https://www.batamnews.co.id

Daun Sirih, CEO McDermott, dan Investasi Rp 11 Triliun

David Dickson, Presiden & Chief Executive Officer McDermott International bersama sejumlah bos McDermott Asia Pasifik disambut tari persembahan di Batam, Selasa (16/10/2018). 

Selasa pagi, sekitar pukul 10.00, President & Chief Executive Officer McDermott International David Dickson menjejakkan kakinya di Batam, Kepulauan Riau.

Kedatangan David Dickson terasa istimewa. Orang nomor satu di McDermott global ini dikawal patroli polisi hingga ke kantor McDermott Batam Indonesia di Batu Ampar.

Ia datang bersama sejumlah petinggi McDermott global lainnya. Setiba di lobby Grha Anambas, Dickson langsung disambut tari persembahan dari sejumlah penari yang tampak anggun dibalut busana melayu, dengan riasan mencolok.

Para penari terlihat lincah menari di ruangan yang cukup padat itu.

Sembari berdiri, Dickson terlihat masih canggung disuguhi tarian persembahan itu. Namun senyumnya tetap semringah, dan tampang cool terpasang di wajahnya, melihat aksi tarian khusus penyambut tamu itu.

Tak lama setelah suara musik yang mengiringi berada di ujung, Dickson disuguhi nampan yang berisi daun sirih — berikut pernak-pernik lainnya — sebagai penghormatan bagi tamu istimewa.

Baca juga: McDermott Menggeliat, Bangkitnya Industri Raksasa di Batam

Maklum saja, Dickson datang ke Batam, untuk meluncurkan proyek 'Tyra Redevelopment Project' senilai sekitar Rp 7,5 triliun hingga Rp 11 triliun.

Begitu menerima daun sirih, Dickson sedikit mengutil ujung daun sirih. Diikuti beberapa bos McDermott lainnya yang tiba bersama Dickson. 

Namun Dickson tampak bingung. Ia justru mengantongi daun sirih itu, tindakan Dickson itu juga diikuti beberapa orang lainnya. Mereka pun tampak sedikit tertawa dalam suasana bingung.

Beberapa yang melihat kejadian itu tampak tersenyum simpul. Barangkali karena tak biasa dan takut bibirnya memerah, Dickson mengurungkan niatnya mengunyah sirih tersebut. Lagi pula, mungkin baru kali itu Dickson disuguhi sirih.

Dickson mengungkapkan kedatangannya ke Batam penuh arti. Proyek Tyra menjadi proyek pertama yang terbesar bagi McDermott, setelah sempat vakum tiga tahun belakangan, tanpa proyek baru, setelah terimbas krisis ekonomi global.

Melemahnya ekonomi global tentunya juga dirasakan McDermott yang menggantungkan proyek terhadap orderan dari benua Eropa.

"Setelah mengalami penurunan tiga tahun belakangan, proyek ini menjadi sangat penting bagi McDermott, kami juga punya komitmen yang kuat untuk mengerjakan," ujar Dickson.

Bersama Dickson, turut juga hadir Ray Regan Director of Batam Fabrication Operation McDermott dan Ian Prescott Senior Vice President, Asia Pacific for McDermott di Batam.

McDermott yang sudah beroperasi sejak tahun 1970 di Batam, menurut Dickson, sudah sangat nyaman menjadikan Batam sebagai basis utama penyelesaian proyek mereka.

"Saya sudah beberapa kali datang ke Batam," ujar Dickson. Namun kali ini tampaknya cukup berbeda.

Proyek senilai USD 500 Dollar hingga USD 750 Dollar itu membuatnya kembali ke Batam. Masih ada beberapa proyek lainnya yang akan dikerjakan McDermott yang kini merger dengan CB&I itu.

Proyek ini juga dapat menampung sekitar 6.000 karyawan baru. Pengerjaan proyek itu akan memakan waktu selama tiga tahun atau hingga tahun 2021 mendatang. Dan setelah itu, McDermott sepertinya tetap menargetkan mendapatkan proyek baru. "Tapi masih rahasia," ujar Dickson kepada batamnews.co.id, Selasa (16/10/2018).

(snw)