namun kabupaten/kota lain juga harus berbenah untuk mendorong pertumbuhan provinsi ini. Berbagai sektor unggulan butuh penguatan seperti perikanan dan pariwisata.

De-industrialisasi?

Dalam diskusi panel pada Pertemuan Akhir Tahun Bank Indonesia pekan lalu, sempat mengemuka pertanyaan apakah sektor industri akan tetap mendominasi pada 2019 dan tahun tahun berikutnya, atau kita mulai mengalihkan harapan pada sektor pariwisata, perdagangan, dan properti.

Melihat komposisinya yang masih dominan, sangat berbahaya jika industri diterlantarkan dan pengelola kawasan hanya fokus dalam penyelenggaraan event wisata. Penulis menilai sektor industri masih signifikan dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kontribusi sektor pariwisata dalam PDRB pun belum terlalu besar sehingga pada beberapa tahun ke depan pun sektor ini belum bisa diandalkan untuk menjadi tulang punggung ekonomi.

Penulis menemukan fakta tren de-industrialisasi yang cukup mengkhawatirkan. Selama 12 tahun terakhir, porsi sektor industri pengolahan terhadap PDRB terus tergerus dari 63,24% pada 2004 melorot jadi 38,57% pada 2012 dan terakhir menjadi 36,75% pada 2018. Sektor yang justru meningkat adalah perdagangan dari 6,86% menjadi 8,56% dan sektor konstruksi dari 17,58% menjadi 18,38%.

Mungkin terlalu ekstrem jika Batam dikatakan sedang menuju de-industrialisasi, tapi tanda-tanda ke arah sana sudah jelas terlihat. Belum lagi jika kita melihat data alokasi lahan di Batam ternyata lebih besar untuk sektor properti dibandingkan untuk sektor industri.

Sebab harus diingat, empat tolak ukur keberhasilan kawasan FTZ adalah untuk mendorong investasi industri, menggenjot ekspor, menciptakan lapangan pekerjaan, dan terjadinya alih teknologi. Jangan sampai kita bergeser dari misi utama pengembangan pulau ini.

Roadmap Industri

Sebagai upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan memperkuat porsi industri di kawasan perdagangan bebas Batam, Bintan, Karimun, saya berkesimpulan sudah saatnya para pengelola kawasan memikirkan dengan serius arah pengembangan industri masa datang.

FTZ Batam tentu harus berevolusi menjadi kawasan industri yang berorientasi pada sektor bernilai tambah dan berbasis inovasi teknologi. Kawasan-kawasan innovation park dan techno digital-park berbasis platform harus mulai dikembangkan agar industri bernilai tambah bisa masuk ke Batam, atau di beberapa negara tahapan ini dikenal dengan Zone 3.0.

Kawasan FTZ lain di Kepri juga harus berbenah memperbaiki kualitas kawasan sehingga mampu bersaing dan menjadi pilihan bagi investor asing. Tidak saja soal infrastruktur dasar, tapi juga pola pemasaran dan promosi kawasan juga harus diperbaiki.

Membangun ekosistem industri juga perlu dipercepat, tidak saja bagi industri perakitan elektronik tapi juga industri berat, galangan kapal, dan fabrikasi. Memperbaiki kualitas rantai pasok dan rantai nilai sehingga industri pendukung juga dapat berkembang.

Namun yang terpenting dari itu semua adalah sektor mana yang akan dipilih untuk ditumbuhkembangkan atau sektor mana yang dipilih untuk menopang industri. Apakah gejala de-industrialiasi ini akan dilanjutkan hingga akhirnya porsi industri terhadap PDRB terus tergerus digantikan oleh sektor lain, contohnya pariwisata?

Mengutip tanggapan Staf Khusus Presiden RI Prof. Ahmad Eriani Yustika, fokus bukan berarti terpusat pada satu pilihan, tapi juga bisa dua atau lebih. Saya justru melihat, industri tetap harus dipertahankan dan diperkuat namun harus ditopang oleh sektor potensial lain seperti pariwisata (termasuk perdagangan) dan properti/konstruksi.

Kualitas industri yang masuk juga harus diperhatikan, pengembangan sektor pariwisata difokuskan pada penciptaan atraksi wisata yang dapat menyedot wisatawan dalam jumlah besar dan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat. Ada banyak contoh daerah yang berhasil mengembangkan konsep tersebut.

Pada akhirnya kita berharap upaya-upaya sistematis dan strategis dapat menjadi daya dorong dan daya tarik bagi penciptaan nilai Batam dan Kepri sebagai tujuan investasi dan pariwisata. 

Ada baiknya kita tidak lagi terjebak dalam pencapaian angka-angka indikatif tapi substansi pertumbuhan ekonomi justru terlupakan. Mari kita songsong pertumbuhan ekonomi Kepri yang berkelanjutan!

Penulis adalah akademisi Universitas Internasional Batam dan Staf Ahli Bidang Ekonomi Kadin Provinsi Kepri, berdomisili di Batam

SHARE US :
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait